Sukses

Kenali Hiperhidrosis, Gangguan Keringat Berlebihan

Jika sering mengalami keringat berlebihan, Anda mungkin mengidap gangguan hiperhidrosis. Berikut ini penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Dalam kondisi normal, tubuh manusia akan mengalami keringat berlebihan saat keadaan panik, gugup, atau di udara panas. Namun jika memiliki kondisi keringat berlebihan yang tidak berkaitan dengan aktivitas fisik atau udara yang panas, Anda mungkin menderita hiperhidrosis.

Tak mengancam jiwa, tapi bikin malu

Hiperhidrosis dapat terjadi di seluruh bagian tubuh. Namun ada beberapa lokasi di tubuh yang sering mengalami keringat berlebihan seperti daerah telapak tangan, ketiak, dan telapak kaki.

Penyebab hiperhidrosis dibedakan menjadi dua, yaitu hiperhidrosis primer dan hiperhidrosis sekunder. Hiperhidrosis primer tidak diketahui penyebab utamanya. Kondisi ini diduga berkaitan dengan faktor genetika serta sistem saraf simpatik. Jika berkaitan dengan sistem saraf, lokasi hiperhidrosis biasanya hanya di area tertentu saja, tidak di seluruh badan.

Sementara itu, hiperhidrosis sekunder dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi, obat-obatan, kehamilan, diabetes, obesitas, tumor, trauma kepala, menopause, hipertiroid, dan serangan jantung.

Pada umumnya, hiperhidrosis tidak mengancam jiwa. Meskipun demikian, kondisi ini tentu sangat mengganggu, karena bisa memengaruhi kualitas hidup Anda. Ketika Anda mengalami hiperhidrosis biasanya muncul perasaan gelisah, malu, bahkan depresi. Selain itu, juga dapat mengganggu performa Anda saat bekerja.

Penanganan hiperhidrosis

Gejala hiperhidrosis biasanya menetap minimal selama satu minggu. Hal ini yang membuat penderita menjadi tidak nyaman dan berkonsultasi lebih lanjut ke dokter.

Saat berkunjung ke dokter, Anda akan diwawancarai secara medis terkait keluhan yang dirasakan, riwayat penyakit, dan penggunaan obat-obatan. Setelah itu, dokter akan memeriksa fisik Anda secara menyeluruh. Bila diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah.

Tes keringat juga dapat menjadi bagian pemeriksaan penunjang untuk mengetahui tingkat keparahan hiperhidrosis. Tes yang biasa dilakukan adalah Iodine-starch test, tes thermoregulatory sweat, dan tes konduksi kulit.

Jika Anda dinyatakan menderita hiperhidrosis, dokter akan menyarankan beberapa opsi penanganan sebagai berikut:

  • Antiperspiran. Pemberian antiperspiran yang memiliki kandungan aluminum chloride.
  • Suntikan Botulinum Toxin (Botox). Cara kerja botulinum toxin ini dapat menghambat saraf yang menghasilkan kelenjar keringat.
  • Obat Antikolinergik. Obat ini berfungsi untuk mengurangi produksi keringat.
  • Obat Antidepresan. Obat ini terkadang digunakan untuk mengurangi produksi keringat.
  • Operasi. Tindakan operasi ini dilakukan dengan mengangkat kelenjar keringat atau memotong saraf yang mengontrol kelenjar keringat tersebut.

Selain beberapa tindakan di atas, Anda juga sebaiknya mengubah gaya hidup dengan mengurangi asupan makanan yang dapat memicu keringat bertambah.

Gaya hidup yang dianjurkan untuk mengatasi hiperhidrosis yaitu mengurangi makanan pedas dan menggunakan pakaian dengan bahan yang menyerap keringat. Anda juga perlu lebih sering mengganti pakaian untuk menghindari infeksi bakteri di kulit karena kelembapan yang tinggi akibat produksi keringat berlebihan.

Setelah mengetahui paparan tentang hiperhidrosis di atas, Anda bisa menilai apakah produksi keringat berlebihan yang Anda alami wajar atau tidak. Jika mengalami ciri-ciri hiperhidrosis di atas, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

[BA/ RVS]

1 Komentar