Sukses

Benarkah DNA Babi Mirip DNA Manusia?

Dunia kesehatan Indonesia heboh oleh sebuah suplemen yang mengandung DNA babi. Benarkah DNA manusia lebih mirip DNA babi daripada simpanse?

Klikdokter.com, Jakarta Ditariknya sebuah produk suplemen yang mengandung babi dari pasaran oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) cukup menghebohkan dunia kesehatan. Konon, kandungan DNA babi dan DNA manusia diperkirakan memiliki kemiripan. Benarkah?

Sebuah analisis genetika yang dilakukan oleh ahli genetik asal Amerika bernama Dr. Eugene McCarthy menyatakan bahwa babi dan manusia ternyata memiliki kesamaan genetik. Kemiripan ini bahkan melebihi kemiripan antara manusia dengan primata.

Seperti dilansir dari Mother Nature Network, McCarthy berkata, “Manusia dan babi nyatanya sama-sama memiliki kulit yang tidak berbulu, lapisan lemak subkutan yang tebal, mata berwarna terang, hidung menonjol, dan bulu mata yang berat,”ucapnya.

Banyak kemiripan?

Berdasarkan penelitiannya, jaringan kulit dan katup jantung babi bahkan bisa digunakan dalam pengobatan manusia karena kompatibilitasnya dengan tubuh manusia. Perlu Anda ketahui, mahasiswa kedokteran di beberapa negara termasuk Amerika Serikat pun menggunakan kaki babi untuk latihan menjahit jaringan kulit.

Pada novel Animal Farm, George Orwell turut menyisipkan sebuah penemuan yang dilakukan oleh Profesor Martien Groenen dan dipublikasikan dalam jurnal Nature. Diterangkan pada jurnal tersebut bahwa babi pun mengalami kerusakan genetik dan protein yang dialami manusia juga, seperti Alzheimer, Parkinson, dan obesitas.

“Suka atau tidak, manusia ternyata memang memilki banyak kesamaan dengan babi, yakni sama-sama golongan mamalia omnivora yang mendapatkan tambahan berat badan dengan mudah dan rentan terkena penyakit flu,” jelasnya

Berbicara soal kemiripan antara DNA manusia dan DNA babi, dr. Dyah Novita Anggraini menyatakan pada Klikdokter bahwa menurut beberapa penelitian, memang terbukti bahwa DNA manusia mirip dengan DNA babi. Ini termasuk dari jenis kulit.

“Beberapa negara yang tidak mempersoalkan masalah halal atau tidaknya babi memang sudah biasa menggunakan kulit babi untuk operasi cangkok kulit. Misalnya saja pada operasi luka bakar,”jelas dokter yang akrab dipanggil dr. Vita ini.

Selain itu, menurut dr. Vita, hormon estrogen dan hormon insulin babi dan manusia juga mirip. Oleh sebab itu, kedua hormon pada babi tersebut juga sudah bukan hal yang perlu diperdebatkan digunakan untuk pengobatan manusia.

1 dari 2 halaman

Di Indonesia disubstitusi dengan produk bebas babi

Meskipun demikian, pemakaian unsur babi dalam sejumlah produk kesehatan tidak berlaku di semua negara. Hal ini terutama sejumlah negara yang penduduknya beragama Muslim, termasuk Indonesia. 

“Hormon estrogen babi digunakan dalam produk pil KB. Hormon insulinnya juga digunakan untuk pengobatan diabetes. Namun untuk di negara Indonesia yang sebagian besar penduduknya beragama Muslim, kedua produk tersebut disubstitusi dengan produk lain yang bebas dari unsur babi,” terang dr. Vita.

Saat diwawancara, dr. Vita mengamini juga bahwa kemiripan antara DNA manusia dan DNA babi melebihi dari simpanse. Tapi di Indonesia penggunaan babi tidak diberlakukan karena alasan religi dan budaya di Indonesia dengan jumlah umat Muslim yang cukup besar.

Meski demikian, menanggapi kasus penarikan suplemen yang mengandung DNA babi, dr. Vita meminta masyarakat Indonesia tak perlu khawatir berlebihan.

“Kedua obat yang ditarik itu kan hanya suplemen, bukan obat utama yang harus dikonsumsi pasien dengan penyakit tertentu. Jadi, jika memang memerlukan obat pengganti, Anda dapat berkonsultasi pada dokter untuk menanyakan obat sejenis yang bebas dari DNA babi,” terangnya.

Pada kenyataannya, DNA babi ternyata memang lebih mirip dengan DNA manusia melebihi simpanse yang selama ini digembor-gemborkan sebagai salah satu produk evolusi manusia. Jika Anda ingin lebih yakin atas kandungan suatu obat, tak ada salahnya untuk bertanya kepada dokter sebelum mengonsumsi obat tertentu. Yuk, jadi pasien cerdas!

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar