HomeInfo SehatCovid-19Varian MU Asal Kolombia, Mutasi Corona yang Diawasi WHO
Covid-19

Varian MU Asal Kolombia, Mutasi Corona yang Diawasi WHO

Tri Yuniwati Lestari, 02 Sep 2021

Ditinjau oleh Tim Medis Klikdokter

Icon ShareBagikan
Icon Like

WHO mengimbau untuk waspada dengan COVID-19 varian Mu yang pertama kali ditemukan di Kolombia. Seberapa bahaya varian ini? Cari tahu selengkapnya di sini.

Varian MU Asal Kolombia, Mutasi Corona yang Diawasi WHO

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan para ahli terus melakukan pelacakan mutasi baru virus corona yang bermunculan. Kali ini dunia dihebohkan dengan varian baru bernama Mu.

Varian virus covid Mu pertama kali terdeteksi di Kolombia pada awal 2021. Seiring waktu, varian ini telah dilaporkan di beberapa bagian negara Amerika Selatan dan Eropa.

Mutasi virus corona tersebut telah diklasifikasikan WHO sebagai variant of interest (VoI). Seberapa berbahaya varian Mu? Apakah vaksin COVID-19 masih efektif melawan varian ini?

Artikel lainnya: Mengenal Virus Mutasi Lokal COVID-19 di Indonesia

Varian Mu, Mutasi Virus Corona Seperti Apa?

Varian Mu dikenal juga dengan nama varian B.1.621. Menurut WHO, varian Mu telah menyumbang kurang dari 0,1 persen dari semua infeksi COVID-19 skala global.

Sebenarnya, prevalensi (jumlah keseluruhan kasus) varian Mu secara global telah berkurang sejak pertama ditemukan. Namun, peningkatan prevalensi justru terjadi di Kolombia (39 persen) dan Ekuador (13 persen).

Melansir ABC News Australia, varian Mu dipandang sebagai masalah potensial yang lebih kecil dibanding strain Delta atau Alpha. Varian Delta dan Alpha merupakan jenis yang menjadi perhatian karena tingkat penyebaran yang tinggi.

Ahli penyakit menular dari Mater Health Services dan University of Queensland, Australia, Paul Griffin, mengatakan para ahli kesehatan terus-menerus mencari escape variant atau varian pelarian.

Escape variant dinilai lebih mudah menginfeksi orang yang divaksinasi melalui mutasi pada protein lonjakan virus. Paul Griffin berpendapat, sangat mungkin bila nantinya akan ada varian pelarian yang lebih berbahaya dari Delta.

Menurutnya, jika spike protein itu berubah signifikan, pasti ada kemungkinan efektivitas kinerja vaksin berkurang. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan dalam hal ini.

Sampai saat ini belum ada bukti yang menunjukkan varian Mu dapat ditetapkan sebagai varian pelarian.

Artikel lainnya: Diduga Kurangi Efektivitas Vaksin, Ketahui Virus Corona Eek

Varian Virus Corona yang Diawasi WHO

Sejauh ini ada sembilan mutasi virus corona yang masuk dalam pengawasan WHO. Kesembilan varian tersebut dibagi menjadi dua kelompok.

Mutasi virus dalam grup variant of interest (VoI) yaitu:

  1. Eta, pertama kali terdeteksi di beberapa negara pada Desember 2020
  2. Lota, pertama terdeteksi di Amerika Serikat pada November 2020
  3. Kappa, pertama ditemukan di India Oktober 2020
  4. Lambda, pertama ditemukan di Peru Desember 2020
  5. Mu, pertama kali terdeteksi di Kolombia pada Januari 2021

Mutasi virus corona dalam grup variant of concern (VoC) dinilai berpotensi memperburuk pandemi, yaitu:

  1. Alpha, pertama kali terdeteksi di Inggris pada September 2020
  2. Beta, pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada Mei 2020
  3. Gamma, pertama kali terdeteksi di Brasil pada November 2020
  4. Delta, pertama kali terdeteksi di India pada Oktober 2020

Para ahli menilai jumlah varian SARS-CoV-2 diperkirakan akan berubah seiring waktu. Karena, semakin banyak virus menyebar, maka semakin banyak pula peluang untuk terjadi mutasi.

Artikel lainnya: Mengenal Efektivitas Vaksin COVID-19 Johnson & Johnson

Bagaimana Efektivitas Vaksin terhadap Varian Mu?

Masuknya varian Mu dalam daftar variant of interest menunjukkan virus ini berpotensi lolos dari sistem kekebalan setelah vaksinasi. Risiko resistensi terhadap vaksin juga mungkin ada.

Dokter Arina Heidyana mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami potensi varian Mu terhadap vaksin yang sudah ada. Meskipun, data awal menunjukkan varian Mu tampak lebih resisten terhadap antibodi.

“Belum diketahui pasti apakah varian Mu kebal atau tidak terhadap vaksin, dan apakah vaksin yang sudah ada tetap bisa melawan varian tersebut. Karena, penelitiannya masih sebatas di lab, belum penelitian klinis,” jelas dr. Arina.

Dokter Arina mengatakan, saat ini cara terbaik untuk membatasi mutasi virus adalah membatasi penyebarannya. Salah satunya dengan cara vaksinasi.

Pasalnya, semakin banyak orang yang divaksinasi, maka semakin sedikit inang yang rentan di mana virus dapat hidup dan bermutasi. Selain vaksinasi, jangan lalai menjalankan protokol kesehatan.

Mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas penting dilakukan.

Ketahui info terbaru seputar virus corona di aplikasi Klikdokter. Anda juga bisa berkonsultasi seputar isu kesehatan lebih mudah lewat Live Chat dokter.

(FR/JKT)

virus coronainfeksi virusmutasi virus corona

Konsultasi Dokter Terkait