Sukses

Jamu di Mata Dunia Medis

Jamu merupakan minuman tradisional yang dikonsumsi secara turun-temurun karena diyakini memiliki efek yang baik bagi kesehatan. Namun sebenarnya, bagaimana jamu jika dilihat dari dunia medis? Berikut ulasannya.

Jamu merupakan suatu minuman yang sangat populer dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia terkait efeknya untuk kesehatan. Sebagian besar dari Anda mungkin pernah mengonsumsi jamu dengan harapan mendapatkan manfaat kesehatan bagi tubuh.

Akan tetapi, benarkah konsumsi jamu benar-benar dapat bermanfaat bagi kesehatan? Sebenarnya, bagaimana jamu jika dilihat dari pandangan dunia medis?

Jamu adalah ramuan yang terdiri dari bahan-bahan alami, seperti bagian dari tumbuhan, daun-daunan, kulit batang tumbuhan, dan buah-buahan. Sebutan jamu digunakan oleh orang-orang dari suku Jawa untuk menjelaskan obat herbal tradisional yang dapat digunakan untuk mengobati beberapa penyakit dan telah dipercaya oleh masyarakat secara turun-temurun mempunyai khasiat yang baik bagi kesehatan.

Perlu Anda ketahui, di dalam dunia kedokteran dan farmasi, obat-obatan tradisional terbagi menjadi 3 golongan, yakni:

  • Jamu

Jamu adalah sediaan bahan alam yang khasiatnya belum dibuktikan secara ilmiah. Khasiat tersebut dipercaya oleh orang berdasarkan pengalaman saja. Bahan baku yang digunakan dalam sediaan jamu belum mengalami standardisasi karena masih menggunakan seluruh bagian tanaman. Jamu disajikan secara tradisional dalam bentuk seduhan, pil, atau cairan. Umumnya, obat tradisional ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur.

  • Obat Herbal Terstandar (OHT)

Obat Herbal Terstandar (OHT) adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah distandardisasi. Uji praklinik dilakukan melalui uji khasiat dan manfaat pada hewan. Selain itu, bahan bakunya juga telah distandardisasi untuk menjaga konsistensi kualitas produknya.

  • Fitofarmaka

Fitofarmaka merupakan sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik. Selain itu, bahan baku dan produk jadinya juga telah distandardisasi. Di dalam dunia kedokteran, salah satu syarat agar suatu calon obat dapat dipakai dalam praktek kedokteran dan pelayanan kesehatan formal (fitofarmaka) adalah jika bahan baku tersebut terbukti aman dan memberikan manfaat secara klinis.

Jadi, di dalam dunia kedokteran, memang ada beberapa jenis obat yang berasal dari bahan herbal dan bisa digunakan asalkan sudah melewati uji standarisasi, praklinik, dan klinik sehingga bisa dipertanggungjawabkan mengenai khasiat dan cara kerja penyembuhannya. Sebagai contoh, ada beberapa obat golongan fitofarmaka yang menggunakan bahan baku seledri dan kumis kucing yang sudah digunakan untuk pengobatan medis karena sudah teruji manfaatnya melalui uji klinis.

Oleh karena itu, ada baiknya jika Anda lebih cermat dan teliti dalam mengonsumsi jenis obat-obatan tradisional. Dan Anda disarankan untuk tidak sembarangan mengonsumsi obat-obatan tradisional yang belum teruji secara klinis karena mungkin bahan tersebut belum terstandardisasi dengan benar sehingga bisa saja berdampak buruk bagi kesehatan.

0 Komentar

Belum ada komentar