Sukses

Menyusui Bikin Ibu Rentan Osteoporosis?

Apa iya menyusui bayi secara eksklusif akan membuat ibu rentan terkena osteoporosis? Mari baca ulasan lengkap fakta medisnya lewat artikel ini.

Klikdokter.com, Jakarta ASI adalah makanan yang terbaik bagi bayi. Tak heran jika Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) hingga Badan Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan para ibu untuk menyusui bayinya secara ekslusif selama 6 bulan.

Setelah masa menyusui eksklusif ini selesai, para ibu tetap dianjurkan untuk memberikan ASI kepada bayi hingga ia berusia 2 tahun sembari diberikan makanan padat (MPASI). Nah, ada beberapa ibu yang khawatir yang menganggap bahwa menyusui membuat mereka rentan osteoporosis. Apa ini benar?

Manfaat ASI yang berlimpah

ASI adalah makanan utama dan terbaik bagi bayi. Karena ASI mengandung energi, protein, lemak, vitamin, dan mineral dibutuhkan oleh bayi untuk tumbuh kembangnya. Kandungan gizi dalam ASI pun lebih mudah dicerna oleh usus bayi, sehingga dapat diserap dengan lebih optimal. Bayi yang mendapat ASI eksklusif pun dilaporkan memiliki nilai IQ yang lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif.

Selain itu, ASI juga mengandung antibodi yang dapat membantu bayi untuk meningkatkan kekebalan tubuhnya dalam melawan kuman penyebab penyakit. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa bayi yang diberikan ASI eksklusif memiliki risiko mengalami penyakit infeksi dan alergi yang lebih rendah.

Menyusui vs risiko osteoporosis

Salah satu mineral yang banyak terdapat di dalam ASI adalah kalsium, yang sangat penting bagi pertumbuhan tulang dan gigi bayi. Kadar kalsium yang didapat bayi dari ASI akan membantu pertumbuhan tulang dan gigi bayi, terutama dalam hal penguatan tulang dan gigi. Kalsium juga memiliki fungsi untuk melindungi tubuh bayi dari serangan virus dan bakteri jahat, apalagi sistem kekebalan tubuh bayi belum sempurna.

Menyusui memang sedikit banyak dapat memengaruhi tulang ibu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa rata-rata wanita menyusui kehilangan 3–7 persen dari massa tulangnya selama menyusui. Hal ini terjadi karena kalsium dalam tulang dan gigi ibu diambil untuk memenuhi kebutuhan bayi akan kalsium yang sangat besar—mengingat begitu pesatnya pertumbuhan tulang bayi.

Kalsium merupakan salah satu mineral yang sangat penting bagi tubuh, termasuk bagi ibu hamil dan menyusui. Kalsium memiliki peran untuk mengendalikan tekanan darah, meningkatkan kekuatan tulang dan gigi, mencegah pembekuan darah serta mengoptimalkan kerja sistem saraf.

Kekurangan asupan kalsium dapat berpotensi menyebabkan ibu mengalami osteoporosis. Hal ini dikarenakan asupan kalsium yang kurang di tubuh ibu memaksa bayi mengambil asupan kalsium dari tulang dan gigi ibunya.

Apabila hal ini dibiarkan terus-menerus, maka cadangan kalsium yang ada di dalam tulang dan gigi ibu akan semakin berkurang, sehingga berisiko mengalami osteoporosis. Biasanya karena hal ini ibu menyusui juga rentan mengalami sakit gigi.

Besarnya kalsium yang diambil dari tulang dan gigi ibu bervariasi, tergantung dari kebutuhan kalsium yang diperlukan bayi, volume ASI yang dihasilkan oleh ibu, dan berapa lama ibu menyusui bayi. Semakin banyak ASI yang dihasilkan dan semakin lama seorang ibu menyusui, maka semakin banyak pula massa tulang ibu yang berkurang.

Meskipun ada risiko berkurangnya massa tulang ibu setelah menyusui, studi menyatakan bahwa massa tulang ibu dapat dipulihkan kembali dengan konsumsi kalsium yang cukup setelah berhenti menyusui. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan kalsium ibu saat menyusui dan pasca menyusui sangatlah penting. Jika tidak, ibu dapat berisiko terkena osteoporosis di kemudian hari.

1 dari 2 halaman

Mengenal osteoporosis

Osteoporosis adalah penyakit pengeroposan tulang, sehingga tulang menjadi rapuh dan rentan patah. Osteoporosis terutama dapat mengenai tulang belakang, pinggul, dan lengan.

Semua orang bisa terkena osteoporosis. Namun, karena faktor hamil, menyusui, dan hormon estrogen, maka wanita lebih rentan terkena osteoporosis dibandingkan pria. Terlebih setelah wanita mengalami menopause dan tak lagi memproduksi estrogen, mereka jadi rentan mengalami osteoporosis dan patah tulang.

Selain faktor-faktor tersebut, ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang rentan terkena osteoporosis, yakni usia, tubuh yang kurus, dan riwayat keluarga yang menderita osteoporosis.

Menjaga massa tulang tetap prima

Meskipun memang menyusui dapat memengaruhi tulang dan gigi ibu, kondisi ini bisa diatasi setelahnya. Jangan sampai adanya risiko osteoporosis ini menghalangi Anda untuk memberikan nutrisi terbaik untuk buah hati lewat ASI. Jagalah kesehatan tulang dan gigi Anda dengan mengonsumsi makanan yang mengandung kalsium dan vitamin D dan berolahraga teratur.

Kalsium adalah mineral yang penting untuk tulang dan gigi. Penuhi kebutuhan kalsium harian Anda sebesar 1000 mg per hari dengan mengonsumsi makanan tinggi kalsium, Anda juga dapat berkonsultasi kepada dokter untuk kemungkinan mengonsumsi suplemen kalsium tambahan.

Selain kalsium, vitamin D pun sangat penting untuk membantu penyerapan kalsium yang optimal. Vitamin D dapat diperoleh dari sinar matahari, ikan haring, salmon, sarden, tuna, minyak hati ikan cod, kerang, dan udang. Ragu tak dapat memenuhi kebutuhan vitamin D harian, konsultasikan juga dengan dokter agar kebutuhan ini bisa dipenuhi lewat suplementasi.

Olahraga juga sangat penting untuk menjaga agar massa tulang tetap prima, terutama olahraga angkat beban. Gunakan beban yang sesuai dengan kemampuan Anda. Berlatihlah dengan instruktur apabila Anda tidak biasa berolahraga. Meski menyusui bikin ibu rentan osteroporosis, tapi jangan sampai ini menghentikan Anda memberikan ASI kepada buah hati. Pastikan Anda mengonsumsi makanan yang bernutrisi. Anda juga dapat mengonsumsi suplemen yang mengandung nutrisi esensial yang tinggi kandungan DHA, asam folat, kalsium, zat besi, serta vitamin dan mineral untuk kesehatan ibu dan buah hati selama kehamilan hingga menyusui. Ingat, meski menyusui, risiko osteoporosis bisa dihalau dengan melakukan tips yang disebutkan di atas. Selamat menyusui!

(RN/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar