Sukses

Bagaimana HIV Menyerang Sistem Kekebalan Tubuh Manusia?

HIV menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga menyebabkan penderitanya lebih rentan terkena beragam penyakit lainya.

Klikdokter.com, Jakarta HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah suatu jenis virus yang ditularkan dari manusia ke manusia lain. Infeksi oleh virus tersebut akan melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga penyakit lain rentan terjadi dan lebih sulit sembuh. Pada kasus yang parah, infeksi HIV akan menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome).

Pada orang dengan HIV, umumnya virus dapat ditemukan pada cairan tubuh seperti darah, semen, cairan vagina, lapisan mukosa rektum, dan ASI. Cairan tubuh seperti keringat, urine, air mata, ludah dan muntah umumnya tidak mengandung HIV, kecuali tercampur dengan darah.

Adapun hal-hal yang berisiko meningatkan terjadinya HIV, antara lain:

  • Melakukan hubungan seksual tanpa penngaman (kondom)
  • Tertusuk jarum suntik yang tidak steril atau menggunakan jarum suntik bergantian
  • Kehamilan
  • Persalinan dan menyusui

Saat baru terinfeksi, HIV akan masuk ke dalam tubuh dan membelah diri menjadi sangat banyak. Sebagai perlawanan dari keadaan tersebut, sistem kekebalan tubuh akan memproduksi sel darah putih khusus (CD4) untuk mengendalikan jumlah HIV yang berlebihan. Di sisi lain, sel CD4 merupakan target utama dari infeksi HIV. Sehingga, alih-alih mengendalikan jumlah HIV, virus tersebut malah menginfeksi dan menghancurkan sel CD4.

Awalnya, sistem kekebalan tubuh akan merespons dengan memproduksi lebih banyak sel CD4. Namun setelah beberapa waktu, tubuh akan “kelelahan” sehingga tidak bisa menyeimbangkan laju hancurnya sel CD4. Pada akhirnya, akan terjadi ketidakseimbangan, yaitu jumlah virus atau viral load yang tinggi dan jumlah sel CD4 yang rendah.

Keadaan itu mengakibatkan sistem kekebalan tubuh tidak lagi mampu mengontrol HIV, sehingga penderita akan terlihat sangat sakit. Untuk diketahui, pada orang yang sehat, jumlah CD4 berkisar antara 500–1500. Jika jumlah itu berkurang hingga 200 atau lebih rendah, berarti sistem kekebalan tubuh sudah rusak.

Kemudian, kira-kira 12 minggu setelah terinfeksi, penderita HIV akan menunjukkan gejala penyakit serokonversi yang umumnya terlihat seperti flu. Penelitian menyebut, 50–80% penderita HIV juga akan mengeluhkan demam, ruam, pegal-pegal, nyeri, sariawan, nyeri tenggorok, kelelahan dan mual. Diare, ulserasi atau borok pada area tenggorokan atau kelamin, anoreksia, pembesaran kelenjar getah bening, penurunan berat, nyeri perut juga bisa terjadi namun kemungkinannya kecil.

Deteksi HIV sejak dini

Pada beberapa pasien HIV, keadaan serokonversi terjadi tanpa menimbulkan gejala (asimtomatik). Oleh karena itu, cara terbaik menentukan diagnosis HIV adalah dengan pemeriksaan.

Pemeriksaan yang dilakukan umumnya berhubungan dengan respons kekebalan tubuh terhadap HIV. Jenis pemeriksaan yang sering dilakukan untuk hal itu disebut ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay) untuk menilai adanya antibodi terhadap HIV.

Pada kebanyakan kasus, pemeriksaan ini baru bisa mendeteksi antibodi HIV kurang lebih 6 minggu setelah terjadi infeksi. Pemeriksaan lainnya, yaitu PCR yang bekerja dengan mendeteksi adanya HIV di dalam tubuh, dan akurat untuk mendeteksi paparan awal HIV.

Pentingnya pengobatan HIV

Pada orang yang positif HIV, sangat penting untuk memulai pengobatan. Tujuannya adalah untuk menekan jumlah HIV sehingga viral load tidak terjadi. Dengan demikian, virus tidak akan menyebabkan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh dan penderita HIV tidak menularkan penyakitnya ke orang lain.

Jadi, meski tidak dapat disembuhkan, seseorang dengan infeksi HIV tetap bisa mengontrol kondisinya dan hidup layaknya orang normal. Hal terpenting bagi penderita HIV, patuhi segala jenis pengobatan yang dianjurkan dan teruslah berusaha merawat diri sehingga sistem kekebalan tubuh terus terjaga. Dengan begini, kualitas hidup bisa tetap terjaga dan AIDS tidak akan terjadi.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar