Sukses

Pro-Kontra Haram-Halal di Era Kedokteran Modern

Polemik halal-haram perspektif Islam dalam berbagai aspek ilmu kedokteran masih dirasa menghambat performa pelayanan kedokteran di era modern di Indonesia

Klikdokter.com. Polemik halal-haram perspektif Islam dalam berbagai aspek ilmu kedokteran masih dirasa menghambat performa pelayanan kedokteran di era modern di Indonesia. Di lain sisi, teknologi kedokteran dalam perkembangannya masih terus memberikan inovasi-inovasi baru yang berpotensi menimbulkan polemik baru.

Namun sebagian besar pelaku kedokteran modern muslim dewasa ini justru menganggap kondisi polemik yang ada menjadi sebuah tantangan untuk menjembatani pengenalan aspek-aspek syariah dalam bersinergi dengan praktik ilmu kedokteran sehari-hari.

"Bagaimana peran dokter muslim dalam era kedokteran modern ini adalah bertujuan untuk meningkatkan kinerja dokter, bagaimana tantangan kita melakukan sedikitnya terbagi menjadi dua hal, antara lain; pendekatan yang manusiawi dalam pengobatan, dan menegakkan 'evidence-based medication," ungkap Prof. Dr. dr. Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM, dalam kesempatan mengisi materi wicara di Seminar Meningkatkan Kinerja Dokter Dalam Era Kedokteran Modern: Peran Dokter Muslim.

Polemik bayi tabung, euthanasia, vaksin haji meningitis, heparin serta polemik pro-kontra lainnya yang populer di Indonesia merupakan tantangan peran dokter muslim dalam era kedokteran modern untuk dijembatani dengan aspek-aspek etika dan keagamaan yang ada. Walau disamping itu, banyak norma ketentuan agama yang dianggap konservatif dimana konvergensi dengan era kedokteran modern.

"Sejatinya banyak dari aspek keagamaan yang berkonvergensi dalam kedokteran modern, contohnya sirkumsisi. Penelitian akhir memberikan hasil bahwa sunat dapat menurunkan risiko penularan HIV sebanyak 60%. Hal ini sudah diaplikasikan pada hampir semua penduduk pria di Filipina dan terbukti prevalensi menjadi HIV 1/40 dengan negara Thailand, padahal volume industri seks kedua negara sama besarnya," kemuka Prof. Zubairi dalam acara seminar yang diadakan di Ruang Kuliah Ilmu Penyakit Dalam (RKPD) FKUI-RSCM (16/04).

Peran dokter muslim berikut atribut tujuan profesinya dan sumpah dokter mengemban harapan besar dalam menengahkan nilai keagamaan yang menjunjung tinggi etika dan moral keseluruhan. Dengan demikian peningkatan mutu kinerja dokter tidak hanya berhasil ditingkatkan, namun juga sebagai sarana ibadah sekaligus.[](DA)

    0 Komentar

    Belum ada komentar