Sukses

Seperti Apa Demam yang Merupakan Gejala HIV?

Apakah demam pada gejala HIV bersifat khas?

Klikdokter.com, Jakarta Satu dari gejala umum HIV adalah demam. Ada beberapa penyebab demam yang terkait dengan HIV, salah satunya reaksi obat-obatan. Namun, demam tersebut juga bisa saja tidak berhubungan sama sekali dengan HIV, seperti flu.

Pada dasarnya, gejala HIV pada setiap orang tidak sama karena dipengaruhi oleh beberapa hal. Pada orang dengan HIV, ada yang mengalaminya secara terus-menerus, ada juga yang hanya sesekali. Selain itu, gejalanya juga beragam dari ringan hingga berat.  

Untuk lebih memahaminya, ketahuilah bahwa infeksi HIV terbagi dalam tiga tahap yang masing-masing memiliki gejalanya sendiri, seperti:

● Tahap infeksi akut

Tahap pertama adalah tahap infeksi akut. Gejalanya dapat muncul sekitar dua sampai empat minggu setelah terinfeksi HIV. Biasanya tidak berlangsung lama, akan menghilang sekitar satu atau dua minggu.

Demam yang berulang atau terus-menerus dapat menjadi salah satu gejala pertama yang mereka alami. Demam juga bisa disertai dengan gejala tambahan, seperti kelenjar getah bening yang membengkak, berkeringat pada malam hari, kelelahan, sakit tenggorokan, dan ruam.

Namun, pada seseorang yang terinfeksi HIV akut, demam dapat menjadi tanda bahwa sistem kekebalan mereka masih berfungsi dengan baik. Perlu diingat juga, tidak semua orang yang terinfeksi HIV pada tahap ini mengalami demam, bahkan bisa tidak bergejala sama sekali.

● Tahap tanpa gejala

Tahap kedua adalah tahap tanpa gejala. Setelah tahap infeksi akut selesai, orang dengan HIV biasanya tidak mengalami gejala apa pun dalam jangka waktu yang lama hingga 10 tahun, bahkan lebih. Namun, ini tetap bergantung pada kesehatan orang tersebut.

Meskipun orang yang terinfeksi tidak menyadarinya, virus HIV sebenarnya tetap aktif selama tahap ini dan terus merusak sistem kekebalan tubuh. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, satu-satunya gejala yang timbul selama fase ini adalah kelenjar yang bengkak.

● Tahap HIV simtomatik

Memasuki tahap ketiga, gejala pada awal HIV biasanya mulai bermanifestasi dan makin merusak sistem kekebalan tubuh. Umumnya, gejala yang timbul pada fase ini disebabkan oleh infeksi oportunistik.

Infeksi oportunistik adalah infeksi yang terjadi karena lemahnya sistem kekebalan tubuh. Ketika sistem kekebalan tubuh sehat, ia dapat melawan banyak infeksi. Sebaliknya, ketika dihantam oleh HIV, sistem kekebalan tubuh tidak mampu melawan bakteri, virus, dan jamur tertentu. Akhirnya, orang dengan HIV mengalami infeksi oportunistik. 

Gejala pada fase ini meliputi pembengkakan kelenjar getah bening ringan sampai sedang di leher, ketiak dan selangkangan. Selain itu juga terjadi demam sesekali, tuberkulosis, sariawan, leukoplakia berambut di mulut, ruam kulit, luka di mulut (yang muncul dan hilang), infeksi saluran pernapasan atas yang berulang, penurunan berat badan, dan kelelahan.

Lalu, apakah demam pada gejala HIV bersifat khas? Seperti yang telah dijelaskan, gejala HIV, terutama pada tahap awal, dapat berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang mengalaminya secara persisten, tapi ada juga yang hanya sesekali. Lama dan parahnya demam juga bergantung pada penyebabnya serta langkah-langkah yang diambil untuk menanganinya.

Jika berhubungan dengan infeksi oportunistik, lamanya demam akan tergantung pada jenis infeksi, pengobatan yang dilakukan, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Bila disebabkan oleh obat-obatan, lamanya demam akan bergantung pada jenis obat, berapa lama orang tersebut mengonsumsinya, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Apabila Anda mengalami demam dan merasa terinfeksi HIV, jangan ragu untuk menemui dokter dan melakukan tes HIV. Sedangkan jika sudah didiagnosis HIV, buatlah janji dengan dokter segera setelah terkena demam. Ini bisa menjadi tanda infeksi oportunistik atau adanya masalah dengan rejimen pengobatan, sehingga harus cepat-cepat ditangani dengan baik.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar