Sukses

Adakah Hal Positif di Balik Sikap Tantrum Anak?

Meski terkadang mengesalkan, ternyata sikap tantrum pada anak disebut-sebut membawa hal positif. Ini penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Pernah merasakan anak menangis kencang, berteriak, memukul, atau menendang-menendang dan sulit ditenangkan? Sebagian besar orang tua mungkin pernah mengalaminya, terutama mereka yang memiliki anak usia balita. Kondisi tersebut sering disebut dengan tantrum (temper tantrum).

Sebagai orang tua, perilaku tersebut tentu mengesalkan, apalagi bila terjadi di tempat umum. Lalu apa yang terjadi saat anak mengalami tantrum?

Tantrum merupakan ledakan emosi yang dirasakan oleh seseorang, dalam hal ini anak, yang diekspresikan dalam perilaku yang berlebihan. Kondisi ini biasanya terjadi pada anak usia satu hingga tiga tahun. Alasannya pun bisa bermacam-macam.

Alasan tantrum pada anak

Pada usia 1-3 tahun, kemampuan bahasa anak masih berkembang dan belum sempurna, sehingga membuatnya sulit menyampaikan apa yang dirasakannya, baik isi hatinya maupun keinginannya. Hal tersebut akhirnya membuat anak frustasi dan akhirnya terjadi tantrum.

Selain hal di atas, berikut adalah beberapa alasan anak mengalami tantrum:

Keinginan untuk menjadi independen. Anak-anak terutama menjelang usia 3 tahun mengalami fase dimana ia ingin menyatakan independensinya. Ia ingin melakukan segala sesuatu sendiri.

Secara tidak langsung ia ingin menunjukkan bahwa ia mampu melakukannya tanpa bantuan orang dewasa. Ketika keinginannya ini tidak tercapai, maka ia akan merasa frustasi.

Dalam masa transisi. Beberapa anak akan tantrum ketika diantar orang tuanya ke tempat pengasuhan anak (daycare). Hal ini dikarenakan ia ingin menyatakan rasa tidak setuju dan rasa sedihnya.

Ingin mendapat perhatian. Ada pula anak yang menjadi sering tantrum setelah memiliki adik baru atau saat ia merasa kurang diperhatikan orang tuanya. Dengan melakukan perilaku ekstrem, ia berpikir akan mendapatkan perhatian yang diinginkannya.

Merasa lelah, bosan, dan lapar. Sebagaimana orang dewasa, anak pun akan menjadi lebih emosional dan sensitif ketika ia merasa lelah, bosan, dan lapar.

Tantrum yang terjadi pada tiap anak bisa berbeda-beda, mulai dari merengek, menangis, berteriak, memukul, bahkan menahan napas. Tantrum dapat terjadi pada siapa saja, baik anak laki-laki maupun perempuan.

Sebagian anak mengalami tantrum sangat sering, sementara sebagian lainnya justru jarang mengalami tantrum. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan hal tersebut karena tantrum bergantung pada karakter masing-masing anak.

Lalu pertanyaannya, benarkah tantrum pada anak merupakan pertanda baik? Perilaku tantrum memang amat mengesalkan bagi orang tua. Namun, nyatanya tantrum adalah pertanda baik dari perkembangan emosional anak.

Ketika terjadi tantrum, artinya anak mampu mengekspresikan dirinya dan keinginannya. Secara natural, frekuensi tantrum ini akan berkurang di usia empat hingga lima tahun saat anak sudah bisa menyampaikan keinginannya dengan lebih jelas.

Menghadapi si Kecil saat tantrum

Tantrum pada anak sering kali tak terhindarkan. Tetapi beberapa hal berikut ini dapat Anda lakukan agar dapat menghadapi kondisi tersebut dengan lebih baik:

Berikan perhatian dan apresiasi pada perilaku baik anak. Sering kali orang tua melewatkan perilaku baik anak dan memberikan perhatian lebih (overreact) pada perilaku buruk atau tantrumnya. Dengan demikian, anak akan belajar bahwa untuk mendapat perhatian orang tuanya adalah dengan berlaku tantrum.

Oleh karena itu, berikan banyak apresiasi saat anak berlaku baik. Sebagai contoh saat ia mampu bermain bersama dengan saudaranya, berikan pujian secara spesifik seperti “Wah, mama senang kamu bisa berbagi mainan dengan adik.”

Alihkan perhatian anak. Saat tantrum, bawa anak ke ruangan lain, tawarkan ia mainan yang lain, dan cobalah untuk menyanyikan lagu-lagu yang ia suka.

Berikan anak pilihan. Biarkan anak memilih dan menunjukkan kendali. Misalnya, “Kamu mau main di dalam kamar atau di ruang tamu saja?”

Ketahui pencetus tantrum. Bila anak tantrum karena lapar, sediakan camilan saat Anda bepergian untuk menghindarkan anak dari tantrum. Hal yang sama juga berlaku bagi pencetus yang lain.

Jangan abaikan perilaku destruktif. Bila anak tantrum dan bersikap kasar seperti memukul, menggigit, atau melempar barang, ingatkan dengan tegas bahwa hal tersebut tidak baik. Jangan berikan toleransi terhadap perilaku buruk apapun agar tidak menjadi kebiasaan di kemudian hari.

Sejatinya, tantrum adalah bagian penting dalam perkembangan anak. Yang perlu Anda lakukan adalah menghadapinya dengan sikap yang tenang dan tentunya sabar.

[NP/ RVS]

3 Komentar