Sukses

Amankah Memberi Makanan Kaleng untuk Anak?

Dengan alasan menghemat waktu, makanan kaleng kerap dijadikan pilihan untuk menyiapkan makanan untuk anak. Amankah hal ini dilakukan?

Klikdokter.com, Jakarta Saat Anda mengunjungi supermarket, begitu banyak varian makanan kaleng yang ditata di rak-rak. Mulai dari ikan sarden, daging kornet, hingga buah dan sayur, semua tertata rapi dan cantik. Tak hanya praktis, berbagai merek menawarkan rasa yang gurih. Tak heran, kini pun banyak orang tua yang menyajikannya sebagai menu makan anak.

Jenis makanan kaleng ini sering dimanfaatkan oleh orang yang tidak punya banyak waktu untuk memasak hidangan, tetapi suka menyimpan makanan dalam waktu yang lama. Karena selain dapat diolah dalam waktu singkat, makanan kaleng juga cukup awet disimpan.

Sehingga, kapan saja setelah Anda pulang bekerja, Anda tinggal membuka ikan atau daging merah kalengan ke suatu wadah dan menghangatkannya di microwave. Namun, bijakkah jika Anda juga memberikan makanan kaleng itu untuk si Kecil?

Bahaya makanan kaleng yang perlu Anda ketahui

Dilansir dari Parents.com, bahan makanan yang dikalengkan umumnya berisiko tinggi terpapar Bisphenol A (BPA), yaitu bahan kimia yang digunakan untuk melapisi kaleng dan kemasan plastik untuk mencegah kontaminasi karat.

Dan menurut Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, jika anak-anak menelan bahan makanan yang sudah terpapar BPA, kemungkinan mereka terkena obesitas semakin tinggi.

Penyebabnya, dalam satu kaleng makanan, khususnya sup kalengan, kacang-kacangan, dan sayuran dapat mengandung kadar sodium yang amat tinggi, yakni bisa mencapai 23 persen.

Jika Anda pikir bahwa dengan membilasnya sudah bisa menghilangkan efek sodium tersebut, Anda salah. Karena dengan membilas lalu mengeringkan, tak cuma kadar garamnya yang hilang, beberapa nutrisi pada makanan tersebut juga akan hilang. Jadi, serba salah, bukan?

Itulah mengapa sebaiknya Anda pikir-pikir dulu sebelum memberikan makanan kaleng kepada si Kecil.

1 dari 3 halaman

Makanan kaleng berisiko picu perubahan gen

Sedangkan pada ibu hamil, dampak terburuk dari terlalu sering mengonsumsi makanan yang dikalengkan dan sudah terpapar BPA adalah keguguran.

Kalaupun ibu hamil tidak sampai keguguran, ketika anak yang dilahirkannya telah berusia 3 tahun, ada kemungkinan anak tersebut akan menunjukkan gangguan perilaku, seperti hiperaktif dan gangguan kecemasan.

Lebih dari itu, anak-anak yang terlampau sering mengonsumsi makanan kalengan yang mengandung BPA juga dapat mengalami perubahan pada proses pembentukan gen. Sehingga, tak menutup kemungkinan bahwa perilaku seksual anak tersebut juga menjadi terganggu.

Dikutip dari KlikDokter, sebenarnya sampai saat ini, jumlah aman untuk terkena BPA masih belum bisa ditentukan. Meskipun ada beberapa penelitian yang menyarankan kadar minimum, tetap saja terkena BPA dalam kadar rendah juga sudah mampu memengaruhi jaringan sel otak, khususnya pada anak-anak.

Jadi, misalkan Anda ingin memberikan nutrisi bagi otak kepada buah hati dengan menyajikan hidangan ikan, tetapi yang Anda siapkan itu adalah ikan kalengan, tentu nutrisi yang dinginkan tidak akan diperoleh anak.

Pasalnya, nutrisi ikan dalam kaleng sudah terkontaminasi oleh BPA, yang justru bisa menyebabkan kerusakan sel otak di kemudian hari.

2 dari 3 halaman

Pilih yang bebas BPA

Menurut Academy of Nutrition and Dietetics, jika daging, sup, sayur, buah, dan ikan dikemas dalam kaleng yang bebas BPA dan tidak mengandung banyak garam atau bahkan tidak mengandung garam sama sekali, produk tersebut dinilai cukup aman.

Sebab menurut mereka, jika makanan tersebut dikemas menggunakan kaleng yang bebas BPA dan tidak mengandung banyak garam, berarti makanan tersebut mengandung nutrisi yang sama seperti makanan segar pada umumnya.

Jadi kesimpulannya, memberikan makanan kaleng kepada anak dapat dikatakan tidak aman jika Anda memberikannya terlalu sering dan tetap memilih makanan kaleng yang tidak bebas BPA serta tinggi kadar natriumnya.

Sedangkan, jika Anda memberikan makanan kalengan yang terbebas dari BPA dan tidak mengandung natrium (minimal kadar garamnya rendah) serta tidak memberikannya terlalu sering, pemberian makanan kaleng bagi anak masih dianggap aman.

Tapi ingat, jangan berikan secara berlebihan. Karena hal itu bisa meningkatkan risiko kanker, gangguan fungsi otak terkait memori, pembelajaran, dan mood anak, bahkan perubahan hormon serta genetik yang dapat mengubah pola perilaku seseorang.

Untuk memilih makanan kaleng yang aman, selalu periksa kemasan dan pastikan Anda memilih makanan kaleng yang tertulis “BPA Free” atau jelas tidak mengandung BPA dan telah melewati uji laboratorium.

Makanan kaleng memang praktis dan dapat mempersingkat waktu Anda dalam menyajikan bekal makanan untuk anak, terutama di pagi hari sebelum aktivitas dimulai. Namun, pertimbangkan berbagai bahaya makanan kaleng yang telah dijelaskan di atas. Yang terbaik tetaplah makanan yang diolah sendiri.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar