Sukses

Benarkah Kelompok Profesional Muda Rentan Tertular HIV/AIDS?

Tak sedikit yang mengatakan bahwa kelompok profesional muda rentan tertular HIV/AIDS. Tapi bagaimana bisa?

Klikdokter.com, Jakarta Menyambut Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tiap tanggal 1 Desember, pembicaraan mengenai hal-hal seputar HIV/AIDS santer terdengar. Mulai dari cara pencegahannya, dukungan yang diperlukan bagi para penderita HIV/AIDS (ODHA), hingga klarifikasi hoax yang beredar. Ada sebagian anggapan yang mengatakan bahwa kaum profesional muda rentan tertular penyakit ini.

HIV singkatan dari human immunodeficiency virus. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh, yang selanjutnya melumpuhkan kemampuan tubuh melawan infeksi dan penyakit. AIDS merupakan tahap akhir dari HIV, yaitu ketika kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah tiada. Dengan deteksi dan penanganan dini, penderita HIV tak akan “naik kelas” menjadi AIDS.

Pada dasarnya semua orang berisiko terinfeksi HIV, tak peduli bayi, wanita, pria, tua, muda, dan apa pun bidang pekerjaannya. Maka ketika ada pendapat bahwa kelompok profesional muda rentan tertular HIV, dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, tidak sepaham dengan anggapan tersebut.

Benarkah kelompok profesional muda rentan tertular HIV?

Menurut dr.Sepri, tidak adil untuk mendakwa pekerjaan tertentu paling rentan tertular atau menularkan. Menurutnya, yang menentukan apakah seseorang itu rentan atau tidak untuk tertular HIV adalah gaya hidup dan pergaulannya, bukan pekerjaan.

Lantas, mengapa sampai ada anggapan profesional muda rentan tertular penyakit yang ditularkan melalui kontaminasi darah dan cairan tubuh lainnya (blood-borne disease) tersebut?

“Mungkin, profesional muda itu identik dengan workaholic, mungkin mereka menggunakan berbagai jenis doping agar bisa terus bekerja sepanjang waktu. Kalau sudah menggunakan doping, risiko penggunaan narkotika, termasuk yang jenis suntik, meningkat. Seperti yang Anda tahu, penularan HIV sangat mudah ditularkan dari jarum suntik yang tidak steril atau dipakai bergantian,” dr. Sepriani menjelaskan.

Tak hanya itu, profesional muda juga dianggap sering bertemu dengan banyak klien dengan latar belakang yang berbeda-beda. Jika tidak pandai-pandai dalam mengontrol diri, orang tersebut bisa terjerumus ke dalam perilaku seks bebas atau seks berisiko.

“Jadi, balik lagi ke pribadi masing-masing. Meskipun sering berinteraksi dengan banyak orang, tetapi jika memiliki pengendalian diri yang baik, maka mereka tak akan berisiko. Beda halnya jika mereka tidak pandai menjaga profesionalitasnya. Urusan pekerjaan bisa berubah menjadi hal lain yang sangat berisiko,” tambahnya.

Bidang pekerjaan yang paling rentan tertular HIV/AIDS

Di sisi lain, ada bidang pekerjaan yang cukup tinggi risikonya untuk terjangkit HIV/AIDS. Bukan pekerja seks komersial, melainkan pekerja medis.

“Ini kasus nyata. Ada petugas medis yang dari waktu ke waktu berat badannya kian menurun. Setelah diperiksa secara medis, ternyata ia tertular HIV/AIDS” ungkap dr. Sepriani.

Setelah ditelaah lebih jauh lagi, ternyata beberapa tahun silam ia sempat mengambil sampel darah dari beberapa pasien. Rupanya, salah satu pasien terjangkit HIV/AIDS. Pada waktu itu, mungkin kesalahan petugas medis yang melakukan tindakan ambil darah tersebut tanpa mengenakan APD (alat pelindung diri) lengkap, sehingga sampel darah dari penderita tersebut mengenai dirinya.

Oleh sebab itu, kurang adil rasanya menilai seseorang apakah ia rentan terkena HIV/AIDS atau tidak hanya dari pekerjaannya. Rentan atau tidaknya kelompok tertentu bergantung dari pola pergaulan sehari-hari dan pengendalian diri. Meski beban pekerjaan cenderung berat, seperti para profesional muda, tetapi tak membuat mereka langsung rentan tertular HIV/AIDS. Asalkan bisa mengelola stres dengan baik, mengontrol diri dari godaan perilaku yang berisiko, serta senantiasa melindungi diri dengan gaya hidup sehat dan dapat melindungi diri dengan baik, maka risiko terkena HIV/AIDS bisa diminimalkan.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar