Sukses

Macam-Macam Kelainan yang Bisa Terjadi pada Penis

Ada berbagai kelainan yang bisa terjadi pada penis, mulai dari penyakit Peyronie hingga priapismus. Kenali lebih dalam di sini.

Bagi Anda para pria, menjaga penis tetap sehat dan berada dalam kondisi yang prima tentu sangatlah penting. Bagian tubuh ini tidak hanya memiliki fungsi pembuangan air seni, namun juga penting untuk menjalankan fungsi reproduksi.

Sering kali, bentuk dan ukuran penis memengaruhi kepercayaan diri pria. Tapi tahukah Anda, penis bisa mengalami kelainan seperti organ lainnya? Berikut ini adalah beberapa kelainan penis yang dapat terjadi:

1. Peyronie

Penyakit Peyronie adalah kondisi ketika bentuk penis tampak miring, biasanya ke atas atau samping. Kondisi ini disebabkan oleh pembentukan plak di dalam penis, dan dapat menimbulkan nyeri saat berhubungan intim.

Perlu dipahami bahwa tidak semua penis yang terlihat miring berarti berhubungan dengan Peyronie. Adanya kemiringan dalam derajat sudut yang kecil saat penis ereksi adalah normal dan biasanya tidak mengganggu fungsi. Hal ini bisa disebabkan oleh variasi genetik bawaan atau karena kebiasaan saat mengenakan pakaian dalam.

Untuk penyakit Peyronie sendiri, penyebabnya belum secara pasti diketahui. Namun, para ahli mencurigai ada beberapa hal yang dapat memperbesar kemungkinan seseorang mengalami ini, seperti cedera akut pada penis, cedera kronis berulang pada penis, dan penyakit autoimun.

Artikel lainnya: Penis Tiba-Tiba Kesemutan Saat Bercinta? Jangan-Jangan, Ini Sebabnya!

1 dari 5 halaman

2. Saxophone Penis

Saxophone penis adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kondisi ketika bentuk penis seperti terpelintir di aksis panjangnya sehingga menyerupai saksofon. Penyebab utama terjadinya kelainan penis ini tidak banyak diketahui, tapi para ahli mencurigai adanya kelainan suplai darah sebagai biang keladi.

Dalam berbagai jurnal ilmiah, gangguan peredaran darah ini disebutkan dapat dipicu oleh beberapa kondisi, seperti pembengkakan kelenjar getah bening dan tuberkulosis penis.

3. Priapismus

Priapismus merupakan kondisi gawat darurat urologi yang cukup sering ditemukan. Priapismus adalah kondisi ketika ereksi penis berlangsung terus-menerus tanpa adanya stimulus atau hasrat seksual. Seseorang dikatakan mengalami priapismus jika ereksinya berlangsung selama lebih dari empat jam tanpa henti.

Terdapat tiga jenis priapismus, yaitu iskemik, non-iskemik, dan berulang. Kelainan ereksi ini umumnya berkaitan dengan gangguan aliran pembuluh darah di penis, yang memang memegang peranan penting dalam proses terjadinya ereksi.

2 dari 5 halaman

4. Diphallia

Diphallia atau penis ganda adalah kondisi bawaan lahir yang langka. Kasus pertama dilaporkan tahun 1609 di Bologna, Italia, dengan total jumlah hanya sekitar 100 hingga saat ini.

Di Indonesia sendiri, kasus diphallia total belum pernah ditemukan. Menurut penelitian, diphallia ditemukan dalam 1 dari 5.5 juta kelahiran hidup, dengan variasi keparahan yang sangat beragam.

Pada bayi yang lahir dengan diphallia, tingkat angka kematiannya sering kali meningkat akibat berbagai infeksi terkait gangguan sistem ginjal dan kolorektal.

Sebagai kelainan bawaan, diphallia diyakini terjadi saat perkembangan embrio yakni pada usia kehamilan 3–6 minggu, meski hal ini masih menjadi perdebatan.

Artikel lainnya: Penis Mati Rasa, Apa Penyebabnya?

5. Fraktur atau Patah Penis

Meski penis tidak memiliki tulang, ternyata penis juga dapat patah (fraktur) akibat cedera. Fraktur penis ini merupakan kondisi gawat darurat. Hal ini bisa disebabkan oleh cedera tumpul yang keras, cedera akibat penetrasi saat berhubungan intim, atau cedera mekanis lainnya yang kemudian membuat penis seperti “patah”.

Berdasarkan penelitian, penyebab tersering fraktur penis adalah lolosnya penis dari vagina saat berhubungan intim dan menabrak dinding perineum atau simfisis pubis.

3 dari 5 halaman

6. Mikropenis

Secara sederhana, mikropenis bisa digambarkan sebagai kelainan penis di mana ukurannya lebih kecil daripada rentang ukuran penis pria dengan usia yang sama.

Kelainan ukuran penis ini sering kali didiagnosis sejak bayi baru lahir. Pengukuran mikropenis dilakukan berdasarkan stretched penile length, yaitu pengukuran di mana penis meregang dan kepala penis dipegang dengan jempol dan telunjuk pengukur.

Pengukuran ini merupakan bagian dari pemeriksaan untuk menentukan mikropenis, dan dilakukan dokter. Kelainan mikropenis ditentukan jika hasil pengukuran kurang dari 1.9 cm untuk bayi baru lahir, kurang dari 3.8 cm untuk anak laki-laki berusia 9-10 tahun, dan kurang dari 9.32 cm untuk pria dewasa.

Kelainan mikropenis disebabkan masalah hormonal saat bayi dalam kandungan, sehingga pertumbuhan penis tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Masalah ini dapat berupa hormon yang diproduksi kurang atau reaksi tubuh tidak normal terhadap hormon yang diproduksi.

7. Hipospadia

Hipospadia merupakan kelainan penis yang disebabkan masalah perkembangan saat dalam kandungan.

Kelainan penis ini berupa lubang kencing yang tidak terdapat pada ujung kepala penis, melainkan pada bagian bawah penis. Kelainan lokasi lubang kencing juga dapat disertai penis yang bengkok ke arah bawah.

Artikel Lainnya: Ini Tanda-tanda Penis Patah

4 dari 5 halaman

Pengobatan Kelainan pada Penis

Pada umumnya, dalam mengatasi kelainan penis dipertimbangkan beberapa hal. Tujuan pengobatan adalah memulihkan fungsi berkemih terutama berkemih sambil berdiri, memastikan penis dapat menjalankan fungsi seksual, juga untuk mengatasi masalah kepercayaan diri yang mungkin timbul akibat kelainan penis.

Sangat penting untuk memeriksakan kondisi kelainan alat kelamin pada ahlinya, sehingga dapat dibuat diagnosis yang tepat dan pengobatan yang sesuai.

Terapi yang disarankan dapat berbeda, tergantung pada masing-masing kondisi. Secara umum, berbagai kelainan penis di atas dapat diatasi dengan pembedahan ataupun pemberian obat (non-bedah).

Terapi dengan pembedahan dapat disarankan untuk kondisi penyakit Peyronie, fraktur penis, mikropenis dan hipospadia. Khusus untuk kasus fraktur penis harus ditangani segera, guna memperbaiki struktur penis dan pembuluh darah di dalamnya.

Pengobatan priapismus bergantung pada jenisnya, misalnya terapi priapismus jenis iskemik tentu berbeda dengan non-iskemik. Terapi priapismus meliputi penarikan cairan/darah dari batang penis, pemberian obat-obatan, dan kompresi penis.

Tindakan non-bedah dapat juga dilakukan pada kelainan penis Peyronie. Pemberian obat berisi hormon juga dapat dipertimbangkan untuk mengatasi mikropenis, khususnya jika diketahui sejak dini (sebelum puber).

Meski terdapat beberapa kelainan pada penis yang merupakan kelainan bawaan, ada juga yang sebenarnya dapat Anda cegah. Jika Anda merasa memiliki kelainan penis, jangan ragu untuk segera berobat kepada ahlinya. Sehingga, gangguan penis Anda dapat ditangani dengan sesuai.

Masih punya pertanyaan terkait penyakit atau kelainan pada penis? Tanyakan saja langsung kepada dokter melalui layanan Live Chat di aplikasi KlikDokter.

[NWS]

0 Komentar

Belum ada komentar