Sukses

Sindrom Ratu Lebah: Ketika Bos Wanita Takut Tersaingi Bawahan

Pemilik sindrom ratu lebah ini ingin menjadi satu-satunya “ratu” di tempat kerja.

Klikdokter.com, Jakarta Margaret Thatcher merupakan salah satu tokoh politik yang menjadi inspirasi banyak wanita. Namun, ia bukanlah sosok tanpa “cacat”. Penulis biografi resmi Thatcher, Charles Moore, pernah berkata dalam sebuah wawancara bahwa mantan Perdana Menteri Inggris tersebut memiliki sindrom ratu lebah

Pertama kali digunakan pada tahun 1973 oleh para peneliti di University of Michigan, istilah sindrom ratu lebah menggambarkan seorang wanita dalam posisi otoritas yang memandang atau memperlakukan bawahan wanita sebagai ancaman. Mereka akan menekan sesama wanita untuk mengamankan posisi mereka sendiri.

Sepanjang 11 tahun kariernya, Thatcher hampir tidak pernah mempromosikan wanita dalam jajaran kabinetnya. Kecuali Baroness Young, teman dekatnya. Selebihnya diisi oleh para pria. Ia juga meminggirkan isu-isu feminisme, seperti menolak mendukung kebijakan perawatan anak (child care) yang terjangkau. Malah ia pernah kedapatan mengkritik ibu-ibu yang bekerja.

Lalu, apakah sindrom wanita lebah terjadi atas alasan sekadar takut tersaingi? Atau, ini hanya mitos usang yang perlu ditinjau ulang?

1 dari 4 halaman

Tirani bos wanita

Banyak wanita muda memercayai wanita yang lebih tua sebagai mentor atau penasihat untuk membantu mereka sukses. Namun faktanya, menurut Peggy Drexler, seorang psikolog dari Cornell, yang sering terjadi justru kebalikannya. Tak sedikit atasan wanita yang memiliki sindrom ratu lebah.  

“Bos wanita yang seperti ini tak benar-benar berminat untuk membina karier bawahannya, bahkan mungkin mereka berusaha menggagalkannya,” kata Drexler, seperti dikutip dari The Wall Street Journal.

Penelitian yang dilakukan Drexler juga memperlihatkan bahwa bos wanita dapat menjadi pelaku perundungan kepada bawahan wanitanya. Menurut studi tahun 2010 yang dilakukan oleh Workplace Bullying Institute, pelaku perundungan wanita cenderung melakukannya kepada sesama wanita, sementara pelaku perundungan pria menargetkan pria maupun wanita.

Selain itu, berdasarkan sebuah studi tahun 2011 terhadap 1,000 pekerja wanita yang digagas oleh American Management Association, 95% wanita mengaku merasa dicegat oleh wanita lainnya dalam karier mereka.

Studi lain oleh University of Toronto pada tahun 2008 mengungkapkan bahwa wanita yang bekerja di bawah supervisor wanita mengalami stres psikologis lebih tinggi ketimbang mereka yang bekerja di bawah supervisor pria.

2 dari 4 halaman

Evolusi atau diskriminasi gender?

Dikutip dari BBC, Prof Joyce Benenson, seorang psikolog di Emmanuel College, Amerika Serikat, mengatakan bahwa pangkal dari sindrom ratu lebah dapat ditilik dari segi evolusi.

“Dulu sekali wanita harus bersaing satu sama lain demi mendapatkan pasangan dan sumber daya untuk anak-anak mereka,” jelas Benenson. Mereka pun berusaha keras untuk mengungguli wanita lainnya. Bahkan menjatuhkan secara agresif. Kompetisi adalah satu jalan yang tak terhindarkan bagi wanita, dari zaman purba hingga sekarang.

Meski demikian, tak semua peneliti setuju dengan Benenson. Sebagian percaya bahwa sindrom ratu lebah dipicu oleh diskriminasi gender. Hal ini makin diperparah oleh kurangnya solidaritas gender.

Naomi Ellemers, profesor dari Utrecht University, Belanda, telah meneliti soal kesenjangan gender di tempat kerja selama 20 tahun. Ia mengatakan bahwa sindrom ratu lebah adalah label yang menyudutkan karena menyiratkan wanita sebagai sumber masalah. Padahal, sindrom ini berakar dari masalah yang jauh lebih kompleks.

“Sindrom ini merupakan respons terhadap seksisme,” ungkap Ellemers. Basis dari seksisme adalah adanya keyakinan bahwa pria lebih unggul dari wanita dan dengan demikian diskriminasi dibenarkan. Keyakinan ini dapat muncul secara sadar maupun tidak sadar.

Yang pasti, seksisme yang sudah mendarah daging dalam masyarakat membuat posisi wanita serba sulit. Wanita menjadi serba dinomorduakan di tempat kerja. Wanita dianggap tidak bisa bekerja lebih baik daripada pria. Persoalan struktural, misalnya ketimpangan gaji, pun terjadi.

Oleh karena itu, kata Ellemers, wanita mengatasi bias gender dengan menunjukkan bahwa mereka berbeda dari wanita lain. Para wanita pun kerap menggunakan ungkapan-ungkapan seperti: "Saya tidak seperti wanita lain, saya jauh lebih ambisius."

3 dari 4 halaman

Hanya mitos?

Studi tahun 2015 oleh Columbia Business School telah mencoba mematahkan konsep awal dari sindrom ratu lebah ini.  

Dikutip dari Guardian, studi tersebut mengobservasi tim manajemen level atas di 1,500 perusahaan selama periode 20 tahun. Para peneliti menemukan bahwa ketika wanita ditunjuk menjadi CEO, akan lebih banyak wanita lainnya yang masuk ke posisi puncak.   

Namun, ketika wanita diberikan posisi senior namun bukan yang paling atas, kemungkinan wanita lain naik ke jenjang eksekutif turun menjadi 50%.

Para peneliti juga menyatakan bahwa kurangnya jumlah wanita dalam posisi atas perusahaan merupakan akibat keinginan para pria untuk mempertahankan kendali.

Terkait penelitian tersebut, Helen Fraser, mantan Managing Director dari Penguin Books, mengatakan, “Dulu kita percaya kalau wanita menolak membantu wanita lain karena takut tersaingi atau diremehkan. Namun, penelitian ini mengindikasikan bahwa persepsi tentang sindrom ratu lebah perlu diubah.”

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar