Sukses

Ini yang Perlu Anda Tahu tentang Sindrom Patah Hati

Tahukah Anda bahwa terdapat suatu masalah medis yang bernama sindrom patah hati? Ini gejala dan tanda-tandanya.

Klikdokter.com, Jakarta Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Pepatah tersebut rupanya ada benarnya. Ditinggal pasangan, kematian orang tersayang, putus cinta, hubungan tidak direstui orang tua, diselingkuhi, dan masih banyak lagi alasan seseorang bisa mengalami patah hati.

Anda pasti tahu bahwa patah hati tak sekadar membuat dunia “runtuh” seketika. Namun juga bisa berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan. Bahkan, secara medis, ada yang disebut dengan sindrom patah hati.

Saat mengalami patah hati yang membuat Anda sangat stres, tubuh akan memproduksi hormon adrenalin dan kortisol secara berlebihan. Hal ini dapat meningkatkan denyut jantung secara signifikan, sehingga kesehatan organ jantung bisa terancam. Selain itu, stres emosional akibat patah hati juga dapat menurunkan kekebalan tubuh dan menyebabkan timbulnya peradangan dan penyakit.

Seperti dilansir oleh American Heart Association, stres kronis dan berkepanjangan dapat memicu pengeluaran hormon kortisol dan adrenalin. Peristiwa ini bisa menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah, yang lama-kelamaan sangat berbahaya bagi kesehatan jantung.

Lantas, apa itu sindrom patah hati?

Broken heart syndrome atau sindrom patah hati adalah suatu penyakit atau gangguan yang terjadi pada jantung, bersifat sementara, dan seringkali disebabkan oleh situasi stres akibat kehilangan orang yang dicintai atau putus cinta.

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan di jurnal JAMA Internal Medicine, risiko penyakit jantung atau stroke meningkat hingga tiga kali lipat pada tiga bulan pertama setelah kematian orang yang disayangi.

Berita buruknya, peningkatan risiko penyakit mematikan tersebut juga berlaku untuk mereka yang sempat mengalami penolakan cinta, bercerai, atau masalah percintaan lainnya. Bahkan, para ahli percaya bahwa orang yang merasakan kesenangan akibat menang undian atau lotere juga bisa mengalami apa yang terjadi akibat sindrom patah hati.

Latar belakang dari peristiwa tersebut adalah gangguan sementara dari fungsi pompa jantung. Ya, terlalu shock akibat putus cinta atau merasakan kesenangan yang tidak diduga-duga bisa menyebabkan gangguan poma jantung atau disebut takotsubo syndrome.

Takotsubo syndrome terjadi saat otot jantung yang "sakit" tidak dapat memompa darah secara normal ke seluruh tubuh. Hal ini bila dibiarkan dapat menyebabkan terjadinya gagal jantung dan hilangnya nyawa orang yang mengalaminya.

Apa saja gejala sindrom patah hati?

Gejala yang umum ditemui pada sindrom patah hati adalah nyeri dada (angina) dan sesak napas. Aritmia atau gangguan irama jantung juga seringkali dialami oleh penderita sindrom tersebut.

Karena gejalanya mirip dengan serangan jantung, seringkali sindrom patah hati salah diartikan sebagai serangan jantung. Padahal, jika dilakukan pemeriksaan lebih detail, tidak ada sumbatan pada pembuluh darah jantung pada pasien. Meski demikian, gejala-gejala dari sindrom patah hati tergolong mudah ditangani, bahkan bisa sembuh dengan sendirinya dalam kurun waktu satu minggu.

Namun, jika suatu saat Anda mengalami nyeri dada yang terjadi tiba-tiba, dada berdebar cepat atau sesak, jangan tunda untuk segera membawa diri ke rumah sakit. Di sisi lain, jika Anda merasa tidak mampu lagi menanggung beban atau masalah akibat patah hati, berceritalah dengan orang terdekat. Jika perlu, Anda bisa berkonsultasi dengan psikolog atau konselor. Jangan biarkan sindrom patah hati menggerogoti kesehatan Anda dari dalam secara diam-diam!

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar