Sukses

Waspada Ancaman Demam Lassa!

Sejak awal 2018, wabah demam Lassa kian menjadi ancaman di Benua Afrika, khususnya Nigeria. Bagaimana dengan Indonesia?

Klikdokter.com, Jakarta Demam Lassa atau Lassa fever bukanlah sesuatu yang baru karena penyakit ini telah terdeteksi sejak tahun 1950-an silam. Meski demikian, dikutip dari BBC, demam Lassa kian meningkat per awal tahun ini dan menjadi ancaman mematikan untuk masyarakat kawasan Afrika Barat, khususnya seperti Nigeria, Ghana, Mali, dan Sierra Leone.

Terhitung sejak awal bulan Januari hingga akhir Februari 2018 kemarin, di Nigeria saja telah terjadi 1,081 kasus demam Lassa dan 14 di antaranya merupakan petugas kesehatan. Dari seluruh kasus tersebut, 90 orang dinyatakan meninggal.

Gejala mirip dengan infeksi virus biasa

Penyebaran demam Lassa terjadi melalui makanan atau benda yang terkontaminasi dari urine tikus yang mengandung virus terkait. Keberadaannya sulit dideteksi pada tahap awal, tetapi ada sejumlah ciri khas yang mampu menandakan seseorang terkena demam Lassa lewat tahap-tahap selanjutnya.

“Gejala awalnya sama dengan infeksi virus yang lain seperti demam berdarah, yakni demam tinggi, badan pegal-pegal, nyeri tulang serta di belakang mata. Tapi yang berbahaya pada demam Lassa itu adalah munculnya perdarahan di mana-mana, baik dari mulut, hidung, dan pencernaan,” ujar dr. Resthie Rachmanta Putri M.Epid dari Klikdokter, menjelaskan tentang sejumlah tanda jika seseorang terkena demam Lassa.

Melihat gejala di tahap awal yang sukar dibedakan dengan penyakit lain, disebutkan melalui BBC bahwa cara terbaik untuk mengetahui penyebaran demam Lassa adalah dengan melakukan tes darah. Meski begitu, sampai saat ini, peneliti medis belum menemukan vaksin yang mampu menyembuhkan serta menghentikan penyebaran penyakit tersebut.

Demi mencegah penyebaran yang lebih lanjut, masyarakat Nigeria serta kawasan Afrika Barat sekitarnya, diminta untuk menggunakan masker dan sarung tangan untuk mencegah penyebaran virus demam Lassa. Cuaca diduga menjadi alasan kuat akan penyebaran penyakit ini.

Bagaimana dengan Indonesia?

Melihat kasus demam Lassa yang tengah marak diperbincangkan di sejumlah media, akankah virus tersebut sampai ke Indonesia? Dokter Resthie kembali menjelaskan kemungkinannya sebagai berikut.

“Sebenarnya, kemungkinan penyebaran virus demam Lassa ke negara lain, termasuk Indonesia, itu kecil. Bukan tidak mungkin, tapi bisa saja penyebaran itu terjadi,” ujarnya.

Lebih lanjut, dokter Resthie menyebut bahwa faktor penentu tersebarnya virus demam Lassa ke Indonesia adalah jika seseorang yang kondisi tubuh dan barang-barangnya terpapar oleh virus tersebut, datang ke Indonesia. Kendati demikian, risiko tersebut amatlah kecil karena virus demam Lassa tidak semudah itu menular dari orang ke orang.

“Beda dengan flu burung atau flu unta yang menularnya dari orang ke orang, semisal melalui paparan bersin, kalau demam Lassa murni dari urine tikus yang mengontaminasi benda serta makanan. Itu yang membuat seseorang terinfeksi,” kata dokter Resthie.

Saat ini, sebuah organisasi yang baru berdiri dengan nama Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), tengah berupaya memaksimalkan produksi vaksin yang mampu membasmi virus dari demam Lassa. Berdasarkan informasi dari BBC, dibutuhkan proses yang panjang dan proses untuk membuat antivirus ini.

Berbagai pencegahan, baik dari dalam hingga luar kawasan Afrika Barat, tengah diupayakan sejumlah pihak demi mengatasi penyebaran virus demam Lassa. Bagaimana dengan Indonesia?

“Untuk orang Indonesia, kalau bisa hindari terlebih dahulu bepergian ke daerah Afrika Barat. Seandainya itu tak terhindarkan, yang penting berusaha memilih makanan bersih. Jika makanan tersebut dipanaskan dengan suhu tinggi pun, harusnya virus tersebut mati juga,” tuturnya.

Dengan begitu, risiko penyebaran demam Lassa ke Indonesia disebut kecil meski kemungkinannya tetap ada. Tak lupa, ikuti kiat-kiat pencegahan dari dokter Resthie agar selalu aman dan nyaman ketika bepergian.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar