Sukses

Adakah Efek Cacar Monyet pada Kesehatan Mulut?

Beberapa waktu lalu, ditemukan kasus warga Inggris yang terkena virus penyakit cacar monyet. Adakah pengaruhnya terhadap kesehatan mulut?

Klikdokter.com, Jakarta Pernahkan Anda mendengar tentang penyakit cacar monyet? Mungkin penyakit ini jarang terdengar, karena kebanyakan orang lebih tahu tentang penyakit cacar air. Saat ini, cacar monyet tengah menghiasi media karena ada warga Inggris yang terdiagnosis cacar monyet. Sebenarnya, penyakit apa ini? Apakah ada dampaknya terhadap kesehatan mulut?

Cacar monyet, atau dalam istilah kedokteran disebut sebagai monkeypox, adalah penyakit yang berasal dari virus yang ditularkan dari hewan ke manusia. Virus monkeypox ini sebagian besar ditularkan kepada orang-orang dari berbagai hewan liar seperti hewan pengerat dan hewan primata, tetapi memiliki penyebaran sekunder yang terbatas melalui penularan dari manusia ke manusia.

Mulanya, penyakit cacar monyet terjadi di wilayah terpencil di wilayah Afrika Tengah dan Afrika Barat. Pada dasarnya, penyakit ini hampir sama gejalanya dengan cacar air. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), meskipun cacar monyet tergolong lebih ringan dibandingkan cacar biasa, tapi cacar monyet juga bisa berakibat fatal bagi penderitanya.

Selain itu, jumlah lesi yang muncul pada cacar monyet dapat bervariasi dan memengaruhi membran mukosa mulut, genitalia, dan konjungtiva kelopak mata serta kornea. Namun, saat ini belum ada jurnal yang membahas tentang lesi tersebut pada mukosa mulut.

Gejala khas cacar monyet yang memengaruhi kesehatan mulut

Meski demikian, cacar monyet memiliki salah satu gejala khas dan dapat memengaruhi kesehatan mulut. Gejala inilah yang membedakannya dengan cacar air biasanya. Gejala yang dimaksud ini adalah pembesaran kelenjar getah bening pada leher atau rahang.

Kelenjar getah bening, atau istilah medisnya disebut sebagai lymphadenopathy, merupakan bagian dari sistem getah bening yang adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh. Getah bening merupakan getah atau cairan bening yang mengalir di sistem getah bening dan mengangkut limfosit (salah satu jenis sel darah putih).

Limfosit berperan dalam melindungi tubuh terhadap infeksi dan terhadap perkembangan kanker. Kelenjar getah bening dapat membesar karena adanya peningkatan limfosit atau makrofag sebagai respons kekebalan tubuh dari adanya agen infeksi (bakteri atau virus), baik karena keganasan kelenjar itu sendiri ataupun (limfoma), penumpukan bakteri, virus, jamur, ataupun sel-sel metastatis (sel sebar kanker dari paru, hidung, payudara) pada kelenjar tersebut.

Waspada pembesaran kelenjar getah bening

Pembesaran tersebut pada umumnya terjadi ketika infeksi. Biasanya sesudah infeksi mereda, maka kelenjar getah bening pun bakal mengempis dengan sendirinya. Namun, ketika ini terjadi, bukan berarti Anda bisa bernapas lega, karena pembengkakan tersebut mungkin bisa menjadi lebih serius dari tanda awalnya.

Kelenjar getah bening yang membengkak menyebabkan penderita mengalami kesulitan dalam menelan, sehingga jadi malas untuk makan maupun minum. Padahal, bila tidak ada aktivitas di dalam mulut, kondisi mulut akan bersifat asam sehingga bisa menyebabkan mulut menjadi kering atau xerostomia.

Xerostomia ini merupakan suatu kondisi rongga mulut terasa lebih kering. Penyakit ini terjadi karena adanya perubahan terhadap saliva atau air liur yang tidak bekerja dengan baik. Jika hal ini terjadi, maka dapat memicu timbulnya bau mulut, gusi menjadi mudah luka, hingga timbul sariawan dan penumpukan karang gigi.

Memang, cacar monyet belum menjamah Indonesia, tapi tak ada salahnya untuk tetap waspada. Cacar monyet bisa menyebabkan komplikasi, termasuk berdampak terhadap kesehatan mulut. Langkah pencegahan terbaik adalah dengan menjaga kesehatan agar tubuh tetap sehat, bugar, dan terhindar dari penyakit. Jika Anda mengalami beberapa gejala yang serupa, segera konsultasikan ke dokter agar segera mendapatkan penanganan yang tepat.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar