Sukses

Saat Produksi ASI Turun, Lakukan Ini

Ketika produksi ASI turun, perasaan para ibu menyusui langsung campur aduk. Jangan khawatir, ada cara-cara untuk meningkatkannya kembali.

Klikdokter.com, Jakarta Ada masanya pemberian ASI terhalang oleh produksi ASI yang turun. Jika Anda mengalami ini, jangan langsung panik dan segera pergi swalayan untuk beli susu formula untuk memenuhi kebutuhan susu bayi. Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan produksi ASI.

Di Indonesia, kesadaran untuk menyusui dan memberikan ASI eksklusif sudah cukup tinggi. Hal ini terbukti dari adanya data yang menunjukkan bahwa 90 persen ibu pernah memberikan ASI kepada bayinya. Sayangnya, penelitian yang dilakukan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2015 menemukan hal yang berbeda, yaitu hanya 48,8 persen ibu yang memberikan ASI eksklusif selama enam bulan, sesuai dengan rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Data dari IDAI tersebut ternyata cukup sesuai dengan berbagai data lain dari luar negeri. Menurut Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, sekitar 75 persen ibu akan menyusui anaknya, tapi banyak dari mereka akan berhenti menyusui (baik parsial maupun total) dalam beberapa bulan pertama. Ternyata, salah satu alasan umum yang membuat ibu berhenti menyusui adalah kekhawatiran akan produksi ASI yang menurun atau tidak cukup.

Produksi ASI turun? Coba lakukan ini

Jika kebetulan Anda adalah seorang ibu menyusui dan memiliki kekhawatiran yang sama, perhatikan beberapa hal di bawah ini:

  1. Kekhawatiran vs produksi ASI turun

Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah memastikan apakah yang Anda rasakan ini adalah karena kekhawatiran semata, atau memang produksi ASI benar menurun?

Pelajari tanda-tanda objektif bahwa bayi kekurangan ASI. Pantau pertambahan berat badan bayi (gunakan kurva pertumbuhan WHO untuk anak baru lahir hingga usia 2 tahun) dan pantau BAK serta BAB bayi. Ingat, alasan bayi menangis bukan hanya karena lapar, tapi bisa juga karena tidak nyaman, kedinginan, kepanasan, atau berbagai sebab lainnya.

Jika sudah dipastikan bahwa memang benar ada penurunan produksi ASI, bukan hanya kekhawatiran, perhatikan faktor-faktor yang dapat menyebabkan menurunnya produksi ASI, misalnya:

  • Faktor emosional ibu, seperti kecemasan, stres, rasa tidak percaya diri, rasa malu, termasuk kekhawatiran berlebihan akan produksi ASI dapat menyebabkan penurunan produksi ASI.
  • Kondisi medis, seperti hipertensi akibat kehamilan, diabetes, atau sindrom ovarium polikistik (PCOS).
  • Obat-obatan, seperti KB hormonal atau preparat yang mengandung pseudoefedrin (sering kali ditemukan dalam obat flu dan alergi).
  • Merokok dan konsumsi alkohol.
  • Riwayat operasi pada payudara.
1 dari 3 halaman

Selanjutnya

  1. Perhatikan teknik menyusui

Latching adalah posisi bayi saat menyusui. Posisi latching yang tepat sangat memengaruhi produksi ASI. Berdasarkan IDAI, tanda latching yang tepat adalah:

  • Dagu menyentuh payudara
  • Mulut terbuka lebar
  • Bibir bawah terputar keluar
  • Lebih banyak areola bagian atas yang terlihat dibanding bagian bawah
  • Tidak menimbulkan rasa sakit pada puting susu

Perhatikan juga frekuensi Anda menyusui. Produksi ASI memiliki prinsip supply and demand, artinya ASI akan diproduksi jika simpanannya habis. Sebaiknya, bayi disusui setiap 2-3 jam sekali. Jika bayi Anda tidur saat menyusu, bangunkan ia, terutama jika sudah ada jeda waktu 3,5 jam sejak waktu menyusui terakhir.

Terkadang, bayi terus mengantuk selama beberapa minggu pertama kehidupannya sehingga ia sering tertidur saat sedang menyusui. Bantu si Kecil tetap terjaga dengan mengelus-elus kakinya, mengganti popok bayi, membuat bayi berserdawa, atau membuka bedungnya.

Perhatikan agar kedua payudara Anda kosong setelah bayi menyusui, sehingga terdapat demand untuk kembali memproduksi ASI. Anda dapat menggunakan pompa untuk membantu pengosongan payudara setelah bayi menyusui atau memompa ASI di antara jarak waktu bayi menyusui. Saat menyusui bayi, perhatikan untuk mengosongkan satu payudara terlebih dahulu sebelum menyusui pada payudara sebelahnya.

Hindari melewatkan waktu menyusui atau mengganti asupan ASI dengan susu formula. Kedua hal ini dapat mengganggu pengosongan payudara Anda, sehingga mengurangi demand untuk produksi ASI. Akibatnya, produksi ASI jadi semakin menurun.

Pertambahan berat bayi yang diberi ASI umumnya lebih lambat pada tahun pertama dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula. Pertambahan berat bayi yang lebih lambat ini bukan tanda bayi tidak sehat. Pemberian ASI saja (tanpa tambahan seperti air, jus, dan makanan lain) sudah cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan optimal bayi dalam 6 bulan pertama kehidupannya.

Anda dapat juga mencoba meningkatkan refleks mengisap bayi dengan melakukan metode finger feeding. Caranya, cuci tangan lalu masukkan jari tangan ibu yang bersih hingga menyentuh langit-langit mulut bayi.

2 dari 3 halaman

Selanjutnya (2)

  1. Usahakan skin-to-skin contact

Kontak langsung dengan bayi akan membantu produksi ASI. Untuk ibu menyusui, melakukan hal ini dapat membantu bonding dengan bayi dan meningkatkan produksi ASI. Sedangkan untuk bayi, kegiatan ini mengurangi stres pada bayi, membantu regulasi suhu tubuh bayi, memperbaiki pernapasan, dan membantu bayi menyusui lebih lama.

Skin-to-skin contact ini juga sering dikenal dengan nama kangaroo mother care (KMC). Cara melakukannya, biarkan bayi telanjang (dapat tetap menggunakan popok dan topi) lalu diletakkan pada dada ibu (buka pakaian dalam Anda) sehingga ada kontak kulit antara Anda dan bayi. Tutupi bayi dengan selimut selama melakukan KMC agar tidak kedinginan.

  1. Perhatikan diet Anda

Untuk memproduksi ASI, diperlukan energi yang didapatkan dari makanan. Ibu menyusui membutuhkan tambahan sekitar 500 kalori setiap harinya. Usahakan konsumsi makanan yang tinggi zat besi (daging, sayuran hijau, brokoli, dan lain-lain) dan tinggi serat (buah dan sayur) untuk menjaga diri tetap sehat selama menyusui. 

ASI pun juga membutuhkan cairan, karena 90 persen terdiri dari cairan. Perhatikan kecukupan cairan Anda selama menyusui. Keluhan pusing, mulut kering, haus, dan sakit kepala dapat menjadi penanda bahwa Anda kurang minum.

Demikian beberapa tips yang bisa Anda lakukan saat produksi ASI turun. Jika tidak membantu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak atau konsultan laktasi sehingga Anda tetap dapat memberikan yang terbaik untuk buah hati tercinta.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar