Sukses

Mitos dan Fakta Seputar Insulin pada Diabetes Mellitus Tipe 2

Ada beberapa mitos yang beredar mengenai insulin pada penyandang diabetes mellitus tipe 2. Jangan salah informasi, inilah fakta sebenarnya!

Klikdokter.com, Jakarta Diabetes mellitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik yang terjadi akibat gaya hidup tidak sehat. Penyakit ini ditandai dengan kondisi kadar gula darah tinggi (hiperglikemia), dan umumnya menyerang usia tua meski tak menutup kemungkinan untuk terjadi pada anak muda.

Karena diabetes mellitus tipe 2 berlangsung seumur hidup dan dapat merenggut nyawa penderitanya, tak sedikit orang yang mencari pengobatan alternatif hingga akhirnya terpancing dengan isu-isu negatif. Bahkan, tak sedikit yang juga termakan dengan mitos seputar terapi insulin pada kasus diabetes mellitus tipe 2. Apakah Anda salah satunya?

Jangan biarkan diri Anda terjerumus pada mitos menyesatkan terkait terapi insulin pada diabetes mellitus tipe 2. Inilah fakta medis di balik mitos-mitos tersebut:

Mitos 1. Terapi insulin tidak efektif untuk diabetes mellitus tipe 2

Faktanya, terapi insulin merupakan pilihan pengobatan yang bisa diterapkan oleh diabetes tipe 1 maupun tipe 2.

Ya, suntikan insulin mampu memberikan efek yang signifikan pada penderita diabetes mellitus tipe 2 yang kadar gula darahnya sulit terkontrol. Bahkan, terapi insulin bisa menjadi pilihan terbaik bagi orang yang baru dinyatakan mengalami diabetes mellitus tipe 2, khususnya jika ditemukan kadar gula darah puasa > 250 mg/dL, gula darah sewaktu > 300 mg/dL, atau HbA1c > 9%.

Mitos 2. Terapi insulin pada diabetes mellitus tipe 2 bisa meningkatkan berat badan.

Pada tahap awal terapi insulin, sebagian penderita diabetes mellitus tipe 2 mungkin akan mengalami peningkatan berat badan. Namun, pada kebanyakan kasus, hal tersebut hanya bersifat sementara dan berat badan bisa kembali turun seiring tubuh beradaptasi dengan penggunaan insulin.

Mitos 3. Terapi insulin harus digunakan selamanya oleh penderita diabetes mellitus tipe 2.

Suntik insulin sering dianggap sebagai terapi pilihan terakhir pada diabetes mellitus tipe 2. Padahal, bila kadar gula darah terkontrol dengan baik dan penderitanya menerapkan gaya hidup sehat, insulin dapat diganti dengan terapi obat hiperglikemik oral (OHO).

Tak hanya itu, terapi insulin pada diabetes mellitus tipe 2 juga dapat dihentikan jika penderita mengalami penurun berat badan yang terlalu signifikan. Pada kasus lainnya, seperti diabetes mellitus pada kehamilan, terapi insulin bisa digunakan hanya untuk sementara.

Mitos 4. Terapi insulin menyebabkan hipoglikemia pada penderita diabetes melitus tipe 2.

Kemungkinan bahwa terapi insulin bisa menyebabkan kadar gula darah terlalu rendah (hipoglikemia) pada penderita diabetes mellitus tipe 2 memang ada. Akan tetapi, kasus tersebut sudah semakin jarang ditemukan berkat kemajuan teknologi di bidang terapi insulin itu sendiri.

Di sisi lain, penderita diabetes mellitus tipe 2 tetap harus waspada jika muncul tanda-tanda hipoglikemia seperti tangan gemetar, berkeringat, pusing, dan kelaparan.

Mitos 5. Terapi insulin terasa sangat nyeri.

Penyuntikan insulin hampir tidak memberikan rasa sakit. Ini karena proses penyuntikkan dilakukan ke dalam lapisan lemak di bawah kulit, di mana tidak terdapat ujung saraf atau reseptor nyeri. Selain itu, jarum yang digunakan juga sangat kecil dan pipih sehingga rasa nyeri hampir tidak terasa.

Mitos 6. Terapi insulin hanya untuk penderita diabetes mellitus tipe 2 yang gagal mengontrol gula darah.

Diabetes mellitus tipe 2 merupakan penyakit yang bersifat progresif. Ini artinya, penyakit tersebut bisa saja memburuk dari waktu ke waktu sehingga kadar gula darah menjadi sulit terkontrol meski sudah melakukan diet, olahraga, atau konsumsi OHO. Jadi, jika penderita diabetes mellitus tipe 2 menggunakan insulin, bukan berarti dirinya gagal dalam mengontrol kadar gula darah.

Nah, itu dia fakta medis yang sebenarnya dari mitos seputar insulin pada diabetes mellitus tipe 2. Setelah mengetahuinya, diharapkan Anda bisa lebih bijaksana dalam menanggapi segala informasi, khususnya bila menyangkut seputar kesehatan.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar