Sukses

Pewarna Makanan Bikin Anak Jadi Hiperaktif?

Pewarna makanan dianggap bisa tingkatkan perilaku hiperaktif pada anak. Benarkah?

Klikdokter.com, Jakarta Coba perhatikan, makanan yang dijual untuk anak-anak pasti berwarna-warni dan cerah ceria. Ini bukannya tanpa alasan. Makanan berwarna-warni tersebut akan menarik minat anak untuk membeli dan memakannya. Tentu orang tua harus lebih cermat, karena bisa saja makanan tersebut mengandung pewarna makanan buatan. Pasalnya, ada pendapat yang mengatakan bahwa pewarna makanan memicu perilaku hiperaktif pada anak. Apa iya?

Sebuah studi di Inggris pada tahun 2007 menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan yang mengandung pewarna bisa meningkatkan perilaku hiperaktif pada anak, demikian dikutip dari Scientific American.

Setelah studi ini dibeberkan ke publik, Food and Drug Administration (FDA) mengadakan pertemuan dengan Food Advisory Committee untuk meninjau studi tersebut. Mereka lalu mengatakan bahwa tidak ada bukti yang cukup bahwa pewarna buatan menyebabkan hiperaktivitas pada populasi umum, karenanya diperlukan penelitian lebih lanjut.

Pada tahun 2012, sebuah studi meta-analisis menyimpulkan bahwa pewarna makanan memiliki efek pada perilaku hiperaktif anak-anak. Tapi peneliti mengatakan bahwa studi lebih lanjut diperlukan karena begitu banyak studi hanya mengobservasi sejumlah kecil orang.

Lebih lanjut, studi meta-analisis tersebut menunjukkan bahwa mengeliminasi makanan yang mengandung pewarna buatan dalam pola makan sehari-hari berhasil menurunkan hiperaktivitas. Tapi peneliti mengatakan, ini mungkin karena menghilangkan makanan olahan dalam diet secara umum lebih sehat.

1 dari 2 halaman

Sekilas tentang perilaku hiperaktif, atau ADHD

Pernah dengar mengenai attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD)?  Gangguan jangka panjang ini bisa dialami oleh siapa saja, baik itu anak-anak maupun dewasa. Gejala yang dialami anak ADHD meliputi perilaku impulsif dan hiperaktif serta sulit konsentrasi.

Kondisi ADHD pada anak sering kali tidak terdeteksi. Saat mulai masuk sekolah, orang tua biasanya mendapatkan laporan guru mengenai perilaku anak yang tidak dapat diam. Dari hal ini, barulah gangguan ADHD pada anak terdeteksi dan dieksplorasi lebih lanjut.

Menurut dr. Theresia Rina Yunita dari KlikDokter, ADHD yang tidak segera ditangani dapat menimbulkan komplikasi, mulai dari yang ringan hingga yang membahayakan.

“Beberapa yang bisa terjadi, misalnya gangguan dalam belajar sehingga mengganggu prestasi akademis. Selain itu, meningkatnya aktivitas tanpa disertai dengan konsentrasi sehingga rawan mengalami kecelakaan. Akibatnya bisa terjadi trauma kepala atau patah tulang.”

Untuk itu, penting bagi orang tua untuk mengenal tanda dan gejala ADHD pada anak. Perlu diketahui juga bahwa tidak semua anak yang hiperaktif atau sulit berkonsentrasi mempunyai ADHD. Anak yang dalam keadaan sehat juga kadang berperilaku sangat aktif. Agar energi anak tersalurkan dengan baik, pastikan anak memiliki cukup aktivitas fisik.

Jika memang ingin memastikan apakah anak hanya hiperaktif atau memiliki ADHD, Anda harus berkonsultasi dengan ahlinya. Untuk menegakkan diagnosis ADHD, diperlukan kerja sama dari berbagai pihak, mulai dari orang tua, dokter anak maupun psikiatri.

Sudah lama para ilmuwan meneliti hubungan antara pewarna makanan dan perilaku hiperaktif pada anak-anak, tetapi hasilnya beragam. Alhasil, sampai saat ini tidak ada bukti konklusif yang dapat menunjukkan bahwa pewarna makanan menyebabkan perilaku hiperaktif atau ADHD. Namun, tak ada salahnya untuk lebih waspada dengan makanan anak yang berwarna-warni. Bagaimanapun, makanan alami tanpa proses pengolahan berkali-kali jauh lebih sehat untuk kesehatan.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar