Sukses

Dampak Perceraian Orang Tua pada Anak

Anak dari orang tua yang bercerai dapat mengalami dampak psikis yang tidak ringan. Kenali dampak perceraian orang tua pada anak.

Klikdokter.com, Jakarta Perceraian orang tua memang bisa memengaruhi banyak sisi dalam kehidupan rumah tangga. Beberapa hari ini tagar #savegempi tengah marak di berbagai platform media sosial. Tagar tersebut menjadi trending usai publik mengetahui kabar artis Gisella Anastasia atau yang akrab disapa Gisel melayangkan gugatan cerai pada suaminya artis Gading Marten.

Publik ikut syok dan sedih atas berita mengejutkan dari pasangan yang selama ini selalu terlihat mesra di berbagai kesempatan. Pasalnya banyak orang membayangkan bagaimana nasib anak semata mayang Gisel dan Gading yakni Gempita Nora Marten atau Gempi, yang selama ini menjadi idola masyarakat karena wajah serta tingkahnya yang lucu dan menggemaskan. Terlepas dari kisah Gading, Gisel dan Gempi, perceraian memang bisa berdampak bagi anak.

Orang tua bercerai, bagaimana nasib anak?

Setelah perceraian, biasanya orang tua pun akan memikirkan banyak hal mulai dari pembagian hak asuh, biaya kehidupan anak, perasaan anak setelah orang tua bercerai dan banyak lagi. Tak hanya bagi kedua pasangan, anak pun bisa merasa stres – bahkan bisa mengarah pada depresi – setelah kedua orang tua nya bercerai. Meski demikian, bagaimana reaksi, dampak psikis dan proses adaptasinya, akan berbeda-beda pada setiap anak.

Menurut penelitian, anak akan mengalami “perjuangan psikis” dalam 1-2 tahun pertama setelah orang tua bercerai. Anak akan mengalami stres, marah, kecewa dan rasa tidak percaya diri. Namun sebagian anak ada yang bersikap tidak peduli dan kembali melakukan aktivitas rutinnya sehari hari. Namun anak-anak yang lain akan mengalami kesulitan untuk kembali “normal”, bahkan bisa mengalami stres sepanjang hidupnya.

Perceraian tentu saja akan menyebabkan dampak emosional bagi seluruh anggota keluarga. Khusus pada anak, kondisi ini dapat berubah menjadi mengerikan, membingungkan dan menimbulkan rasa frustasi.

Namun, situasi ini dapat berbeda-beda, pada setiap anak,  tergantung pada usianya:

  • Pada anak usia dini, biasanya mereka akan merasa bingung ketika dihadapkan dengan situasi bahwa ia harus tinggal terpisah dengan salah satu orang tuanya. Ia akan bertanya-tanya mengapa ia perlu pergi ke rumah yang berbeda saat ingin bertemu ayah atau ibunya.

Anak juga dapat diliputi perasaan khawatir bahwa jika kedua orang tua berhenti mencintai satu sama lain. Muncul juga ketakutan bahwa suatu hari nanti ada juga kemungkinan bahwa orang tuanya akan berhenti mencintainya.

  • Anak usia sekolah dapat khawatir dan merasa bersalah saat orang tuanya bercerai. Anak akan merasa takut atau merasa bahwa ia melakukan perilaku yang salah sehingga orang tuanya marah dan bercerai. Anak akan cenderung terus menerus menyalahkan dirinya sendiri.
  • Pada anak remaja, biasanya anak akan berubah menjadi anak yang temperamental atau lebih sensitif. Anak akan merasa marah atas perceraian tersebut serta pengaruhnya pada kehidupan dirinya. Anak juga bisa saja menyalahkan salah satu orang tua atau bahkan membenci kedua orang tuanya.

Sikap anak dalam keseharian pun dapat berubah semisal anak menjadi temperamental, menjadi labil, lebih sensitif (mudah menangis atau bersedih), menjadi acuh tak acuh pada orang lain dan menjadi tertutup. Bahkan dikhawatirkan anak menjadi rentan terjerumus pergaulan yang negatif seperti mencoba obat-obatan terlarang.

Tentu saja dampak dari perceraian pun dapat berbeda-beda tergantung situasi dan kondisinya. Ada juga anak yang justru merasa lebih lega saat orang tua nya bercerai, karena itu berarti anak tidak perlu terus menerus mendengar pertengkaran kedua orang tua atau terus menerus melihat salah satu orang tua nya tersakiti.

Pada sebagian anak, dampak perceraian orang tua mereka dapat berlangsung seumur hidupnya. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa perceraian orang tua dapat meningkatkan risiko berbagai masalah pada anak di kemudian hari. Kasus yang umum terjadi misalnya gangguan kesehatan mental, penyalahgunaan obat-obatan, depresi bahkan percobaan bunuh diri. Selain itu studi lain juga menyebutkan bahwa perceraian orang tua bisa memengaruhi kehidupan anak saat dewasa dalam berbagai aspek mulai dari pendidikan, karier hingga rumah tangga.

Belajar dari #savegempi dan perpisahan Gading Marten dan Gisella Anastasia, perceraian orang tua tak hanya dapat berdampak bagi pasangan. Perceraian sebuah ikatan pernikahan bahkan bisa berdampak bagi anak di kemudian hari. Namun jika dalam sebuah ikatan pernikahan akhirnya terjadi perceraian sebagai solusi akhir dari masalah yang terjadi, anak tetap harus menjadi prioritas utama. Perceraian orang tua jangan sampai membuat anak menjadi pihak yang paling dirugikan.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar