Sukses

Perlukah Cek Kesehatan Sebelum Ikut Lari Maraton?

Lari maraton perlu kesiapan fisik dan latihan intens. Meski kondisi dirasa siap dan fit, perlukah cek kesehatan sebelum lari maraton?

Klikdokter.com, Jakarta Maraton adalah olahraga lari jarak jauh dengan jarak tempuh sepanjang 42 km. Jarak tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap kondisi tubuh pelari. Pasalnya, saat lari maraton, seluruh organ tubuh akan berkerja keras untuk terus menghasilkan energi saat berlari. Karena termasuk olahraga berat, perlukah cek kesehatan sebelum ikut lari maraton?

Saat lari maraton, pelari membutuhkan energi yang cukup banyak tetap menjaga stamina selama berlari. Persiapan yang matang dengan latihan yang rutin sebelum perlombaan dapat membantu pelari agar berhasil menyelesaikan jarak tempuh.

Selain itu, kondisi tubuh yang sehat juga berperan krusial dalam membantu keberhasilan pelari dan terhindar dari berbagai risiko seperti peningkatan tekanan darah, pingsan, hingga henti jantung tiba-tiba. Inilah kenapa selain persiapan yang matang dan terukur, cek kesehatan sebelum ikut lari maraton penting untuk dilakukan.

Cek kesehatan seperti apa yang perlu dilakukan?

Berikut ini adalah beberapa pemeriksaan kesehatan yang perlu dilakukan para pelari sebelum ikut lari maraton.

1. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan kondisi tubuh pelari saat itu, termasuk kadar tekanan darah. Terkadang tekanan darah yang kadarnya tinggi tidak memberikan gejala, sehingga sebelum lari kondisi ini perlu dicermati. Tujuannya untuk menghindari peningkatan tekanan darah saat lari, karena dapat memicu terjadinya serangan jantung dan stroke.

Selain pemeriksaan tekanan darah, pelari juga disarankan untuk melakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan elektrokardiogram (EKG). Pemeriksaan EKG adalah suatu pemeriksaan untuk merekam aktivitas listrik jantung pada saat istirahat. Hasil yang menunjukkan abnormal dapat sejak dini ditangani oleh dokter sebelum lari maraton dimulai.

2. Pemeriksaan darah

Pemeriksaan darah ini adalah beberapa jenis, yaitu:

  • Pemeriksaan darah lengkap

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengukur kadar hemoglobin, sel darah putih (leukosit), dan trombosit darah. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah saat itu pelari memiliki daya tahan tubuh yang baik atau tidak, termasuk apakah pelari sedang mengalami infeksi atau tidak.

  • Pemeriksaan kadar gula darah

Pada saat lari maraton, pelari rentan mengalami penurunan kadar gula darah di dalam tubuh. Pemeriksaan kadar gula darah yang dilakukan sebelum lari dapat membantu melacak apakah pelari memiliki riwayat diabetes dan mengetahui kadar gula darah serta insulin saat itu. Sehingga, jika kadar yang didapat rendah, maka dapat dilakukan penanganan secepatnya agar kadar gula darah dalam tubuh tetap terjaga.

  • Pemeriksaan kesehatan jantung

Pemeriksaan kesehatan jantung terdiri dari dua macam, yakni:

  - Creatine phospokinase (CPK)

Pemeriksaan ini diperlukan untuk melihat kadar enzim creatine phosphokinase di dalam darah.  Enzim ini dapat ditemukan di organ jantung, otot, dan jaringan di otak. Jika terjadi kerusakan otot jantung, terjadi peningkatan kadar enzim CPK di dalam darah.

  - Pemeriksaan lemak darah (lipid)

Pemeriksaan kadar lemak darah seperti kadar kolesterol jahat (LDL) dan kolesterol baik (HDL) bertujuan untuk menentukan rasio HDL/LDL, yang mana hasilnya akan menentukan kondisi jantung pelari saat itu. Hasil rasio di atas 5 pada pria dan 4,4 pada wanita mengindikasikan adanya risiko penyakit jantung.

  • Pemeriksaan kesehatan tulang dan otot

Pemeriksaan kesehatan tulang dan otot, yang merupakan organ yang berperan penting saat lari maraton, dilakukan dengan mengukur kadar kalsium dan vitamin D. Kadar kalsium dan vitamin D yang rendah akan meningkatkan risiko terjadinya cedera otot atau ligamen, serta cedera tulang pada saat lari maraton berlangsung.

  • Tes fungsi ginjal

Fungsi ginjal yang baik di dalam tubuh akan membantu pelari saat lari maraton, karena ginjal berperan besar dalam menjaga keseimbangan air dan garam di dalam tubuh. Jika kadarnya seimbang, maka tekanan darah di dalam tubuh akan terus terjaga.

  • Tes fungsi hati

Saat lari maraton berlangsung, tubuh akan memproduksi racun sehingga perlu adanya mekanisme pengeluaran racun tersebut dari tubuh. Hal ini terkait dengan peranan hati. Oleh karenanya, tes ini diperlukan untuk mengetahui apakah fungsi hati dalam keadaan baik sebelum lari maraton dilangsungkan.

  • Pemeriksaan kadar hormon tiroid

Hormon tiroid membantu memberikan energi kepada sel-sel di dalam tubuh. Kekurangan kadar hormon tiroid bisa mengakibatkan energi di dalam tubuh terkuras dengan cepat, sehigga tubuh lebih mudah lelah dan lemas. Sedangkan jika kadar hormon tiroid meningkat, maka risiko terjadinya peningkatan tekanan darah dan detak jantung akan meningkat dan akan mengganggu kinerja pelari saat berlari.

Lari maraton yang jarak tempuhnya sekitar 42 km termasuk olahraga berat. Cek kesehatan yang lengkap dan memadai perlu dilakukan untuk menurunkan berbagai risiko yang timbul, termasuk yang bisa membahayakan nyawa. Untuk memastikan keberhasilan menyelesaikan jarak tempuh, lakukan persiapan jangka panjang yang rutin, dukung dengan pola hidup sehat, berlatih dengan instruktur kompeten, serta berkonsultasilah dengan dokter jika mengalami keluhan saat berlari.

[RN/ RVS]

 

0 Komentar

Belum ada komentar