Sukses

Melindungi Anak dengan Pola Asuh yang Tepat

Apakah Anda yakin selama ini sudah membimbing anak dengan menerapkan pola asuh yang tepat? Ketahui selengkapnya mengenai pola asuh yang tepat di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Coba perhatikan lingkungan sekitar. Anda pasti menyadari bahwa setiap orang tua memiliki pola asuh anak yang berbeda. Ada yang memilih pola asuh yang keras dan disiplin, ada yang lebih membebaskan, dan masih banyak lagi. Pola asuh anak mesti diterapkan dengan baik oleh orang tua, karena ini dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.

Mengasuh anak lebih dari sekadar memberinya makan, menyediakan tempat tinggal yang layak, memenuhi kebutuhannya, atau menghujaninya dengan kasih sayang. Pola asuh yang tepat diperlukan untuk menunjang perkembangan fisik, mental, dan sosial yang sehat demi membentuk karakter yang berkualitas.

“Anak yang baru lahir belum memiliki karakter, melainkan hanya temperamen, dasar dari sebuah karakter yang diasah melalui berbagai peristiwa,” kata dr. Fiona Amelia, MPH, kepada KlikDokter.

Lebih lanjut, dr. Fiona menjelaskan bahwa peristiwa tersebut meliputi hubungan pertemanan, ikatan persaudaraan, hingga cara belajar anak di sekolah. Namun, dari semua itu, hal yang paling besar pengaruhnya adalah pola asuh orang tua di rumah.

1 dari 3 halaman

Pola Asuh Anak yang Tepat

Lantas, seperti apa pola asuh anak yang tepat? Berdasarkan ilmu psikologi, terdapat empat pola berbeda yang mesti Anda pahami.

  1. Pola asuh otoriter (authoritarian)

Pola asuh ini lebih mementingkan apa yang anak lakukan ketimbang mengapa anak melakukannya. Ciri utamanya adalah orang tua mendominasi dan memiliki kontrol yang besar pada anak.

Orang tua yang otoriter kerap melayangkan ungkapan “pokoknya” dalam berbagai situasi, tanpa peduli dengan keinginan atau pendapat anak. Anak tidak punya pilihan sehingga tidak terdorong untuk membuat keputusan atau menunjukkan kemandirian. Jika aturan tak diikuti, anak akan mendapat hukuman.

Cara seperti ini memang dapat membentuk anak dengan karakter disiplin dan mudah bekerja sama karena cenderung tunduk pada otoritas. Namun, bukan tak mungkin anak merasa kurang bahagia karena kurangnya kehangatan dari orang tua. Tak jarang mereka tumbuh jadi pribadi yang kurang menghargai diri sendiri. Selain itu, tak sedikit anak yang kehilangan rasa percaya diri saat dewasa karena mendapat didikan secara otoriter.

  1. Pola asuh permisif atau memanjakan (permissive/indulgent)

Pola asuh ini adalah kebalikan dari pola asuh otoriter. Ciri utamanya adalah orang tua selalu menunjukkan sikap permisif atau membolehkan anak melakukan apa pun dan tidak banyak menuntut. Orang tua jarang mendisiplinkan, memberikan batasan atau aturan terhadap anak karena menyakini bahwa anak harus jujur terhadap dirinya sendiri. Dari sudut pandang orang lain, orang tua yang permisif terlihat lebih seperti teman bagi anak.

Seperti terlihat hubungan orang tua dan anak yang diidamkan, memang. Namun, dalam jangka panjang, ini akan membuat anak bingung karena ia tidak pernah tahu batasan-batasan dalam bersikap, berperilaku, dan mengelola perasaan. Anak cenderung tidak mengetahui saat perilakunya tidak bisa diterima orang lain dan tidak mengerti alasan jika ada seseorang yang tidak menyukainya.

Hasil pola asuh permisif memang dapat menghasilkan anak-anak yang kreatif, tetapi kurang bisa mengontrol dirinya dan selalu merasa berhak untuk melakukan atau mendapatkan sesuatu (entitled). Mereka cenderung menuntut, tidak dewasa, dan kerap memberontak.

“Tak jarang, anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini mengalami masalah dengan otoritas yang berwenang. Prestasi akademis pun bisa buruk karena kurangnya motivasi untuk belajar, disiplin, dan dorongan dari orang tua,” dr. Fiona menambahkan.

2 dari 3 halaman

Selanjutnya

  1. Pola asuh cuek atau abai (neglectful/univolved)

Pada pola asuh ini, orang tua tidak banyak berperan dalam mengasuh anak. Kebutuhan-kebutuhan primer seperti sandang, pangan, papan memang terpenuhi, akan tetapi anak tidak mendapat perhatian atau kehangatan dari orang tua.

Orang tua kurang berinteraksi dan menyediakan waktu berkualitas bersama anak. bahkan cenderung lepas tangan dari kehidupan anak. Tak jarang, orang tua membiarkan anak berlama-lama menonton televisi, membebaskan penggunaan gawai, dan tak mengontrol anak saat main gim.

Biasanya, pola asuh seperti ini muncul pada orang tua yang bermasalah, seperti mengalami stres berlebihan, terbelit masalah keuangan, atau kecanduan terhadap hal-hal tertentu (seperti narkoba, judi, pornografi, dan lain-lain). Sebagian lagi memang lebih mementingkan hidup mereka sendiri ketimbang anak-anaknya.

Lambat laun, anak pun menyadari bahwa ada bagian lain dari kehidupan orang tuanya yang lebih penting dari dirinya. Sejak kecil, anak harus berusaha untuk memenuhi kebutuhannya. Inilah kenapa anak-anak yang diasuh dengan pola ini tampak lebih tua dari teman-teman seusianya.

  1. Pola asuh otoritatif atau demokratis (authoritative)

Pola asuh otoritatif dianggap sebagai cara mengasuh anak yang terbaik. Orang tua yang menerapkan pola asuh ini menganggap penting alasan di balik sikap atau perilaku anak, sehingga mereka bersikap demokratis. Mereka mau mendengar pendapat dan memahami perasaan anak. Pada saat yang sama, ada pula batasan dan aturan dalam batas wajar.

Perbedaan lainnya, orang tua yang demokratis cenderung banyak berkomunikasi. Mereka akan menjelaskan alasan-alasan mengapa anak boleh atau tidak boleh melakukan sesuatu.

Mereka pun mendorong kemandirian dengan memberi anak pilihan dan kesempatan untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan usianya. Anak juga akan mendapat pujian dan penghargaan jika menunjukkan sikap dan perilaku yang baik, atau berhasil meraih prestasi.

Jadi, mana pola asuh yang selama ini Anda terapkan? Jika Anda menyadari pola asuh yang Anda terapkan kurang tepat, tidak ada kata terlambat untuk mengubahnya. Pola asuh memang tidak langsung menentukan bagaimana karakter anak saat dewasa. Meskipun demikian penerapan pola asuh yang tepat sangatlah penting, karena biasanya anak mengamati, bahkan meniru perilaku orang tua. Oleh karena itu, terapkanlah pola asuh yang tepat untuk anak Anda.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar