Sukses

Gelombang Panas di Jepang, Heatstroke Tewaskan Puluhan Orang?

Hingga kini, puluhan orang tewas di berbagai lokasi di Jepang akibat gelombang panas yang masih melanda. Apakah heatstroke penyebabnya?

Klikdokter.com, Jakarta Lepas dari bencana banjir bandang, Jepang dilanda gelombang panas sejak pertengahan Juli lalu. Dilansir dari Kyodo News, gelombang panas ini telah menewaskan 44 orang dan 11 orang sedang dalam kondisi kritis tersebar di beberapa lokasi. Diduga kuat heatstroke menjadi penyebabnya

Pada hari Senin (23/7), termometer memperlihatkan suhu puncak pada 41,1 derajat Celcius di Kumagaya, tak jauh dari Tokyo. Angka ini memecahkan rekor suhu terpanas di Jepang sebelumnya, yaitu 40 derajat Celcius pada tahun 2013. Menurut Badan Meteorologi Jepang (JMA), angka  tersebut 12 derajat lebih panas daripada suhu rata-rata pada tahun ini.

Pihak berwenang telah memperkirakan suhu ekstrem tertinggi akan menerpa sebagian besar pulau Honshu, Shikoku, dan Kyushu. Sementara Hokkaido bagian utara diprediksi sebagai satu-satunya dari empat pulau utama di Jepang yang terhindar atau paling minimal terdampak dari gelombang panas.

“Ada kemungkinan bahwa suhu tinggi ini akan berlanjut hingga puncaknya pada awal bulan Agustus,” kata Ketua Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga seperti dilansir di laman BBC.

"Potensi terkena penyakit akibat serangan panas ini bisa lebih tinggi dari biasanya. Segera ambil tindakan tepat termasuk minum banyak air, menghindari paparan sinar matahari secara langsung dan nyalakan pendingin ruangan,” lanjutnya. Bahkan, pada suhu yang lebih rendah, sengatan panas ini dapat berbahaya bagi anak-anak dan lansia.

1 dari 3 halaman

Masyarakat waspadai heatstroke

Pada musim panas ini, Kyodo News melaporkan bahwa lebih dari 10.000 orang di Jepang mendapat perawatan di rumah sakit sebagai dampak dari kenaikan suhu ini. Pada hari Minggu (22/7), beberapa lansia dikabarkan meninggal dunia akibat panas yang hebat di prefektur sekitar Tokyo.

Sedangkan sehari sebelumnya, Dinas Pemadam Kebakaran Tokyo mengirimkan ambulans sekitar 3.125 kali di ibu kota, angka terbesar dalam sehari sejak dimulainya layanan panggilan darurat ini tahun 1936. AFP melaporkan bahwa heatstroke dan kelelahan berkontribusi pada panggilan darurat ini. Bahkan, Gubernur Tokyo Yuriko Koike mendeskripsikan gelombang panas yang menerpa Jepang ini sebagai, “Seperti hidup di ruang sauna.”

Heatstroke atau sengatan panas merupakan suatu kondisi kegawatan yang terjadi ketika suhu tubuh terlalu panas, disertai hilangnya kemampuan tubuh untuk menurunkan suhu. Pada kondisi heatstroke, suhu tubuh bisa meningkat hingga mencapai 40 derajat Celcius atau lebih.

“Umumnya, heatstroke disebabkan oleh paparan terhadap suhu panas di luar tubuh dalam jangka waktu lama. Namun, heatstroke juga dapat disebabkan oleh aktivitas fisik atau olahraga berat di cuaca yang panas,” kata dr. Andika Widyatama dari KlikDokter.

Gejala-gejala yang menyertai heatstroke biasanya berupa penurunan kesadaran, kejang, sakit kepala, mual, muntah, bicara cadel, frekuensi napas cepat dan dangkal. Gejala lainnya adalah peningkatan frekuensi nadi, kulit memerah, serta kulit terasa panas dan kering.

2 dari 3 halaman

Kiat cegah heatstroke

Untuk mencegah terjadinya heatstroke, dr. Andika menuturkan beberapa hal yang bisa dilakukan supaya dampaknya tidak fatal.

  • Memakai pakaian yang longgar dan ringan untuk memudahkan tubuh dalam mengeluarkan panas.
  • Penuhi asupan cairan dengan minum cukup air, akibat cairan yang keluar dari tubuh melalui keringat.
  • Hindari aktivitas luar ruangan dalam keadaan panas dan terik.
  • Lindungi diri dari sengatan sinar matahari dengan menggunakan topi, payung, kacamata hitam, dan tabir surya.

Sementara untuk penanganan heatstroke, inilah langkah-langkah yang harus dilakukan:

  • Pindahkan korban ke tempat yang suhunya lebih dingin atau ke dalam ruangan berpendingin.
  • Siram atau rendam tubuh korban dengan air dingin selama 15-20 menit.
  • Beri korban air putih atau minuman lainnya untuk menurunkan suhu tubuhnya.

Selain heatstroke, analis AccuWeather, Joel N. Myers, mengatakan kepada CNN bahwa kematian mungkin sudah mencapai ratusan meski angka resmi masih ada di angka puluhan.

“Orang tua dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan terdahulu seperti asma dan gagal jantung, kemungkinan akan mengalami penurunan kondisi sebagai dampak dari gelombang panas ini,” katanya.

Gelombang panas yang tengah melanda Jepang saat ini juga turut dialami di beberapa negara lain seperti Inggris dan juga negara-negara Eropa Selatan. Inggris bahkan mengalami suhu tertinggi selama 50 tahun terakhir. Dampak ini juga mengakibatkan kekeringan di negara-negara seperti Polandia, Latvia, Finlandia, dan Swedia. Semoga gelombang panas yang melanda ini perlahan mereda dan segera berakhir. Sehingga tak ada lagi korban yang berjatuhan akibat heatstroke atau kondisi lainnya.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar