Sukses

Bagaimana Cara Tepat Mendisiplinkan Anak?

Mendisiplinkan anak tak sama dengan menghukum. Temukan cara-caranya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Disiplin merupakan alat yang penting dan efektif dalam membentuk perilaku dan karakter anak. Hal yang perlu diperhatikan dalam mendisiplinkan anak adalah, orang tua harus menerapkannya sedemikian rupa dengan tetap menghargai pribadi dan martabat anak. 

Pada dasarnya, mendisiplinkan anak didasari oleh keinginan orang tua untuk berdiskusi, mendengarkan, dan memahami anak. Cara ini akan membantu anak dalam mengetahui perilaku apa yang diharapkan dari mereka serta belajar mengelola perasaan dan emosi mereka.

Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat Anda terapkan untuk mendisiplinkan anak.

1. Selalu berikan alasan dan koreksi di balik teguran

Jangan hanya berkata bahwa si Kecil tak boleh berlari-larian saat makan, melainkan jelaskan mengapa aturan ini penting untuk dilakukan. Anda bisa katakan bahwa itu berbahaya karena ia bisa tersedak. Ingatlah untuk memberikan penjelasan secara singkat, padat dan jelas karena anak-anak akan cenderung mengabaikan nasihat yang bertele-tele.

2. Bersikap tegas namun tetap tenang dan tidak emosi

Hindari berteriak, menyalahkan atau mengata-ngatai anak untuk membuatnya mengerti bahwa Anda tidak menyukai perilakunya. Gunakan nada yang tegas, namun tetap terkontrol. Anda harus tenang dan tidak terbawa emosi saat memberikan penjelasan.

3. Katakan yang seharusnya dilakukan, ketimbang yang tidak seharusnya dilakukan

Perlu diakui bahwa bagian ini tidaklah mudah. Anda dituntut untuk selalu berpikir hal yang berlawanan dari yang Anda lihat. Namun, hal ini penting karena anak sulit mencerna kata-kata negatif seperti “jangan” atau “tidak”.

Jadi, ketimbang mengatakan apa yang salah, katakanlah apa yang seharusnya dilakukan. Sebagai contoh, “Kalau mau loncat-loncatan di lantai, ya. Sofa itu tempat duduk.”

4. Jadilah contoh yang baik

Bila si Kecil kerap melihat Anda memaki-maki atau mengata-ngatai, atau suka meninggalkan piring kotor di meja, Anda akan lebih sulit membuatnya mengerti mengapa mereka harus berperilaku yang berlawanan dengan itu. Karena itu, jadilah model dari perilaku yang Anda harap anak lakukan.

5. Berempatilah dengan perasaan anak

Si Kecil bisa saja marah dan tidak kooperatif karena waktu bermain atau waktu menonton telah habis. Refleksikan perasaannya, misalnya dengan berkata, “Mama lihat kamu marah karena televisinya dimatikan, tapi waktu menonton sudah selesai.” Ini akan mengembangkan kepercayaan anak pada orang tua karena tahu bahwa mereka dimengerti.

6. Jangan pernah memberikan hukuman fisik

Hindari tindakan memukul, menampar atau mengguncang-guncangkan anak. Tindakan-tindakan ini hanya mengajarkan bahwa kekerasan merupakan cara untuk menyelesaikan masalah. Selain itu, hukuman fisik membuat si Kecil takut dengan Anda. Rasa percaya mereka terhadap orang tua pun bisa luntur.

Meski cara ini dapat menghentikan perilaku yang tidak diharapkan, sifatnya hanya sementara. Lebih jauh lagi, hasil studi menunjukkan bahwa anak-anak yang kena tampar atau pukul lebih cenderung memukul atau berkelahi dengan anak lain, mencuri, atau terlibat dalam perilaku antisosial lainnya. Mereka juga cenderung menjadi pribadi yang agresif dan kasar saat dewasa.

7. Buat konsekuensi yang realistis dan terapkan dengan konsisten

Jangan asal mengancam si Kecil saat Anda marah. Sebagai contoh, hindari mengatakan pada batita Anda bahwa bila ia tidak segera berpakaian, ia akan ditinggal di rumah. Melainkan, berikan konsekuensi langsung seperti membawanya ke sekolah dengan tetap memakai piyama.

Bila Anda mengatakan akan ada konsekuensi dari perilaku yang tidak diharapkan, wujudkan dan lakukan dengan konsisten sehingga itu tidak sekadar menjadi ancaman kosong. Jika tidak ada konsekuensi yang jelas, anak akan tahu bahwa Anda tidak serius.

8. Berikan pelukan setelah mendisiplinkan si Kecil

Pelukan memberi kenyamanan dan membentuk rasa percaya si Kecil pada orang tua. Bagi anak, ini merupakan cara untuk meyakinkan dirinya bahwa bukan dirinya yang Anda benci, melainkan perilakunya yang tidak Anda sukai.

9. Berikan pujian atau penghargaan untuk hal-hal yang dilakukan dengan baik

Berikan pujian atau penghargaan saat si Kecil melakukan hal-hal yang baik. Misalnya, membereskan mainan tanpa disuruh atau membawa piring kotornya ke tempat cuci piring.

10. Maafkan diri Anda

Mengasuh anak bukanlah pekerjaan mudah. Oleh sebab itu, sedikit banyak Anda pasti akan membuat kesalahan. Ada kalanya, Anda berteriak pada si Kecil karena hal-hal kecil seperti tak sengaja menumpahkan air minum ke lantai.

Untuk hal ini, tak perlu menyalahkan diri sendiri. Maafkan diri Anda dan minta maaf pula pada anak karena telah kehilangan kesabaran. Anak pun akan belajar dari Anda bagaimana caranya meminta maaf, sekaligus menyadari bahwa orang tua bisa marah namun tetap menyayangi mereka.

Sekali lagi, mengasuh anak tidaklah mudah. Kesabaran dan emosi Anda akan sangat diuji. Jadi, bila sedang sangat marah pada si Kecil hingga ingin meledak, ambillah time-out untuk diri Anda.

Berhentilah sejenak dan tenangkan diri sebelum mendisiplinkannya. Bila perlu, pergilah ke kamar lain lalu hitung hingga 10 atau 20, serta tarik napas dalam. Setelah cukup tenang, baru pikirkan apa yang harus dilakukan untuk menghadapi si Kecil.

Sejatinya, disiplin merupakan sarana belajar untuk membantu si Kecil bersikap dan berperilaku. Cara ini akan berhasil dan efektif bila Anda dan si Kecil memiliki hubungan yang hangat serta penuh kasih sayang. Dengan metode yang benar, proses mendisiplinkan anak dapat menjadi pengalaman yang positif bagi Anda maupun si Kecil. Selamat mencoba!

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar