Sukses

Gangguan Trauma Pascagempa dan Cara Menanganinya

Selain berdampak pada hancurnya berbagai infrastruktur dan perekonomian, gempa juga dapat mempengaruhi kesehatan fisik serta mental. Lalu, apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi trauma pascagempa ini?

Indonesia merupakan salah satu negara yang paling sering mengalami gempa bumi. Letak kepulauan Indonesia yang berada di perbatasan lempeng tektonik serta banyaknya gunung berapi di Indonesia membuat negara kita sangat sering diguncang gempa bumi.

Dalam beberapa tahun terakhir saja sudah banyak sekali gempa terjadi di negara kita, mulai dari gempa dan tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta, gempa di Padang, dan baru-baru ini gempa di Mentawai.

Gempa tidak hanya berdampak pada hancurnya berbagai infrastruktur dan perekonomian, namun gempa juga dapat mempengaruhi kesehatan. Banyak korban yang meninggal akibat gempa, sebagian lainnya mengalami luka-luka, dan sebagian lagi dapat mengalami gangguan trauma pascabencana.

Gangguan Trauma Pascabencana: Gejala dan Faktor

Gangguan trauma pascabencana merupakan sebuah kondisi gangguan kesehatan mental yang dipicu oleh sebuah kejadian mengerikan, seperti gempa bumi atau bencana lainnya, pembunuhan, dan kejadian mengerikan lainnya. Kejadian ini bisa merupakan kejadian yang dialami sendiri maupun kejadian yang disaksikan langsung oleh seseorang.

Gejala-gejala gangguan trauma pascabencana yang timbul, di antaranya:

  • Sering teringat atau terbayang kejadian yang memicu trauma tersebut.
  • Mengalami gangguan tidur dan sering memimpikan kejadian tersebut.
  • Kecemasan yang tidak dapat dihindari.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Mudah marah.

Gangguan trauma pascabencana merupakan salah satu gangguan psikologis yang paling sering terjadi pada anak, remaja, dewasa, bahkan pekerja medis yang terpapar pada bencana.

Sebuah penelitian di Cina menyebutkan bahwa setelah gempa melanda salah satu daerah di Cina pada tahun 2008, dalam bulan pertama 62.8% penduduk mengalami gangguan trauma pascabencana, dan setelah satu tahun 26.3% penduduk masih mengalami trauma.

Namun demikian, jumlah penduduk yang mengalami trauma akan semakin menurun dari tahun ke tahun. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya gangguan ini adalah:

  • Banyaknya harta kekayaan yang hilang/hancur akibat gempa.
  • Cedera pada tubuh.
  • Meninggal atau hilangnya salah satu anggota keluarga.
  • Kurangnya dukungan sosial.
  • Kurangnya pendidikan.

Dibandingkan dengan pria, ternyata wanita lebih rentan mengalami gangguan trauma pascabencana.

Penanganan Gangguan Trauma Pascabencana

Gangguan trauma pascabencana memiliki derajat gangguan yang berbeda-beda, mulai dari gangguan ringan hingga gangguan berat. Waspadai jika ada anggota keluarga, saudara, teman atau orang-orang terdekat Anda yang mengalami gejala-gejala di atas. Jika ada orang terdekat Anda yang mengalami gejala tersebut, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Penanganan yang akan dilakukan oleh dokter meliputi psikoterapi, terapi relaksasi, dan obat-obatan jika diperlukan. 

Sebuah penelitian menujukkan bahwa dukungan keluarga dan dukungan sosial sangat membantu untuk mencegah dan memperbaiki gejala yang dialami oleh orang-orang dengan gangguan trauma pascabencana. Oleh karena itu, jika ada orang-orang terdekat kita yang mengalami gejala tersebut, berikan dukungan dan rasa aman kepada mereka agar mereka tidak merasa sendiri dalam menghadapi musibah tersebut.

 

Sumber:

  • Hong C, Efferth T. Systematic Review on Post-Traumatic Stress Disorder Among Survivors of the Wenchuan Earthquake. Trauma, violence & abuse. 2015 May 31. PubMed PMID: 26028651.
  • Lopes AP, Macedo TF, Coutinho ES, Figueira I, Ventura PR. Systematic review of the efficacy of cognitive-behavior therapy related treatments for victims of natural disasters: a worldwide problem. PloS one. 2014;9(10):e109013. PubMed PMID: 25296020. Pubmed Central PMCID: 4189911.
  • Sezgin AU, Punamaki RL. Perceived Changes in Social Relations after Earthquake Trauma among Eastern Anatolian Women: Associated Factors and Mental Health Consequences. Stress and health: Journal of the International Society for the Investigation of Stress. 2014 Dec 16. PubMed PMID: 25516368. 

0 Komentar

Belum ada komentar