Sukses

Waspada, Anak Gemuk Tidak Selalu Sehat

Anak gemuk kerap dianggap sehat, lucu, dan menggemaskan. Padahal, anak gemuk tidak selalu sehat, lho! Mengapa demikian? Simak selengkapnya berikut ini.

Anak gemuk kerap dianggap lucu dan menggemaskan, sehingga sering dijadikan sebagai parameter keberhasilan orangtua dalam membesarkan anaknya. Anggapan yang sebenarnya salah kaprah ini justru dapat membuat anak berisiko menderita berbagai masalah kesehatan di kemudian hari.

Data yang dimiliki Center for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa angka kegemukan atau obesitas pada anak meningkat lebih dari dua kali lipat dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Angka ini dapat menjadi alarm khusus sebagai peringatan peningkatan gangguan kesehatan dalam tahun-tahun mendatang, ketika Si Kecil beranjak dewasa.

Apa itu kegemukan?

Kegemukan atau obesitas didefinisikan sebagai kondisi di mana berat badan, menurut tinggi badan, anak berada pada garis +3 atau lebih di grafik pertumbuhan World Health Organization (WHO). Grafik ini merupakan grafik yang biasanya digunakan untuk memantau perkembangan anak ketika datang ke dokter atau posyandu untuk kontrol rutin atau imunisasi.

Dokter atau tenaga kesehatan lain umumnya akan menyarankan program penurunan berat badan bila anak diketahui memiliki berat badan yang sudah lebih dari standar WHO.

Mengapa kegemukan pada anak dapat menjadi ancaman kesehatan?

Anak yang berat badannya jauh di atas standar (obesitas) memiliki berbagai potensi gangguan kesehatan di kemudian hari. Gangguan kesehatan yang dapat terjadi, yakni:

  • Peningkatan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah

Peningkatan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah tidak hanya terjadi pada orang dewasa. Gangguan ini juga berpotensi mengancam kesehatan anak bila obesitas terus dibiarkan. 

  • Peningkatan risiko prediabetes

Kondisi ini merupakan suatu kondisi tingginya kadar gula darah, yang dapat memicu terjadinya diabetes saat anak beranjak dewasa.

  • Penyakit lainnya

Anak-anak dan dewasa yang mengalami obesitas berisiko tinggi terkena penyakit sendi dan tulang, gangguan tidur, dan masalah sosial – misalnya rasa tidak percaya diri.

  • Meningkatkan risiko kanker di kemudian hari

Obesitas pada usia anak akan berisiko terbawa hingga dewasa. Bila kondisi ini terus berlangsung, obesitas dapat meningkatkan risiko berbagai jenis kanker – seperti kanker payudara, kolon, esofagus, ginjal, pankreas, tiroid, indung telur, rahim dan prostat.

Untuk mencegah anak menjadi obesitas haruslah dimulai sedini mungkin dengan menerapkan pola hidup yang sehat. Pola hidup sehat yang dimaksud meliputi pemberian ASI hingga usia 2 tahun, memberikan makanan yang seimbang gizi dan kalorinya, mengurangi camilan dan makanan manis. Selain itu, memperbanyak aktivitas fisik dengan berlari, bersepeda, berenang, senam dan permainan lain yang banyak menggunakan gerakan motorik atau aerobik, serta membatasi waktu menonton televisi dan penggunaan media elektronik hanya sebanyak 1-2 jam/hari.

0 Komentar

Belum ada komentar