Sukses

Tes Pre-eklamsia Dini

Kondisi kehamilan beresiko akibat pre-eklamsia kini telah mampu di prediksi sedini mungkin sehingga dapat mencegah segala...

Klikdokter.com - Kondisi kehamilan beresiko akibat pre-eklamsia kini telah mampu di prediksi sedini mungkin sehingga  dapat mencegah segala komplikasi pada kesehatan ibu dan bayi. Penelitian ini di publikasikan dalam pertemuan tahunan the American Society of Nephrology terhadap 300 wanita, dikutip dari BBC News Health (12/11).

Meningkatnya tekanan darah dan kelebihan kadar protein dalam urin ibu hamil merupakan kondisi serius yang biasa disebut pre-eklamsia. Bila tidak dimonitor secara khusus oleh dokter ahli kandungan, ibu dan bayi bisa berada dalam keadaan bahaya yang mengancam jiwa keduanya. Untuk itu seringkali dokter menganjurkan agar anak segera dilahirkan apabila gejala pre-eklamsia terjadi di minggu-minggu akhir kehamilan, dan melarang segala aktifitas ibu hamil apabila pre-eklamsia terjadi di awal kehamilan agar dapat memperpanjang kehamilan hingga bayi dianggap cukup kuat untuk dilahirkan. Bahkan tidak jarang pre-eklamsia berlanjut hingga setelah kelahiran sebagai kondisi eklamsia yang juga mengancam jiwa.

Hingga kini penyebab pre-eklamsia masih sebatas kemungkinan dan hipotesis semata, tak ayal banyak para dokter belum dapat merawat ibu hamil dengan pre-eklamsia sebelum terjadinya gejala-gejala yang ditimbulkan yaitu pusing dan muntah berlebihan, turunnya kualitas penglihatan, nyeri perut bagian atas, volume urin yang berkurang, dan kenaikan berat badan yang terlalu cepat sekitar 2kg per minggu. Meskipun pre-eklamsia tidak dapat dicegah, namun kondisi ini mampu di kontrol dan ditangani dengan pemeriksaan teratur oleh dokter ahli.

Namun para peneliti di the Mayo Clinic berhasil menemukan cara mendeteksi gangguan kehamilan pre-eklamsia dilihat dari adanya sel ginjal, podocytes, pada air seni atau urin sebelum gejala gangguan ini muncul baik diawal maupun di akhir kehamilan. Dengan demikian hal ini mampu memperketat perhatian dokter pada ibu hamil yang sudah terdeteksi dalam menjalani proses kehamilan yang lebih aman dan terkontrol.

Di Indonesia sendiri, khususnya di kota Surabaya, kondisi pre-eklamsia dan klamsia masih menduduki 60% dari penyebab utama angka kematian saat kehamilan dan setelah kelahiran. Seperti dilansir oleh Dinas Kesehatan Kota Surabaya, data pre-eklamsia dan eklamsia tahun 2011 se Jawa Timur mencapai 114 kejadian per 110.000 kehamilan. Hal ini menjadikan pendeteksian preklamsia pada urin yang mengandung sel ginjal podocytes sangatlah penting dalam mencegah segala kemungkinan buruk bagi para ibu.[](E)

    0 Komentar

    Belum ada komentar