Sukses

Konsumsi Obat Jangka Panjang Rentan Picu Demensia?

Saat sakit, mengonsumsi obat menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar. Namun, bernarkah minum obat dalam jangka panjang bisa picu demensia?

Klikdokter.com, Jakarta Mereka yang mengonsumsi obat dalam jangka panjang biasanya menderita penyakit tertentu. Konsumsi obat ini tentu sudah diresepkan oleh dokter dan mesti diminum hingga waktu yang telah ditetapkan, misalnya beberapa bulan atau sampai hitungan tahun. Namun, ada yang mengatakan bahwa hal tersebut bisa memicu demensia. Benarkah?

Terkait konsumsi obat dalam jangka panjang, sebenarnya sudah lama terjadi pro dan kontra. Terlebih belum lama ini, sebuah penelitian dari University of East Anglia menemukan banyaknya kasus demensia pada pasien yang minum obat antikolinergik dalam jangka panjang.

Beberapa orang yang mengidap depresi, Parkinson, hingga gangguan pada kandung kemih biasanya mengonsumsi antikolinergik dalam jangka panjang. Inggris adalah negara dengan 1,5 sampai 2 juta penduduk yang mengonsumsi obat tersebut.

Meski berhubungan dengan demensia, para ahli mengatakan bahwa pasien dengan gangguan di atas tidak boleh berhenti meminum antikolinergik bila memang diharuskan. Hal ini terjadi karena manfaat obat tersebut mungkin lebih besar untuk mengobati penyakitnya yang sekarang.

Lantas, bagaimana bisa konsumsi obat dalam jangka panjang rentan memicu demensia? Dilansir BBC, simak penjelasannya di bawah ini.

Kaitan antara konsumsi obat jangka panjang dan demensia

Penelitian yang digalakkan oleh Alzheimer Society dan diterbitkan dalam British Medical Journal, mengamati rekam medis 40.770 pasien berusia 65 hingga 99 tahun dengan diagnosis demensia antara April 2006 dan Juli 2015.

Kelompok pengidap demensia tersebut lalu disandingkan dengan 283.933 orang yang tidak memiliki demensia. Hal ini dilakukan demi melihat perbandingan yang signifikan.

Studi ini turut menganalisis lebih dari 27 juta resep. Dengan jumlah tersebut, penelitian ini menjadi penelitian terbesar yang pernah ada terkait dampak jangka panjang dari obat antikolinergik dan hubungannya dengan demensia.

Hasil dari penelitian ini menjabarkan, konsumsi obat dalam jangka panjang sedikit banyak berpengaruh terhadap demensia. Meski begitu, James Pickett selaku kepala penelitian mengatakan bahwa risiko ini tak lebih besar daripada gaya hidup tidak sehat.

“Dibandingkan dengan risiko demensia yang disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, risiko potensial dari obat antikolinergik yang berdampak pada timbulnya demensia terasa kecil. Kami tidak tahu persis siapa yang berada pada peningkatan risiko dan siapa yang tidak," katanya.

Bagi yang sudah mengonsumsi obat antikolinergik, peneliti menyarankan untuk tidak panik. Mereka menganjurkan untuk tidak melakukan tindakan impulsif seperti menghentikan konsumsi obat secara tiba-tiba.

Hal ini terjadi karena tidak mengonsumsi obat yang diresepkan dapat menimbulkan konsekuensi serius. Pada kasus depresi misalnya, jika gangguan tersebut tidak ditangani dengan benar maka akan ada hal buruk yang bisa mengintai pada kemudian hari.

Mencegah demensia sejak dini

Ada banyak cara untuk mencegah demensia sejak dini ketimbang menghentikan antikolinergik secara tiba-tiba. Menurut dr. Nitish Basant Adnani dari KlikDokter, begini caranya.

“Untuk menangani demensia agar tidak makin progresif, lakukanlah stimulasi untuk otak, seperti membaca, bercerita, menjahit, merajut, dan lain-lain,” ujar dr. Nitish.

Selain upaya di atas, dr. Nitish turut menyarankan agar Anda berkonsultasi dengan dokter bila disinyalir mengidap demensia. Lagi pula, untuk membedakan demensia yang disebabkan karena proses penuaan atau penyakit Alzheimer, perlu dilakukan pemeriksaan oleh dokter secara langsung.

Konsultasi dengan dokter mencakup wawancara medis secara detail dan pemeriksaan fisik guna menentukan penyebab dan penanganan yang paling tepat.

Konsumsi obat jangka panjang, terutama antikolinergik, memang rentan memicu demensia. Namun, dampaknya tidak terlalu signifikan dibanding gaya hidup yang buruk, seperti merokok, alkohol, dan tidak mengoptimalkan kerja otak secara baik. Yuk, ikuti saran di atas agar Anda dapat menikmati hidup yang sehat!

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar