Sukses

4 Dampak Psikis yang Dialami Korban Pelecehan Seksual

Pelecehan seksual tak bisa dianggap sepele, karena dapat menyebabkan berbagai efek negatif pada korbannya.

Klikdokter.com, Jakarta Pekan ini publik dihebohkan dengan pemberitaan tentang pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah satu pengemudi transportasi online terhadap penumpangnya. Bermula dari jejaring sosial, seorang pengguna twitter menceritakan bahwa rekannya baru saja dipaksa untuk berciuman dengan sang pengemudi dan mendapatkan teror pesan singkat sesudah kejadian. Berita ini viral dan mengundang perhatian warganet.

Ya, kasus pelecehan seksual dan kekerasan seksual, terutama pada kaum wanita, memang layak mendapatkan perhatian khusus. Komnas Perempuan menemukan bahwa setiap hari setidaknya 35 wanita di Indonesia menjadi korban pelecehan seksual. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat setiap tahunnya.

Tak melulu mengancam keselamatan korban, tindakan pelecehan seksual juga dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Sentuhan fisik, sentuhan non-fisik seperti siulan atau isyarat seksual yang menimbulkan rasa risih, ucapan yang berhubungan dengan pornografi, dan berbagai hal lain yang menyebabkan rasa tidak nyaman juga diperhitungkan sebagai tindakan pelecehan seksual.

Terlepas dari hal tersebut, tindakan pelecehan seksual itu sendiri harus disikapi dengan serius. Bukan hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, pelecehan seksual juga membuat korban rentan mengalami berbagai gangguan psikis. 

Berikut empat di antaranya:

1. Gangguan cemas

Cemas merupakan reaksi psikologis yang normal ketika seseorang menghadapi keadaan mencekam atau situasi di luar harapannya. Namun, jika hal tersebut terjadi berkepanjangan dan berdampak pada kehidupannya sehari-hari, maka bisa jadi merupakan pertanda dari gangguan cemas.

Gangguan cemas ditandai dengan kecemasan atau rasa khawatir berlebih mengenai peristiwa sehari-hari tanpa adanya alasan yang jelas. Kecemasan tersebut tidak bisa dikendalikan sehingga menimbulkan stres dan menyebabkan gangguan pada kehidupan sosial penderita.

2. Depresi

Tak semua korban pelecehan seksual berani untuk bicara dan melaporkan apa yang dialaminya. Korban yang memilih untuk diam lebih rentan untuk mengalami depresi. Bila sudah depresi, gejala utamanya adalah merasa sedih atau tertekan sepanjang hari, mudah lelah dan tak memiliki tenaga untuk beraktivitas, serta kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya disukai.

Tak hanya itu, penderita pelecehan seksual yang depresi juga dapat mengalami gangguan tidur (menjadi sulit atau terlalu banyak tidur), nafsu makan berkurang, sulit berkonsentrasi dalam belajar atau bekerja, serta merasa dirinya tak berharga.

3. Trauma

Trauma, atau secara medis disebut sebagai posttraumatic stress disorder (PTSD), merupakan gangguan psikologis yang rentan dialami korban pelecehan seksual tingkat lanjut, seperti percobaan pemerkosaan.

Pada gangguan ini, penderitanya terbayang-bayang akan kejadian pelecehan seksual yang dialaminya secara berkepanjangan. Mereka juga sering mengalami mimpi buruk tentang hal tersebut dan berusaha menghindari segala sesuatu yang dapat membangkitkan ingatan tentang kejadian mengerikan yang pernah dialaminya.

4. Histeria

Histeria, atau disebut juga dengan gangguan konversi, merupakan salah satu gangguan psikologis ekstrem yang bisa terjadi pada korban pelecehan seksual. Gejala histeria umumnya berupa hilangnya fungsi salah satu bagian tubuh secara mendadak tanpa adanya penyakit fisik yang menyebabkannya.

Misalnya, pada penderita pelecehan seksual yang dipaksa untuk menyentuh daerah kelamin pelaku, tak lama setelah kejadian, penderita mengeluh tangannya lumpuh padahal tak ada penyakit yang dialaminya. Histeria umumnya terjadi karena kondisi stres dan emosi yang berat.

Mengatasi dampak buruk pelecehan seksual

Agar dapat terhindar dari segala efek negatif, korban pelecehan seksual sebaiknya melakukan langkah-langkah berikut ini:

  • Bicara dengan seseorang yang dapat dipercaya tentang kejadian pelecehan seksual yang dialami. Jangan menyimpannya sendiri, karena tak akan menyelesaikan masalah.
  • Jika berbagai pihak menanyakan tentang kejadian tersebut berulang-ulang dan hal itu menyebabkan rasa tak nyaman, korban pelecehan seksual punya hak untuk menentukan kapan dan kepada siapa ia ingin bicara.
  • Apabila merasakan tekanan psikologis yang mengganggu, jangan ragu untuk meminta bantuan dan pendampingan dari psikolog atau psikiater.

Supaya kasus pelecehan seksual dapat ditangani dengan baik dan tidak menimbulkan gangguan pada korban, kerja sama yang baik antara penegak hukum, korban pelecehan seksual, keluarga terdekat korban, serta psikolog atau psikiater sangat penting. Karena itu, jangan tinggal diam dan segera laporkan bila Anda mengetahui atau sempat menjadi salah satu korban pelecehan seksual.

(NB/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar