Sukses

Benarkah Politisi Rentan Terkena Stroke?

Sering memikirkan persoalan besar hingga tak sempat menerapkan gaya hidup sehat, politisi dianggap rentan terkena stroke. Benarkah begitu?

Klikdokter.com, Jakarta Jika bicara soal sosok dengan segudang aktivitas harian yang sangat padat, mungkin yang pertama kali terpikirkan oleh Anda adalah selebriti. Tak salah memang. Tetapi, ada sosok lain yang juga punya jadwal harian yang padat dan sering dijumpai di wilayah Senayan, Jakarta, yakni politisi. Saking padatnya jadwal pertemuan, sidang dan diskusi penting, umumnya mereka tak sempat untuk menerapkan gaya hidup sehat. Padahal, hal seperti itu bisa meningkatkan risiko terkena penyakit kronis, salah satunya stroke.

Menurut dr. Andika Widyatama dari KlikDokter, stroke merupakan gangguan neurologis akibat terganggunya aliran darah pada otak. Penyakit ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu penyumbatan pembuluh darah (stroke iskemik) dan pecahnya pembuluh darah otak (stroke hemoragik).

Politisi dan stroke

Politisi tak serta-merta terkena stroke tanpa sebab yang jelas. Ini karena stroke itu sendiri biasanya muncul ketika tekanan darah tinggi (hipertensi) tidak dikelola dengan baik. Untuk diketahui, seseorang yang punya tekanan darah tinggi berisiko empat kali lipat lebih besar untuk mengalami stroke.

Nah, tekanan pekerjaan yang dialami oleh politisi dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah. Apalagi, pekerjaan yang mereka lakukan sering tak langsung menemukan titik temu sehingga bisa memicu perbedaan pendapat. Keadaan ini bisa memunculkan perdebatan yang tak ada habisnya, sehingga perasaan jengkel atau marah kerap tak terhindarkan.

Saat marah, hormon adrenalin orang tersebut akan bertambah banyak dan tekanan darah ikut meningkat. Alhasil, jantung akan berdetak lebih cepat dan pembuluh darah menyempit.

Parahnya lagi, pekerjaan yang menuntut politisi untuk terus sibuk membuat mereka semakin jauh dari gaya hidup sehat. Jangankan berolahraga, untuk mengonsumsi makanan sehat atau menerapkan pola makan teratur saja terasa sangat sulit. Bahkan, kesibukan yang turut menyebabkan stres itu juga membuat para politisi mengisap rokok. Hal ini karena rokok dianggap dapat menghasilkan efek relaks, yang juga dapat menurunkan tingkat stres. Padahal, kenyataannya, rokok justru semakin meningkatkan risiko stroke.

Apakah stroke pada politisi hanya mengincar mereka yang sudah berusia senja? Tentu saja tidak. Politisi atau orang pada umumnya yang masih berada di usia 40 tahunan juga bisa terkena stroke. Ini karena stroke sangat dipengaruhi oleh gaya hidup semasa muda dan beragam kebiasaan buruk yang dilakukan selama bertahun-tahun.

Oleh sebab itulah, sesibuk apa pun urusan pekerjaan, munculkan niat yang kuat untuk menerapkan gaya hidup sehat. Selain itu, kelola stres dengan bijak, konsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang, serta sempatkanlah waktu berolahraga selama 30 menit dalam sehari.

Jadi, benar adanya bahwa politisi lebih rentan terkena stroke. Hal ini khususnya pada politisi yang tidak menerapkan gaya hidup sehat, sering terlarut dalam stres, dan masih mengalami ketergantungan pada rokok.

Satu hal yang perlu diperhatikan dari fenomena tersebut, Anda yang bukan politisi juga wajib mewaspadai risiko stroke. Karena seperti yang telah disebutkan, penyakit mematikan ini bisa terjadi pada siapa saja yang enggan menerapkan gaya hidup sehat, punya kebiasaan merokok, hobi mengonsumsi alkohol, dan tidak punya waktu untuk beristirahat.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar