Sukses

Pentingnya Membaca Fakta Nutrisi pada Kemasan Makanan

Sebelum membeli makanan, perhatikan dulu label fakta nutrisi pada kemasan. Ini alasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Apa pertimbangan Anda saat memilih makanan di etalase swalayan? Apakah karena rasanya yang enak, kemasannya yang menarik atau sekadar penasaran ingin mencoba? Apapun alasan Anda membelinya, sebelum mengambil dari etalase ada baiknya untuk membaca fakta nutrisi yang terdapat pada kemasan makanan tersebut.

Sebelum meneliti kandungan dan fakta nutrisi pada kemasan makanan, ketahui dulu apa saja yang biasanya tertera pada label. Biasanya dalam label makanan tertera kalori, lemak total, lemak jenuh, lemak trans, kolesterol, sodium (garam), karbohidrat total, serat, gula, protein, vitamin dan mineral.

Berikut beberapa hal yang perlu Anda ketahui saat membaca label kemasan makanan:

  1. Takaran penyajian

Pada label kemasan makanan biasanya tertera tulisan takaran saji (serving size) dan tertulis dalam ukuran cup, buah, butir, dan sebagainya yang diikuti dengan satuan angka seperti gr, mg atau kg.

Jumlah takaran saji ini akan memengaruhi jumlah kalori dan nutrisi yang masuk ke tubuh Anda. Jadi sebelum Anda mengonsumsi makanan tersebut, tanya pada diri sendiri kira–kira berapa banyak asupan kalori yang Anda perlukan.

  1. Kalori

Merupakan jumlah energi yang Anda dapat dari porsi makanan yang dikonsumsi. Yang perlu diingat adalah perhatikan jumlah kalori dari lemak pada makanan Anda.

Semisal dalam 1 porsi makaroni keju terdiri atas 250 kalori dan hampir setengahnya (110 kalori) merupakan kalori dari lemak, jika Anda makan secara berlebihan tentu bisa menyebabkan timbunan lemak berlebih di tubuh yang memicu terjadi obesitas.

US Food and Drug Administration menyebutkan panduan umum untuk kalori pada kemasan makanan (berdasarkan diet 2000 kalori/hari) adalah sebagai berikut:

  • Kalori rendah: 40 kalori
  • Kalori sedang: 100 kalori
  • Kalori tinggi: 400 kalori
  1. Nutrisi

Anda mendapatkan kalori dan nutrisi dari makanan serta minuman yang dikonsumsi sehari–hari. Namun ada beberapa kandungan tertentu yang sebaiknya Anda batasi asupannya seperti:

  • Lemak jenuh Tipe lemak ini akan meningkatkan risiko Anda terkena penyakit jantung dan kolesterol tinggi. Untuk orang dewasa sebaiknya batasi konsumsi lemak jenuh kurang dari 20 gr/hari.
  • Lemak trans Sama seperti lemak jenuh, lemak trans juga dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit jantung. Idealnya, lemak trans yang Anda konsumsi adalah 0 gr/hari atau tidak mengonsumsi sama sekali.Namun terkadang pada label makanan meski tertera 0 gr lemak trans, dalam produk makanan tersebut masih mengandung lemak trans kurang dari 0.5 gr/ porsi. Lemak trans dapat ditemui pada margarin, makanan yang digoreng, kue dan berbagai cemilan.
  • Kolesterol Untuk kolesterol sebaiknya batasi konsumsinya kurang dari 300 mg/hari. Jika Anda memiliki penyakit jantung, batasi kurang dari 200 mg/hari.

Kebanyakan orang mengonsumsi lemak jenuh, lemak trans dan kolesterol yang didapat dari makanan yang dikonsumsinya. Padahal jika berlebihan dapat menyebabkan Anda berisiko terkena penyakit kronis seperti hipertensi (darah tinggi), penyakit jantung, kolesterol tinggi dan kanker.

Dibandingkan mengonsumsi lemak jenuh, lemak trans dan kolesterol, ada baiknya Anda perbanyak asupan serat, vitamin A, vitamin C, kalsium dan zat besi. Mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral tersebut akan memperbaiki kesehatan Anda dan menurunkan risiko terkena penyakit tertentu seperti penyakit jantung, osteoporosis dan gangguan saluran cerna.

Jadi mulai sekarang, sebelum membeli makanan tertentu, pertimbangkan fakta nutrisi di balik label makanan yang akan Anda konsumsi. Batasi konsumsinya sesuai dengan anjuran dokter.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar