Sukses

Gemar Makan Mi Ramen Instan? Waspadai Ini

Mengonsumsi mi ramen instan memang enak dan praktis. Namun ada hal yang perlu Anda waspadai jika Anda gemar makanan ini.

Klikdokter.com, Jakarta Mi ramen adalah salah satu kuliner khas Jepang yang cukup populer di Tanah Air. Saking populernya, mi ramen juga dijual di Indonesia dalam bentuk instan alias cepat saji. Sesuai namanya, mi ramen instan dalam kemasan sangat mudah, dan praktis saat dimasak. Namun tetap saja, terlalu sering mengonsumsi mi ramen instan dapat berefek buruk pada tubuh Anda.

Menurut dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter, terlalu sering mengonsumsi mi, tanpa divariasikan dengan makanan lain, tidak bagus untuk tubuh. Dia menjelaskan, itu karena mi berbahan dasar tepung terigu (gandum) yang masuk dalam golongan karbohidrat.

“Jadi sebagai sumber tenaga, mi merupakan salah satu sumber yang cukup baik. Namun yang kurang dari mi adalah kandungan seratnya yang sangat minim. Makanan berserat tentu jauh lebih baik karena makanan yang tidak berserat akan diserap dan dijadikan lemak sehingga memudahkan seseorang menjadi obesitas,” ujar dr. Mega.

Obesitas alias kelebihan berat badan, menurutnya, dapat merembet ke berbagai penyakit, seperti sumbatan pada jantung dan diabetes melitus. Selain minim kandungan serat, MSG, kandungan pengawet, dan pewarna pada mi instan juga mesti Anda waspadai.

Mi ramen instan minim protein dan serat

Dilansir dari Readers Digest, sebagian besar porsi mi instan mengandung lebih dari 1.100 miligram sodium. Jumlah ini melebihi takaran yang dapat Anda makan per hari. Ketika Anda mencerna banyak natrium dalam satu kali makan, tubuh akan mempertahankan lebih banyak air yang lantas menimbulkan sensasi kembung serta badan lemas.

Saat perut kembung, kemungkinan besar Anda tidak akan merasa kenyang. Mi instan yang kaya karbohidrat olahan serta minim protein dan serat, dapat menyebabkan gula darah Anda melonjak. Akibatnya, Anda akan segera lapar dan siap untuk makan lagi. Lama-kelamaan, kondisi ini dapat mengarah pada kenaikan berat badan.

Braden Kuo, dokter dari Massachusetts General Hospital, melakukan penelitian dengan menggunakan kamera seukuran pil untuk merekam saluran pencernaan para sukarelawan yang makan mi ramen olahan dan yang dibuat secara alami. Apa yang terjadi?

Ketika dimakan setelah dua jam, mi yang dibuat secara alami akan hilang karena usus berhasil mencernanya dengan baik. Sebaliknya, mi ramen instan masih utuh di dalam usus dua jam setelah dimakan. Penemuan ini memang belum dapat dijelaskan secara logis, tapi Anda bisa melihat perbedaannya secara signifikan.

Kurangi konsumsi mi instan

Banyak penelitian medis yang telah menyimpulkan bahwa makanan instan, termasuk mi, terkait dengan penyebab kesehatan yang buruk. Studi lain yang dilakukan peneliti Harvard School of Public Health, menemukan bahwa orang—terutama wanita—yang makan mi instan setidaknya dua kali seminggu, memiliki risiko 68 persen lebih mungkin mengalami gangguan sindrom metabolisme dibandingkan dengan mereka yang makan mi olahan alami. Gangguan sindrom metabolisme adalah kombinasi gejala yang meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung

“Jadi, prinsip utamanya adalah mengonsumsi makanan secara tidak boleh berlebihan dan harus bervariasi agar kebutuhan nutrisi tubuh terpenuhi dengan seimbang,” tutur dr. Mega.

Jadi, makan mi ramen instan sesekali tidak akan merusak kesehatan Anda. Namun daripada mengonsumsi mi instan, Anda dapat memakan mi ramen yang tidak menggunakan bahan pengawet, MSG, dan pewarna. Tapi ingat, tetap imbangi menu harian Anda dengan variasi makanan lain yang mengandung serat, seperti sayur dan buah.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar