Sukses

Dokter Sekaligus Komandan Batalyon

Sosoknya yang gemar berseloroh membuat dirinya dikenal akrab di berbagai kalangan. Dibalik setiap canda pria kelahiran 68 tahun silam ini selalu tersimpan makna pesan yang bijaksana.

 

Sosoknya yang gemar berseloroh membuat dirinya dikenal akrab di berbagai kalangan. Dibalik setiap canda pria kelahiran 68 tahun silam ini selalu tersimpan makna pesan yang bijaksana.

“Saya ini dokter yang ngaco, Mas,” selorohnya merendah ketika dikomentari mengenai karirnya di institusi kepolisian RI yang menempati posisi strategis dan merangkap sekaligus sebagai pelaku kesehatan dokter.

Karena tidak semua orang bisa melakoni dua buah peran sekaligus seperti yang beliau jalani, dimana bisa dipastikan pada dua area tersebut (karir kepolisian dan kedokteran), diperlukan tuntutan ketotalan dedikasi serius pada masing-masing bidangnya.

Pun peminjaman istilah ‘ngaco’ yang beliau sampaikan pun semata bagian kegemarannya menyampaikan rasa humor. Meninjau jalan karir ganda beliau yang unik dan diluar kebiasaan orang pada umumnya, hingga dirinya pun merefleksikan tanggapan pertanyaan Klikdokter dengan seloroh sebuah anomali jenaka.

 

Bisa kita bayangkan bagaimana sulitnya membagi waktu, fokus pikiran, tenaga dan lainnya dalam menjalani tempo kesibukan dua area karir yang beliau geluti tersebut. Dan tidak main-main, total dedikasi dan keseriusannya dalam kedua bidang yang dijalaninya berbuah karir yang gemilang.

Diakui oleh dirinya pada awalnya tidak ada ketertarikan mendalam pada cita-cita ambisi Hardiman muda untuk menjalani dua buah bidang sekarang yang digelutinya.

Apa yang membuat Anda begitu tertarik hingga menjalani bidang hukum dan kesehatan secara serius di waktu yang sama?
Semuanya berjalan begitu saja. Yang penting bagaimana kita menyikapi semuanya. Pokoknya gampangnya, kita jangan pernah menutup diri untuk mau belajar, belajar itu bisa dari mana saja.

Tapi ya itu masalahnya, sering kita melihat dewasa ini orang tidak menjalani 4 tahap pembelajaran secara baik dan benar. Ketika orang belajar, orang itu akan mencapai tahap berikutnya yaitu mengerti apa yang dipelajari. Dan sedikit yang sadar, kalau seharusnya setelah timbul rasa mengerti, dibutuhkan rasa pemahaman untuk kemudiannya diaplikasikan atau diamalkan.

Nah, ini dia permasalahan-permasalahan yang ada dewasa ini, kegagalan komunikasi dokter kepada pasien, dekadensi stigma masyarakat terhadap dokter akibat maraknya kasus-kasus malpraktik.

Pokoknya jangan berhenti menganggap belajar itu baik. Jika seseorang menganggap belajar itu tidak baik, maka yang ada hanya sisa kebodohan, mengutip petuah Ki Hajar Dewantara; “Jadikan setiap orang guru, dan setiap tempat sebuah sekolah.”[](DA)

 

Irjen. Pol. (purn) dr. H. Hadiman, SpKO, SH, MBA, MSc

 

RIWAYAT HIDUP DATA PRIBADI
Nama:
Irjen. Pol. (purn) dr. H. Hadiman, SpKO, SH, MBA, MSc
Tanggal Lahir:
Batang, 1  Desember 1941
Istri :
Tri Heriyanti
Anak :
Gogo Hadiman
Yira Hadiman
Agni Hadiman
Galih Hadiman

RIWAYAT PENDIDIKAN
Lulus Pendidikan Dokter:
1965
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia.

Lulus Pendidikan Hukum:
Fakultas Huku,
Universitas Sumatra Utara Indonesia, Medan, Indonesia.

Lulus Pendidikan Spesialis Kedokteran:
Program Pendidikan Dokter
Spesialis Kesehatan Olahraga
Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia

Pendidikan Strata 2:
Manajemen

Pendidikan Strata 3:
Manajemen

RIWAYAT PEKERJAAN
Komandan Batalyon Ranger Brimob

Wakil Komandan Korps Brimob

Paban Operasi Mabes Polri

Kapolda Sumatera Utara

Komandan Koodinator Staf Ahli Kapolri

Anggota Dewan Riset Nasional RI

Rektir Universitas Bung Karno

Dosen Pasca Sarjana UI

 

0 Komentar

Belum ada komentar