Sukses

Bagaimana Jika Anak Suka Berbohong?

Tentu Anda tidak ingin anak Anda memiliki kebiasaan berbohong. Tapi sebelum memarahinya, ketahuilah alasan di baliknya berikut cara mengatasinya.

“Kirana mecahin vas bunga Mama, ya?”

“Nggak, bukan aku, Ma!”

“Tapi yang dari tadi main di sana kan hanya kamu.”

Skenario di atas pasti sering terjadi di rumah tangga kita. Ketika menginjak usia tiga tahun, anak mulai memiliki kemampuan untuk “tidak mengatakan hal yang sebenarnya”.  Apa yang akan Anda lakukan? Anda mungkin terkejut dan tidak menyangka anak akan berbohong kepada orangtuanya.

Jangan serta-merta memarahinya, Bunda. Anak tidak bermaksud untuk menipu Anda, tetapi ia hanya berusaha untuk selalu terlihat baik di mata Anda. Dalam benak anak kecil tertanam konsep bahwa ia harus selalu dapat menyenangkan Anda. Maka ketika ia berbuat kesalahan, ia akan otomatis mengusahakan cara agar dapat menutupi hal tersebut. Mengatakan hal yang bukan kebenaran pun diharapkan dapat menghindarkannya dari konsekuensi atas perbuatannya itu.

Mengatakan kebohongan juga dapat disebabkan karena anak kecil belum mampu membedakan kenyataan dengan fantasinya. Ketika anak Anda melihat temannya memiliki boneka baru yang diinginkannya, ia dapat serta-merta mengatakan bahwa ia juga sudah dibelikan boneka yang sama, meskipun sebenarnya ia tidak memilikinya.

Selain itu, memori anak bawah tiga tahun masih dalam proses perkembangan yang belum sempurna. Bisa saja seorang anak mengadu kepada ibunya bahwa temannya yang memulai pertengkaran, padahal sebenarnya ia yang memukul temannya duluan, tetapi ia tidak ingat.

Bagaimana Menyikapinya

Anda harus berhati-hati dalam bertindak, jangan langsung terbawa emosi dan memarahinya. Bisa-bisa ia akan terus berbohong di kemudian hari agar tidak dimarahi lagi oleh Anda. Bersikaplah tenang, katakan baik-baik kepadanya bahwa Anda akan sangat senang dan menghargai apabila ia mau berkata terus terang kepada Anda.

Setelah ia mau mengakuinya, konsekuensi atas perbuatannya itu harus tetap diberikan. Misalnya, setelah memecahkan vas bunga karena bermain bola di ruang tamu, maka untuk selanjutnya ia hanya boleh bermain bola di taman. Tentunya dengan diberi bekal pengertian mengapa ia tidak boleh lagi bermain di ruang tamu.

Sementara pada kasus boneka, jelaskanlah kepada anak Anda bahwa ia sebenarnya belum memiliki boneka yang sama dengan temannya, karena Anda belum membelikannya. Namun, Anda akan dengan senang hati membelikan boneka tersebut untuknya jika ia berkelakuan baik selama satu minggu penuh.

Bagaimana dengan perkara pertengkaran? Anda dapat membukakan kembali ingatan anak Anda, dengan mengilas balik peristiwa pertengkaran yang terjadi antara anak Anda dan temannya. Ingatkanlah dia, siapa yang sebenarnya memulai pertengkaran itu.

Hukuman yang mendidik boleh diberikan kepada anak yang sudah mengetahui peraturan yang diberikan sebelumnya. Misalnya, Anda sudah berpesan agar ia tidak mencoret-coret tembok kamarnya, tetapi ia tetap melakukannya.

Mencegah Anak Berbohong

Hindari bertanya tentang siapa yang memecahkan vas bunga. Anda dapat mengatakan bahwa Anda melihatnya melempar bola ke arah vas bunga yang menyebabkannya jatuh ke lantai, dan apa konsekuensi dari vas bunga yang sudah pecah tersebut. Jika anak Anda mau mengatakan hal yang sejujurnya, berikanlah pujian kepadanya dengan mengatakan bahwa Anda sangat senang ia mau mengatakan yang sebenarnya, dan bahwa hal itu adalah benar dan penting untuk dilakukan.

Anda sendiri pun harus menjadi teladan yang baik bagi anak. Jangan berbohong, apalagi menyuruhnya untuk berbohong bagi Anda. Dan pada akhirnya, yang terpenting adalah: percayalah kepada anak Anda. Tentu akan lebih mudah baginya untuk bersikap jujur jika ia merasa dipercaya oleh orangtuanya. 

0 Komentar

Belum ada komentar