Sukses

Penyebab Penumpukan Cairan di Paru Seperti Dialami Pretty Asmara

Pretty Asmara meninggal setelah mengalami sesak napas akibat penumpukan cairan di paru. Ketahui penyebab cairan di paru lewat artikel ini.

Klikdokter.com, Jakarta Kabar meninggalnya artis dan komedian Pretty Asmara cukup mengejutkan masyarakat. Sebelumnya, Pretty Asmara sempat mengalami sesak napas. Pemeriksaan di rumah sakit menunjukkan adanya cairan antara organ paru dan selaput pembungkusnya (pleura). Kondisi penumpukan cairan di paru memang sangat membahayakan. Lalu apa penyebab kondisi tersebut?

Penumpukan cairan di paru, apa penyebabnya?

Kondisi terdapatnya cairan antara organ paru dan selaputnya seperti yang dialami Pretty Asmara disebut sebagai efusi pleura. Efusi pleura adalah penumpukan cairan yang tidak normal dalam rongga pleura. Kondisi ini umumnya terbentuk karena kelebihan produksi cairan atau pengurangan penyerapan cairan oleh sistem getah bening.

Penyebab efusi pleura cukup beragam, mulai dari penyakit jantung dan paru hingga penyakit kanker. Sekitar 1,5 juta kasus ini ditemukan di Amerika Serikat setiap tahunnya. Kondisi adanya cairan di rongga antara paru dan selaput pembungkusnya (rongga pleura) sangat mengancam nyawa penderitanya.

Bila penumpukan cairan cukup banyak, maka paru tidak dapat mengembang sempurna. Akibatnya, penderita akan mengalami sesak napas dan batuk. Kondisi ini akan semakin berat bila telah ada penyakit berat lain yang diderita (komorbiditas). Hal ini akan semakin meningkatkan kemungkinan komplikasi menuju kematian seperti yang terjadi pada Pretty Asmara.

Berikut ini adalah beberapa penyakit yang paling sering menyebabkan timbulnya cairan di paru (efusi pleura):

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

1. Gagal jantung kongestif

Penyakit gagal jantung kongestif adalah sebuah kondisi dimana jantung gagal memompa darah dalam jumlah yang dibutuhkan tubuh. Beberapa gejala gagal jantung kongestif antara lain, sesak napas setelah beraktivitas, sesak napas saat berbaring terlentang, mudah lelah, berat badan menurun, dll.

Hipertensi lama yang tidak terkontrol adalah salah satu penyebab tersering timbulnya gagal jantung kongestif. Akibatnya, pemompaan darah tidak maksimal dan banyak transudasi (penumpukan) cairan ke berbagai rongga tubuh salah satunya ke rongga pleura hingga menyebabkan efusi pleura.

2. Sirosis hati

Sirosis hati adalah suatu kondisi gangguan hati tahap akhir, dimana jaringan normal hati sudah mengalami perubahan besar dan terdapat banyak jaringan parut di hati. Akibatnya, fungsi organ hati sudah sangat menurun. Sirosis hati paling sering disebabkan oleh kondisi alkoholisme kronik, serta riwayat infeksi hepatitis B di masa lampau. Di kemudian hari, sirosis hati berpotensi menjadi kanker hati.

Penyakit ini juga berujung pada terjadinya transudasi cairan di rongga pleura. Penderita sirosis hati bisa saja tidak menimbulkan gejala apapun selama bertahun-tahun, sampai kerusakan yang terjadi sudah sangat parah.

3. Tuberkulosis paru

Indonesia masih menjadi lokasi endemis infeksi tuberkulosis paru, dan merupakan negara ketiga di dunia yang terbanyak mengalami infeksi tuberkulosis paru. Infeksi tuberkulosis paru memiliki gejala seperti batuk lebih dari 2 minggu, batuk berdahak, demam pada malam hari, nafsu makan menurun, berat badan menurun, dll.

Infeksi tuberkulosis paru semakin mudah terjadi ketika seseorang tinggal di area yang sirkulasi udaranya buruk. Area yang lembap dan pengap semakin meningkatkan kemungkinan berdiamnya bakteri Mycobacterium tuberculosis, penyebab tuberculosis paru. Selain itu, ruang tinggal yang tidak mendapat sinar matahari yang cukup juga berisiko untuk didiami bakteri tuberkulosis.

Pada infeksi tuberkulosis paru, pembentukan cairan di rongga pleura bersifat eksudasi, dimana cairan yang ada merupakan hasil peradangan akibat infeksi bakteri tersebut.

4. Kanker

Beberapa jenis kanker berkaitan dengan munculnya cairan di rongga pleura. Jenis kanker yang paling sering menyebabkan penumpukan cairan di rongga paru misalnya kanker paru, kanker payudara, limfoma, leukemia, kanker ovarium, kanker lambung, sarkoma, dan melanoma.

Penanganan yang dilakukan terhadap penderita yang mengalami kondisi penumpukan cairan di rongga pleura sangat tergantung pada penyakit yang mendasarinya. Pertolongan pertama tentu saja meliputi pemberian oksigen, seperti yang didapatkan Pretty Asmara saat mendapat perawatan di rumah sakit.

Bila jumlah cairannya masih sedikit, pemberian obat-obatan dapat dilakukan untuk mengurangi jumlahnya di rongga tersebut. Namun bila jumlah cairannya sangat banyak, kemungkinan diperlukan tindakan yang lebih invasif seperti pembedahan.

Kondisi sesak napas yang dialami Pretty Asmara sebelum meninggal merupakan akibat dari penumpukan cairan di antara organ paru dan pleura atau selaput pembungkusnya. Kondisi ini ternyata dapat disebabkan oleh beragam penyakit seperti yang dipaparkan di atas. Sangat penting bagi Anda untuk selalu waspada terhadap setiap gejala penyakit yang Anda alami. Jangan pernah ragu untuk berkonsultasi kepada dokter, agar Anda bisa dapat melakukan pencegahan sejak dini.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar