Sukses

Berbahayakah Penebalan Dinding Rahim? Ini Faktanya

Penebalan dinding rahim kerap dikaitkan dengan kejadian kanker. Ini fakta medisnya.

Klikdokter.com, Jakarta Pada kondisi tertentu, penebalan dinding rahim mungkin saja terjadi. Kondisi ini bukanlah kanker, namun wanita yang mengalaminya lebih berisiko mengalami kanker rahim.

Dinding rahim terdalam dibentuk dari lapisan endometrium. Lapisan yang banyak mengandung pembuluh darah ini mengalami perubahan seiring dengan naik-turunnya hormon estrogen di sepanjang siklus haid.

Di awal siklus, hormon estrogen yang dihasilkan oleh ovarium membuat endometrium bertumbuh dan menebal. Tujuannya agar rahim siap menerima embrio atau bakal janin jika terjadi kehamilan. Karena ovulasi––yaitu saat sel telur dilepaskan dari salah satu ovarium––kadar hormon progesteron mulai meningkat.

Jika kehamilan tidak terjadi, kadar kedua hormon tersebut akan menurun. Penurunan kadar progesteron, khususnya, akan memicu luruhnya endometrium, yang tampak sebagai darah haid.

1 dari 3 halaman

Penyebab penebalan dinding rahim

Terjadinya penebalan dinding rahim atau hiperplasia endometrium berkaitan dengan tingginya kadar estrogen yang tidak diimbangi oleh kadar progesteron. Untuk diketahui, progesteron baru dibentuk jika terjadi ovulasi. Sebaliknya, tanpa ovulasi, tidak akan ada pembentukan progesteron. Akibatnya, sel-sel endometrium akan terus tumbuh dan menebal sebagai respons terhadap tingginya kadar estrogen.

Mekanisme tersebut juga dapat menjadi cikal-bakal mengapa penebalan dinding rahim kerap terjadi setelah menopause. Hal ini karena menopause menyebabkan ovulasi berhenti, dan progesteron tidak lagi dibentuk.

Selain menopause, penebalan dinding rahim juga bisa terjadi saat seorang wanita memasuki masa perimenopause (menjelang menopause). Ini karena perimenopause menyebabkan ovulasi menjadi tidak teratur.

Kondisi-kondisi lain penyebab kadar estrogen berlebihan––faktor risiko penebalan dinding rahim––meliputi:

  • Penggunaan obat-obatan yang berperan seperti estrogen.
  • Penggunaan estrogen dosis tinggi jangka panjang setelah menopause pada wanita yang belum menjalani operasi pengangkatan rahim.
  • Haid yang tidak teratur akibat sindrom ovarium polikistik (PCOS) atau gangguan kesuburan.
  • Obesitas atau kelebihan berat badan.

Gejala penebalan dinding rahim

Jika terjadi penebalan dinding rahim, gejala utama dapat berupa gangguan haid atau perdarahan rahim yang tidak normal. Perdarahan haid menjadi lebih banyak atau lebih lama dari biasanya, siklus haid lebih pendek dari 21 hari, atau mengalami perdarahan setelah menopause.

Dokter akan mencurigai adanya penebalan dinding rahim bila seorang wanita berusia 35 tahun atau lebih serta mengalami perdarahan yang tidak normal. Atau, usia lebih muda dari 35 tahun tetapi perdarahan tidak normal tak bisa diatasi dengan obat-obatan.

2 dari 3 halaman

Mengatasi penebalan dinding rahim

Sebagian besar kasus penebalan dinding rahim dapat diatasi dengan terapi hormon yang mengandung progestin. Namun, kondisi itu bisa kembali kambuh jika Anda memiliki berat badan berlebih atau indeks massa tubuh lebih dari 35 kg/m2.

Pada kasus yang berat, fungsi dan bentuk sel endometrium bisa berubah, sehingga berpotensi menjadi kanker rahim. Karenanya, operasi pengangkatan rahim atau histerektomi merupakan terapi terbaik bila Anda tak lagi menginginkan keturunan. Kekambuhan tidak akan terjadi setelah prosedur ini dilakukan.

Melihat bahayanya kondisi tersebut, jangan ragu untuk segera membawa diri ke dokter spesialis kandungan jika mengalami pola haid yang tidak normal atau volume haid berlebihan. Penebalan dinding rahim yang terdeteksi secara dini memiliki peluang sembuh yang lebih besar. Ini berarti risiko kanker rahim juga bisa dihindari.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar