Sukses

Apakah Anak yang Sedih Rentan Mengalami Emotional Eating?

Sama seperti orang dewasa, saat sedih anak-anak juga bisa mengalami emotional eating. Bagaimana solusinya?

Klikdokter.com, Jakarta Sebuah studi tahun 2018 yang diterbitkan di jurnal Appetite menemukan pandangan baru mengenai emotional eating (makan secara emosional) pada anak-anak. Emotional eating adalah ketika orang makan untuk membuat dirinya nyaman ketimbang untuk menuntaskan rasa lapar. Anda pasti pernah melakukannya: menghabiskan sekantong keripik kentang setelah pulang kerja atau bahkan hanya karena bosan. Ya, kan?

Dilansir Medical News Today sebuah penelitian melibatkan 91 anak berusia antara 4,5 sampai 9 tahun untuk mengupas masalah tersebut. Para peneliti mencoba untuk melihat hubungan antara emotional eating dengan perilaku makan anak menggunakan cuplikan film The Lion King. Peneliti memilih cuplikan scene yang menyedihkan, biasa saja, dan yang menyenangkan untuk ditonton oleh tiga kelompok berbeda.

Setelah anak-anak melihat cuplikan tersebut, mereka ditawari dua makanan ringan untuk dipilih: permen cokelat atau goldfish crackers. Sesuai harapan, mereka yang menonton cuplikan sedih lebih banyak mengonsumsi permen cokelat daripada penonton cuplikan menyenangkan.

Sebaliknya, goldfish crackers dikonsumsi dalam jumlah yang lebih besar oleh penonton cuplikan netral, diikuti oleh penonton cuplikan menyenangkan, kemudian penonton cuplikan sedih. “Tapi kami menemukan bahwa indeks massa tubuh anak-anak tersebut tidak berbeda satu sama lain,” kata pemimpin studi Dr. Shayla C. Holub dari Universitas Texas di Dallas.

Melatih anak untuk tidak makan saat emosi

Pada tahun 2015, Dr. Holub bersama tim mempublikasikan studi mengenai emotional eating pada anak dari sisi yang berbeda. Mereka melihat bahwa anak cenderung mengadopsi perilaku makan orang tuanya, sehingga emotional eating ini juga dapat diwariskan dari orang tua mereka. Misal, anak yang melihat orang tuanya beralih ke makanan saat sedih, juga dapat melakukan hal yang sama.

“Tapi kadang juga, orang tua memberikan makan kepada anak-anak mereka dalam cara yang memungkinkan kebiasaan emotional eating ini muncul. Kamu lagi sedih, Nak? Ini permen untukmu. Lagi bosan, Nak? Makan saja,” kata Dr. Holub.

Usia 3-5 tahun sangat krusial bagi anak-anak untuk belajar mengenai perilaku makan. Karena itu, orang tua harus mendidik sejak dini bagaimana cara mengontrol emosi agar tidak memengaruhi nafsu makan. Ini kiat-kiat yang dapat dilakukan orang tua untuk mengontrol emotional eating pada anak, seperti dikutip KidsHealth:

  • Belajar mengenali lapar fisik dan “lapar mata”

Ajarkan anak untuk mengenali lapar fisik dan “lapar mata”, sehingga tahu kapan merasa lapar dan kapan merasa kenyang. Jika tidak merasa benar-benar lapar dan ingin tetap makan, sebagai gantinya anak bisa minum air putih atau makan camilan sehat seperti buah-buahan segar.

  • Cari aktivitas lain

Beraktivitas fisik akan membantu mengalihkan pikiran dari makan. Misal dengan main sepeda, menari, dan lainnya. Perhatikan juga apakah anak sedang lelah. Kelelahan juga dapat membuat perut terasa lapar padahal tidak, jadi lebih baik mengajaknya tidur ketimbang makan untuk meredakan rewel.

  • Jadi contoh yang baik

Menerapkan perilaku makan yang baik sangat penting bagi tiap orang tua. Ingat, anak adalah seorang peniru yang ulung. Jika anak melihat Anda sering melakukan emotional eating, nantinya ia juga akan mengadopsi kebiasaan tersebut. Satu lagi, hindarilah memberikan makanan berupa kue-kue atau permen saat anak sedang rewel, karena ini juga membantu mengembangkan perilaku makan secara emosional.

Terkadang, perilaku emotional eating pada anak juga dipengaruhi oleh orang tua. Sangat penting bagi orang tua untuk mendidik kebiasaan makan yang benar kepada anak mereka serta menjadi contoh yang baik.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar