Kesehatan Umum

Mengenal Nyamuk Wolbachia yang Bisa Cegah Penularan DBD

Siti Putri, 23 Nov 2023

Ditinjau oleh dr. Gia Pratama

Nyamuk Wolbachia dianggap bisa mengendalikan kasus demam berdarah dengue (DBD). Bagaimana cara kerjanya? Mari ketahui fakta-faktanya di sini.

Mengenal Nyamuk Wolbachia yang Bisa Cegah Penularan DBD

Hingga saat ini, penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia. Bahkan, pada akhir tahun 2022, jumlah kasus DBD di Indonesia mencapai 143 ribu. 

Untuk menurunkan penyebaran DBD, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memanfaatkan nyamuk Wolbachia untuk mengendalikan nyamuk Aedes aegypti penyebab demam berdarah dengue (DBD)

Lantas, apa itu nyamuk Wolbachia? Bagaimana cara kerja jenis nyamuk ini dalam memberantas DBD? Mari cari tahu selengkapnya lewat ulasan berikut ini. 

Apa Itu Nyamuk Wolbachia?

Untuk mengendalikan demam berdarah dengue, Kementerian Kesehatan RI mengembangkan inovasi baru dengan teknologi Wolbachia. 

Wolbachia sendiri merupakan bakteri yang bisa hidup hanya di dalam tubuh serangga, salah satunya adalah nyamuk. Bahkan, bakteri ini telah ditemukan secara alami di dalam tubuh nyamuk Aedes albopictus.

Menurut Peneliti Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Adi Utarini MSc, MPH, PhD, bakteri Wolbachia atau yang ada di dalam nyamuk bukanlah organisme hasil modifikasi genetik. Bakteri ini identik dengan organisme yang ditemukan di alam.

Pada dasarnya, Wolbachia memiliki sifat sebagai simbion atau tidak berdampak negatif pada inangnya. Bahkan, sebanyak 20 ilmuwan menyimpulkan bahwa efek risiko dari Wolbachia pada manusia atau lingkungan bisa diabaikan.

Oleh karenanya, jenis nyamuk yang satu ini tidak berbahaya dan tidak menginfeksi manusia. 

“Beberapa jenis Wolbachia bisa menyebabkan sterilisasi pada nyamuk. Ini menjadi alat kontrol populasi nyamuk yang menyebarkan penyakit demam berdarah. Nyamuk Wolbachia tidak berbahaya bagi kesehatan manusia,” tutur dr. Gia Pratama.

Cara Kerja Nyamuk Walbachia

Karena memiliki risiko dampak buruk yang rendah, Kementerian Kesehatan RI pun menggunakan teknologi Wolbachia untuk mengendalikan kasus DBD. 

Nyamuk jantan dan betina dari jenis Wolbachia, akan dilepaskan ke populasi alami. Nantinya, nyamuk betina akan kawin dengan nyamuk di sekitarnya, sehingga akan menghasilkan anak-anak nyamuk yang mengandung bakteri Wolbachia. 

Cara kerja nyamuk Wolbachia ini akan memblok replikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk. Dengan begitu, nyamuk yang mengandung bakteri Wolbachia tidak bisa menularkan virus dengue ketika mengisap darah manusia. 

Metode penyebaran nyamuk Wolbachia telah terbukti dapat mengurangi penyakit demam berdarah dan kebutuhan rawat inap bagi penderita DBD. Hal ini telah terbukti dengan dilakukannya uji coba nyamuk Wolbachia yang disebar di Yogyakarta pada 2022. 

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1341 tentang Penyelenggaraan Pilot Project Implementasi Wolbachia sebagai inovasi penanggulangan demam berdarah dengue (DBD), nyamuk Wolbachia akan dilepaskan di Jakarta Barat, Bandung, Semarang, Bontang, dan Kupang.

Efektivitas dari nyamuk Wolbachia untuk menurunkan DBD juga telah dibuktikan di 13 negara, yakni Australia, Colombia, Brazil, Sri Lanka, El Salvador, Honduras, Vietnam, Laos, Kiribati, Fiji, New Caledonia, Vanuatu, dan Meksiko. 

Dengan pelepasan nyamuk Wolbachia di wilayah perkotaan besar dengan penduduk yang padat, diharapkan dapat menurunkan kasus demam berdarah dengue (DBD). 

Yuk, #JagaSehatmu dengan lakukan gerakan 3M secara rutin, yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan memanfaatkan kembali barang bekas. 

Tak lupa, gunakan obat anti nyamuk dan secara bersama melakukan gotong royong untuk membersihkan lingkungan. 

Bila mengalami gejala DBD, seperti demam hingga 40 derajat celcius yang disertai dengan sakit kepala dan nyeri otot, segera pergi ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. 

Kamu juga bisa lakukan konsultasi dengan dokter secara online lewat layanan Tanya Dokter di aplikasi KlikDokter. 

(NM)

Konsultasi Dokter Terkait