Sukses

Polusi Udara Tingkatkan Risiko Keguguran pada Ibu Hamil

Paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko keguguran pada ibu hamil. Bagaimana itu bisa terjadi?

Klikdokter.com, Jakarta Ketika kehamilan datang, ibu hamil dan ayah harus siaga dalam menjaga kesehatan semaksimal mungkin hingga sang bayi lahir. Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah kondisi udara di lingkungan sekitar. Pasalnya, menurut sebuah studi yang dikutip dari Newsweek, polusi udara dapat meningkatkan risiko keguguran pada ibu hamil.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016 menyebutkan bahwa polusi udara meningkat hingga lima persen di lebih dari dua per tiga kota di Asia Tenggara. Hal tersebut menjadi gambaran betapa sulitnya orang untuk menemukan tempat dengan kualitas udara baik saat ini.

Paparan polusi udara diketahui dapat menyebabkan stroke, serangan jantung, kanker paru, serta penyakit paru kronis. Tak hanya itu, polusi udara menjadi penyebab kematian tertinggi keempat di antara semua risiko kesehatan secara global, di bawah hipertensi, diet, dan merokok.

Namun secara kompleks, polusi udara juga dapat meningkatkan risiko keguguran pada ibu hamil. Bagaimana itu bisa terjadi?

Hubungan antara polusi udara dan keguguran

Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Fertility and Sterility, polusi udara bisa meningkatkan risiko keguguran pada ibu hamil. Studi ini dilakukan pada ibu hamil yang tinggal di Wasatch Front, area yang paling padat penduduknya di Utah, Kanada.

Sebanyak 16 persen ibu hamil lebih mungkin kehilangan janin mereka pada 20 minggu pertama kehamilan setelah terpapar polusi. Hal ini disebabkan oleh fenomena meteorologi yang disebut inversi di Wasatch Front. Pada kondisi ini, polusi udara menjadi terperangkap di dekat tanah.

Untuk menemukan hubungan antara kualitas udara dan keguguran, para peneliti menganalisis data lebih dari 1.300 partisipan wanita yang mengalami keguguran antara tahun 2007 dan 2015. Tim peneliti juga melihat tingkat kualitas udara dengan kode pos tempat tinggal partisipan, serta mencari informasi mengenai lonjakan polutan umum dalam tiga hari atau minggu sebelum partisipan mengalami keguguran.

Hasilnya, para peneliti menemukan korelasi antara keguguran dan ibu hamil yang menghirup zat nitrogen dioksida pada tujuh hari sebelum keguguran. Namun, salah satu peneliti studi, Claire Leiser dari University of Utah Health, mengatakan bahwa studi tersebut memiliki beberapa keterbatasan. Salah satunya karena studi tersebut hanya meneliti para partisipan wanita yang tinggal di Wasatch Front. Karena itu, butuh penelitian lebih lanjut guna mengukuhkan temuan tersebut.

Kiat mencegah keguguran

Dalam banyak kasus, penyebab keguguran tidak diketahui dan Anda tidak dapat mencegahnya. Namun, ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk menurunkan risiko keguguran, seperti dilansir National Health Service UK berikut ini:

  • Tidak merokok selama kehamilan.
  • Tidak minum alkohol atau menggunakan narkoba selama kehamilan.
  • Menjalankan pola makan yang sehat dan seimbang dengan setidaknya 5 porsi buah dan sayur setiap hari.
  • Menghindari terkena infeksi tertentu selama kehamilan, seperti rubela.
  • Menghindari makanan tertentu yang berisiko membahayakan kehamilan.
  • Memiliki berat badan yang sehat sebelum hamil.

Meskipun hubungan antara keguguran dan polusi udara masih perlu ditinjau lebih jauh, tetap penting bagi ibu hamil untuk meminimalkan kontak dengan polusi udara. Bagi Anda yang tinggal di kota-kota besar, polusi udara memang sulit untuk dihindari. Namun, Anda dapat menurunkan paparan terhadap polusi udara dengan menggunakan masker saat keluar rumah serta mengatur ventilasi udara di rumah karena polutan di dalam ruangan juga bisa membahayakan kesehatan.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar