Sukses

Penyebab Bayi Kuning setelah Lahir

Bayi kuning setelah lahir bisa merupakan hal yang wajar, tapi bisa juga membahayakan. Mari kenali berbagai penyebabnya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Pasti rasanya sedih ketika seorang ibu tak bisa membawa bayinya pulang segera ke rumah setelah persalinan karena bayinya kuning setelah lahir dan butuh terapi sinar. Bayi kuning setelah lahir bisa merupakan hal yang wajar, tapi bisa juga menandakan kondisi serius untuk sang bayi.

Bayi yang terlahir sehat bisa mengalami kuning atau sering disebut dengan jaundice atau icterus. Pada beberapa bagian tubuh bayi, bisa dilihat perubahan warna menjadi kuning, antara lain di mata, telapak tangan, maupun tubuh.

Kenali jenis bayi kuning setelah lahir

Jaundice terjadi karena adanya peningkatan bilirubin total dalam tubuh, yaitu >5mg/dL. Ada dua jenis jaundice pada bayi, yaitu fisiologis dan patologis.

  • Jaundice fisiologis

Bayi dikatakan mengalami jaundice fisioliogis apabila muncul pada usia 2-3 hari dan hilang pada hari ke-7 dan kadar bilirubin total tidak lebih dari  5mg/dL.

Jaundice fisiologi umumnya terjadi karena dua hal. Pertama, adanya peningkatan produksi bilirubin di dalam tubuh karena usia sel darah merah yang relatif lebih pendek, dan konsentrasi Hb yang tinggi pada bayi baru lahir menurun pada awal kehidupan. Kedua, kondisi ini diakibatkan karena ekskresi bilirubin menurun. Kondisi ini disebabkan karena sistem organ hati pada bayi belum bekerja secara sempurna.

  • Jaundice patologis

Jaundice mengarah ke patologis apabila bayi terlahir prematur. Warna kuning akan muncul pada awal kehidupannya, menetap hingga usia lebih dari 7 hari, dan mengalami kenaikan bilirubin >5mg/dL per harinya. Contoh keadaan jaundice patologis adalah pada keadaan infeksi berat atau sepsis, atresia bilier (saluran empedu tidak terbentuk sempurna), dan infeksi TORCH.

Bayi kuning juga bisa berhubungan dengan ASI

Tahukah Ibu bahwa kuning dapat terjadi karena ASI? Bayi yang mendapat ASI eksklusif dapat mengalami kenaikan bilirubin yang disebut breastfeeding jaundice dan breast milk jaundice.

Penyebab terjadinya breastfeeding jaundice adalah kurangnya asupan ASI, karena biasanya ASI mulai keluar 2-3 hari setelah melahirkan dan produksinya pun belum terlalu banyak. Breastfeeding jaundice tidak memerlukan pengobatan secara spesifik dan bayi tidak perlu diberikan pengganti ASI seperti air putih, air gula, atu susu formula.

Perlu diketahui juga bahwa bayi yang terlahir dalam keadaan sehat dan cukup bulan mempunyai cadangan cairan dan energi yang dapat mempertahankan metabolismenya selama kurang lebih 72 jam.

Satu-satunya solusi untuk mengatasi breastfeeding jaundice adalah pemberian ASI. Ibu harus bersabar dan memberikan kesempatan pada bayinya untuk menyusu lebih lama, karena ASI dan kolostrum akan cepat keluar apabila dirangsang dengan isapan bayi secara terus-menerus.

Pada breast milk jaundice, umumnya dicirikan dengan tingginya bilirubin indirek dalam tubuh bayi setelah usia hari 4-7 dan berlangsung lebih lama dibandingkan dengan breastfeeding jaundice.

Sampai saat ini, penyebab breast milk jaundice masih belum diketahui dengan jelas. Namun, kondisi ini diyakini berhubungan dengan pemberian ASI dari seorang ibu tertentu dan akan timbul pada setiap bayi yang disusuinya.

Breast milk jaundice bergantung pada kemampuan bayi dalam memetabolisme bilirubin indirek. Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab breast milk jaundice antara lain karena belum siapnya flora normal di dalam usus bayi atau adanya peningkatan konsentrasi asam lemak bebas di ASI.

Apabila bayi masih kuning dan bilirubin tinggi, maka dokter akan memutuskan untuk melakukan tata laksana lebih lanjut, yaitu dengan fototerapi atau dilakukan transfusi tukar. Meskipun dilakukan tata laksana lanjut, pemberian ASI harus tetap diberikan dan tidak boleh digantikan dengan air gula, air putih, maupun susu formula.

Apa tanda bahaya yang perlu di perhatikan apabila bayi mengalami kuning?

Jika bayi mengalami kuning, pastikan pemberian ASI cukup setiap 2 jam sekali. Beberapa hal yang perlu diwaspadai adalah apabila bayi cenderung menjadi lemas, tidak aktif, dan menyusu kurang. Segera bawa ke dokter spesialis anak untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Komplikasi terburuk dari tingginya bilirubin adalah kern icterus. Dalam kondisi ini terjadi kerusakan otak akibat tingginya kadar bilirubin di dalam tubuh, yang ditandai dengan kejang, penurunan kesadaran, ketulian, bahkan kematian.

Jika bayi kuning setelah lahir, jangan langsung panik karena ini bisa saja respons bayi yang wajar. Namun, segera konsultasikan ke dokter spesialis anak apabila kuning tidak menghilang setelah lebih dari 7 hari. Pada masa ini, perhatian keadaan bayi setiap harinya secara saksama dan jangan lupa untuk tetap memberikan ASI sesuai dengan porsinya.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar