Sukses

Mengenali Ciri-ciri Kondisi Mati Otak

Apa itu mati otak? Lantas, seperti apa ciri-ciri orang yang mengalami mati otak?

Klikdokter.com, Jakarta Otak merupakan salah satu organ penting di dalam tubuh Anda. Otak berfungsi mengatur kerja seluruh tubuh. Kondisi mati otak, atau dikenal dengan brain death, adalah hilangnya seluruh fungsi otak – termasuk batang otak – yang tidak dapat dikembalikan (ireversibel).

Pasien yang mengalami mati otak membutuhkan dukungan penanganan yang sama seperti pasien yang sakit kritis. Misalnya, dukungan obat untuk membantu kerja jantung, atau mesin ventilator untuk membantu sistem pernapasan. Tanpa dukungan tersebut, tubuh pasien yang mengalami mati otak tidak dapat menjalankan fungsi vitalnya sendiri, seperti bernapas atau jantung memompa darah.

Lantas, seperti apa ciri-ciri pasien yang mengalami mati otak?

Ada tiga ciri-ciri penting dari kondisi mati otak, yaitu koma, hilangnya reflex batang otak, dan apnea/henti nafas.

Pada keadaan koma, pasien kehilangan respons terhadap rangsangan yang diberikan. Dengan pemberian rangsang nyeri, pasien tidak dapat membuka mata (tidak ada eye response), tidak melakukan pergerakan (tidak ada movement response), dan tidak mengeluarkan suara (tidak ada verbal response).

Umumnya, penyebab dari koma ireversibel ini juga perlu dicari tahu. Beberapa penyebab yang mungkin menyebabkan koma ireversibel adalah cedera otak yang berat, perdarahan otak, iskemia otak, dan sebagainya.

Ciri kedua dari kondisi mati otak yaitu hilangnya refleks batang otak. Batang otak merupakan lanjutan dari otak manusia, dan penghubung antara otak dan saraf tulang belakang. Batang otak memiliki berbagai fungsi dasar, antara lain pengaturan kesadaran, kerja jantung, dan fungsi pernapasan.

Penilaian refleks batang otak dilakukan untuk menilai fungsi dari batang otak sendiri. Berbagai macam hal yang dapat dinilai, antara lain:

  • refleks cahaya (seharusnya pupil mata mengecil apabila disinari cahaya)
  • refleks kornea (seharusnya ada pergerakan kelopak mata saat kornea mata disentuh dengan kapas)
  • refleks batuk dan muntah
  • pergerakan bola mata setelah liang telinga dialiri air dingin

Kemudian, ciri ketiga dari kondisi mati otak yaitu apnea/napas berhenti. Untuk menilai usaha napas dari pasien, dapat dilakukan tes apnea. Jika pasien dilepaskan dari alat bantu nafas (ventilator), maka perlu dinilai apakah ia memiliki usaha napas sendiri. Hal ini dapat dilihat dari adanya pergerakan dada atau perut, ataupun hasil pemeriksaan analisis gas darah. Jika pasien tidak memiliki usaha napas, maka dikatakan tes apnea positif, atau dalam arti menunjang diagnosis mati otak.

Jika kriteria di atas sudah terpenuhi, dapat dilakukan observasi kembali terhadap pasien selama enam jam. Setelah itu, umumnya pemeriksaan akan dilakukan kembali. Jika hasilnya masih sama, maka pasien akan dinyatakan mati otak atau mengalami brain death. Seseorang yang sudah dinyatakan mati otak dapat dianggap sudah meninggal, baik secara klinis maupun legal.

[BA/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar