Sukses

Fakta di Balik Label Alami pada Makanan Kemasan

Jangan terlalu percaya dengan label alami pada makanan kemasan Anda.

Klikdokter.com, Jakarta Ketika membeli makanan kemasan, mungkin Anda sering melihat label “alami” yang tercantum pada produk tersebut. Sebenarnya apa maksud dari istilah tersebut? lalu, apakah itu berarti makanan alami lebih sehat dibanding lainnya? Yuk, ketahui jawabannya!

Perbedaan label 'alami' dengan label 'organik'

Dua label yang biasanya membuat bingung konsumen adalah label 'alami' dan 'organik' pada makanan kemasan. Ini perbedaan di antara keduanya.

  • Label alami  

Produk yang berlabel alami berarti tidak mengandung bahan buatan atau warna tambahan, dan harus diproses secara minimal. Pengolahan minimal diartikan sebagai produk makanan yang diproses dengan cara yang pada dasarnya tidak mengubah bahan pangan.  

Selain itu, produk makanan alami juga harus mencantumkan pernyataan yang menjelaskan arti istilah 'alami' tersebut, seperti 'tidak menambahkan pewarna', 'tidak ada bahan buatan', atau 'diproses minimal'.

Namun, karena definisi ini bisa dibilang samar dan tidak membahas metode pengolahan atau pembuatan makanan, ini menimbulkan pertanyaan apakah istilah ini tepat untuk makanan atau apakah dapat diinterpretasikan berbeda.

  • Label organik         

Definisi organik lebih ketat lagi. Agar makanan diberi label 'organik', maka harus diproduksi melalui metode yang disetujui. Umumnya, makanan organik tidak diolah dengan pestisida sintetis atau pupuk, dan hewan pun dibesarkan secara organik alias tidak diberi hormon atau obat untuk mendorong pertumbuhan yang lebih cepat.

Label 'organik' pada makanan kemasan artinya produk mengandung minimal 95 persen bahan organik. Produk makanan dengan label "Made with organic" harus mengandung setidaknya 70 persen bahan organik. Sementara itu, agar suatu produk diberi label "100 persen organik”, tiga kriterianya adalah: semua bahan harus bersertifikat organik, setiap alat bantu pengolahan harus organik, dan produk harus menyebutkan nama agen sertifikasi pada panel informasi.

Jangan teperdaya dengan label makanan

Awalnya, FDA (Food Drug Association) memberikan istilah 'alami' untuk jenis makanan yang benar-benar dari bahan alami tanpa kimia tambahan serta diproduksi tanpa proses kimiawi.

Namun, dengan makin berkembangnya zaman, kata “alami” ini digunakan produsen hanya untuk menarik konsumen agar makanan atau produknya laku di pasaran. Sebagian besar pembeli juga sering teperdaya, alias mudah percaya dengan tulisan “100% alami” yang ditulis pada kemasan makanan.

Karena itulah, tulisan 'alami' dalam label makanan kemasan tidak lagi memiliki arti yang sebenarnya. Saat produsen menempelkan “100% alami”, maka perlu ditanyakan kembali apa yang dimaksudkan dengan alami tersebut. Apakah kandungannya? Atau cara mengolahnya? Atau ada yang lain?

Kiat memilih makanan untuk kesehatan

Tidak dimungkiri bahwa makanan berbahan alami adalah makanan yang baik untuk kesehatan. Tapi hati-hati, jangan menilai makanan sehat hanya dari tulisan “100% alami” saja. Harus diperhatikan dengan saksama bahan-bahan serta cara pengolahan yang dilakukan pada makanan tersebut.

Dan jika Anda ingin menerapkan gaya hidup sehat, jangan hanya bergantung pada label 'alami' pada makanan yang hendak dikonsumsi. Melainkan cara hidup yang harus Anda terapkan sehari-hari, seperti:

  • Konsumsi makanan bergizi seimbang. Selalu sertakan sayur dan buah dalam menu makanan Anda untuk melengkapi nutrisi yang diperlukan tubuh.
  • Olahraga teratur. Lakukan olahraga secara teratur minimal 4 kali dalam seminggu dengan lama 30 menit.
  • Hindari stres, hentikan merokok, dan istirahat yang cukup sesibuk apa pun diri Anda.

Dari penjelasan yang diberikan tentu dapat diambil kesimpulan bahwa jangan hanya melihat label makanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sehari-hari. Buah dan sayur yang langsung Anda konsumsi tentu lebih menyehatkan dibandingkan dengan makanan kemasan, meskipun labelnya 'alami' atau 'organik'.

[RS/ RVS]

1 Komentar

  • M Cahyadi

    apakah jika produk yg sudah memiliki ISO perlu kita curigai juga,, kalau produk nya tidak alami?