Sukses

Perjuangan Dr.Tjipto Mangoenkoesoemo di Hari Dokter Nasional

Tidak hanya berjuang lewat jalur kesehatan, Dr Tjipto Mangoenkoesomo juga berjuang lewat jalur politik.

Klikdokter.com, Jakarta Nama Dr.Tjipto Mangoenkoesoemo banyak dikenal masyarakat luas lantaran diabadikan sebagai nama sebuah rumah sakit di Jakarta. Lahir pada tahun 1883, Tjipto Mangoenkoesoemo merupakan salah seorang pejuang pergerakan nasional yang membuat pemerintah kolonial Belanda jengah.

Tjipto adalah seorang dokter lulusan STOVIA, sekolah dokter Jawa di Batavia yang kini menjelma menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tidak mengherankan jika namanya diabadikan sebagai salah satu rumah sakit terkemuka di Jakarta.

Pada tahun 1912, Tjipto bersama Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat mendirikan Indische Partij (IP). Selain itu, ‘Tiga Serangkai’ ini juga menerbitkan surat kabar De Express sebagai media propaganda IP. De Express menjadi salah satu senjata utama Tjipto dan kawan-kawan dalam melancarkan perlawanannya terhadap rezim kolonial Hindia Belanda.

Tulisan-tulisannya yang dimuat di De Express membuat pemerintah Belanda geram. Hal ini membuat Tjipto dipecat dari dokter pemerintahan. Meski tak lagi menjabat sebagai dokter pemerintahan, pria kelahiran Pecangakan, Ambarawa ini justru menorehkan prestasi yang cemerlang.

Ia ikut berkontribusi menyelamatkan rakyat dari wabah pes yang melanda Kepanjen, Malang, Jawa Timur. Pes sendiri disebabkan oleh enterobakteria yersinia pestis, yang ditularkan dari tikus.

Selain itu, Dewan Hindia (Raad van Nederlandsch Indie) menyarankan kepada Gubernur Jenderal agar Tjipto Mangoenkoesoemo diasingkan ke suatu daerah yang dominan penduduknya tidak bisa berbahasa Jawa. Pasalnya, pesona Tjipto dikenal mampu menggerakkan semangat rakyat dengan bahasa Jawa.

Tjipto sempat rehat sejenak dari ranah pergerakan lantaran statusnya sebagai orang buangan sangat dibatasi oleh aturan kolonial. Selama beberapa tahun, ia menjalani profesinya sebagai dokter dan keluar-masuk kampung untuk mengobati warga yang membutuhkan pertolongannya.

Pada 19 Desember 1927, pemerintah kolonial memutuskan Tjipto dibuang ke Banda, Kepulauan Maluku. Dari Banda, ia dipindahkan ke Bali, kemudian ke Makassar, lalu diungsikan lagi ke Sukabumi, Jawa Barat.

Seringnya berpindah tempat selama belasan tahun membuat penyakit asma yang sejak lama diderita Tjipto kian parah. Pada 8 Maret 1943 dia mengembuskan napas terakhirnya saat Indonesia belum merdeka.

Perjuangan dan kegigihan Dr.Tjipto Mangoenkoesoemo jelas patut diapresiasi. Nama dan jasanya akan terus dikenang sampai kapan pun oleh masyarakat Indonesia.

Memperingati Hari Dokter Nasional, perjuangan dan kegigihan Dr.Tjipto Mangoenkoesoemo bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi para dokter di Indonesia untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi sesama. Selamat Hari Dokter Nasional.

[DA/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar