Sukses

Benarkah Genetika Berperan dalam Sifat Empati?

Konon, setiap orang memiliki kadar empati masing-masing berdasarkan faktor genetika. Simak selengkapnya.

Klikdokter.com, Jakarta Empati, diambil dari Bahasa Yunani yang berarti ketertarikan fisik, merupakan sebuah respons afektif (berdasarkan perasaan) serta kognitif ( berdasarkan fakta) dalam menanggapi keberadaan orang lain. Kabarnya, sifat empati ini ternyata diturunkan berdasarkan faktor genetika seseorang.

Orang dengan kadar empati tinggi dalam dirinya memiliki perasaan yang berlebih dalam merasakan kesusahan orang-orang di sekitarnya. Orang berempati tinggi juga disinyalir selalu siap sedia untuk menolong sesama.

Sejak kecil, orang kerap diajarkan dan diberi penjelasan tentang betapa pentingnya bersikap empati terhadap orang lain. Dari situ, timbul anggapan bahwa empati adalah sikap yang harus ditumbuhkan sedari dini.

Kadar empati wanita lebih tinggi

Dilansir dari BBC, konon sekumpulan ilmuwan dari Inggris mengatakan bahwa empati bukan hanya soal sesuatu yang selalu bisa dikembangkan sejak kecil. Namun, sikap tersebut juga timbul berdasarkan warisan genetika dari para pendahulu.

Studi tersebut diterapkan kepada 46 ribu orang dan membuktikan bahwa gen memiliki peran yang penting pada sikap empati dari setiap individu. Selain itu, ditemukan pula fakta bahwa wanita memiliki kadar empati yang lebih tinggi dibandingkan pria.

Hasil dari penelitian tersebut dituangkan dalam jurnal Translational Psychiatry. Para partisipan diminta mengisi kuisioner terkait kecerdasan empati dan memberikan sampel air liur untuk pengujian DNA. Sampai saat ini, baru ditemukan sebagian kecil hal yang cukup signifikan tentang kaitan antara genetika dan sifat empati.

"Ini adalah langkah penting untuk memahami peran yang dimainkan genetika dalam empati. Meski hasil berkata demikian, hal ini menjadi landasan awal untuk memahami faktor non-genetik dan lain-lain di masa yang akan datang,” ujar Varun Warrier, peneliti dari University of Cambridge yang memimpin proyek studi tersebut.

1 dari 2 halaman

Rasa empati berhubungan dengan autisme?

Selain hal di atas, penelitian ini turut menemukan fakta tentang adanya perbedaan empati berdasarkan jenis kelamin. Berangkat dari hasil pengisian kuisioner, diketahui bahwa wanita memiliki kadar empati yang lebih tinggi dibandingkan pria. Meski begitu, para peneliti belum mampu menjawab tentang tentang fenomena tersebut.

Sama halnya menyoal kasus perbedaan pria dan wanita di atas, para ilmuwan juga menemukan fakta lain tentang kaitan empati dan genetika. Mereka yang memiliki kadar empati lebih rendah, konon memiliki hubungan erat dengan risiko autisme yang lebih tinggi. Meski demikian, mereka masih mengkaji ulang secara spesifik terhadap gen yang bertanggung jawab untuk kasus ini.

Gil McVean, profesor genetika statistik di Universitas Oxford, mengatakan kepada BBC bahwa penelitian tersebut menetapkan bahwa gen memiliki peran dalam empati. Namun, faktor tersebut masih tampak kecil bila dibandingkan dengan hal lain, salah satunya lingkungan.

"Kami tahu bahwa pada dasarnya, apapun yang dapat Anda ukur pada manusia memiliki komponen genetika. Hal ini menetapkan bahwa empati memiliki beberapa komponen yang dapat diwariskan, ujarnya

Dr Edward Barker dari Departemen Psikologi King's College London, mengatakan bahwa penelitian ini mampu menghasilkan sebuah temuan yang sangat menarik. Ia menganggap bahwa studi ini merupakan langkah awal dalam mengeksplorasi kaitan antara gen dan empati.

"Hasil studi ini bisa saja berbeda dengan penelitian yang lebih besar," tuturnya. Senada dengan Barker, para ilmuwan terkait tengah berupaya melebarkan studi yang lebih konkret dan berskala lebih besar.

Sampai saat ini, keberadaan sifat empati timbul berdasarkan banyak faktor, mulai dari genetika hingga lingkungan.  Penelitian ini masih banyak dilakukan di berbagai negara untuk mendapatkan hasil yang semakin mengerucut. Jadi, sudahkan Anda bersifat empati terhadap sesama hari ini?

[NP/RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar