Sukses

Efek Guncangan Gempa Lombok bagi Ibu Hamil

Gempa mengguncang wilayah Lombok pada Minggu (29/07). Kesehatan ibu hamil juga ikut dipertaruhkan saat bencana alam ini terjadi.

Klikdokter.com, Jakarta Gempa Lombok yang terjadi pada Minggu (29/7) lalu meninggalkan duka yang mendalam. Setidaknya 14 orang dikabarkan meninggal dan ribuan rumah rusak berat akibat guncangan dahsyat yang ditimbulkan. Tak hanya meninggalkan trauma dan gangguan kesehatan penduduk di sekitar area, tapi juga mengancam ibu hamil dan bayi yang ada di dalam kandungan.

Dampak gempa pada ibu hamil mulai banyak diteliti setelah gempa hebat yang terjadi di Chile pada tahun 2005. Kala itu gempa berkekuatan 7.8 skala Richter cukup memorakporandakan daerah di sekitar pusat gempa. Sebanyak 11 orang dinyatakan meninggal dan 200 lainnya menderita luka-luka.

Beberapa bulan setelahnya, pemerintah setempat mencatat adanya peningkatan signifikan pada kelahiran bayi prematur. Tak hanya itu, bayi- bayi yang lahir pun cenderung berbobot rendah. Setelah ditelaah, ternyata bayi- bayi prematur dan berbobot rendah tersebut terlahir dari ibu yang mengalami gempa bumi pada masa kehamilannya.

1 dari 3 halaman

Stres pikiran dan trauma

Ibu hamil yang mengalami gempa bumi disinyalir mengalami stres psikis dan trauma, ringan hingga berat. Stres dan trauma inilah yang akan menyebabkan pelepasan hormon kortikotropin atau hormon “stres” yang berpotensi memicu gangguan kehamilan.

Gangguan tersebut kemudian dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur dan menimbulkan masalah pada perkembangan bayi. Akibatnya, bayi yang dilahirkan memiliki berat lahir di bawah angka normal.

Akan tetapi, berbagai dampak kesehatan kehamilan ini hanya terjadi pada ibu hamil yang mengalami gempa bumi di trimester pertama. Ibu yang tengah hamil di trimester kedua dan ketiga saat gempa bumi terjadi tidak mengalami dampak bermakna terhadap kandungannya.

2 dari 3 halaman

Dampak kelahiran prematur & berat lahir rendah

Kelahiran prematur dan berat lahir rendah tentunya akan berdampak pada tumbuh kembang sang bayi itu sendiri. Salah satu yang dipertaruhkan adalah kekebalan tubuh sang bayi.

Bayi yang lahir prematur berisiko lebih tinggi terserang berbagai penyakit karena daya tahan tubuhnya yang belum sempurna dibandingkan bayi lahir cukup bulan. Serangan berbagai kuman penyakit ini berpotensi menyebabkan bayi sering sakit. Akibatnya, pertumbuhannya akan semakin terganggu dan perkembangan kognitifnya dipertaruhkan.

Dari segi fisik, stunting atau tumbuh kerdil adalah dampaknya. Dari sisi kognitif, kemampuan belajar dan IQ yang jadi korbannya. Bagi ibu yang mengalami gempa bumi Lombok yang lalu, kelahiran bayi prematur ini dapat dicegah dengan berbagai cara, seperti:

● Cari dukungan dan pertolongan untuk atasi stres

Stres yang tersisa dari bencana gempa bumi memang sulit untuk dihindari, tapi pertolongan tetap dapat dicari. Sampaikan apa yang Anda rasakan kepada kerabat terdekat dan bila perlu minta dampingan psikolog untuk membantu melewati masa-masa penuh trauma ini.

● Kontrol rutin

Pastikan ibu hamil melakukan kontrol rutin sepanjang usia kehamilan agar perkembangan janin dapat dipantau secara ketat. Deteksi dini gangguan perkembangan kehamilan merupakan kunci agar ibu dan juga sang bayi tetap sehat hingga persalinan nanti.

● Kenali tanda persalinan dini

Mengenali tanda persalinan diri seperti kontraksi hebat, pecah ketuban, dan adanya bercak darah yang keluar dari jalan lahir adalah cara untuk menjaga kehamilan tetap lancar dan sehat. Bilamana terdapat tanda-tanda tersebut, dokter dapat memberikan beberapa pengobatan untuk mempertahankan kehamilan dan menundanya hingga waktu persalinan tiba.

Setiap ibu hamil wajib menjaga kesehatan demi dirinya sendiri dan bayi yang ada dalam kandungannya. Bila gempa Lombok kemarin menyisakan luka, baik fisik maupun psikis, segera cari penanggulangannya. Dengan penanganan yang tepat, berbagai dampak negatifnya dapat dicegah. Kehamilan lancar, ibu dan bayi pun akan senantiasa sehat hingga waktu persalinan tiba.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar