Tips Parenting

Perlukah Mainan Anak Laki-laki dan Perempuan Dibedakan?

HOTNIDA NOVITA SARY, 27 Agu 2020

Ditinjau Oleh Tim Medis Klikdokter

Barbie untuk anak perempuan, dan robot adalah mainan anak laki-laki. Anda termasuk yang menerapkannya? Sebenarnya, perlukah pembedaan mainan anak?

Perlukah Mainan Anak Laki-laki dan Perempuan Dibedakan?

Saat sedang menyusuri toko mainan, Anda akan dapat dengan mudah mengetahui mana lorong untuk mainan anak laki-laki dan mana untuk anak perempuan. Pembedanya cukup jelas, bukan?

Pistol-pistolan, mobil-mobilan, dan robot adalah milik anak laki-laki. Sementara mainan anak perempuan tak jauh dari boneka, peralatan memasak, atau benda-beda berwarna pink, ungu, dan baby blue.

Mengapa pembedaan mainan anak berdasarkan gender ini terjadi? Selanjutnya, apakah mengkotak-kotakkan mainan ini bisa berdampak bagi pertumbuhan anak?

1 dari 2

Mainan Dibagi Berdasarkan “Gender”?

Diferensiasi ini nyatanya sudah berlaku sejak si kecil baru lahir. Stigma baju merah muda hanya untuk anak perempuan, dan baju biru atau yang cenderung gelap untuk bayi laki-laki sudah disematkan. Pembedaan ini pun berlanjut pada mainan anak.

Judith Elaine Blakemore, profesor psikologi di Indiana University dan Purdue University, Amerika Serikat, pernah melakukan penelitian terkait ini.

“Kami mengidentifikasi lebih dari 100 mainan dan mengklasifikasikannya. Tujuannya ingin tahu seberapa banyak mainan dikaitkan dengan anak laki-laki, perempuan, atau tidak keduanya,” tutur Blakemore.

Blakemore lantas membagi mainan menjadi lima kategori, yaitu (1) sangat feminin, (2) cukup feminin, (3) netral, (4) cukup maskulin, dan (5) sangat maskulin.

“Kami menemukan mainan anak perempuan dikaitkan dengan daya tarik fisik, pengasuhan, dan keterampilan rumah tangga. Sedangkan mainan anak laki-laki dinilai sebagai kekerasan, persaingan, dan agak berbahaya,” Blakemore menjelaskan.

Mainan yang dinilai paling mungkin mendidik dan untuk mengembangkan keterampilan fisik, kognitif, artistik, dan lainnya anak-anak biasanya dikategorikan sebagai netral atau cukup maskulin. Misalnya, alat musik, buku, balok susun, dan peralatan mewarnai.

Artikel Lainnya: Perhatikan 4 Hal Ini Sebelum Memberi Anak Mainan Slime

Menanggapi hal tersebut, psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi menjelaskan, pembagian ini (feminin, maskulin, netral) sebenarnya memudahkan orang tua untuk memberikan mainan ke anak.

“Hanya saja, pembagian ini bisa jadi karena ada norma budaya. Contohnya, mainan mobil-mobilan itu hanya untuk laki. Padahal, perempuan boleh-boleh saja bermain mobil-mobilan,” ujar Ikhsan.

Menurut Ikhsan, faktor budaya ini bisa dibentuk dari lingkungan, yakni pengaruh teman, keluarga, iklan, termasuk media. Stigma ini pun terbawa hingga si anak besar, yang diterapkan lagi kepada anaknya kemudian.

Mengetahui bahwa mainan anak cenderung dipisahkan menurut gender, mana yang sebaiknya diberikan pada anak?

Blakemore menyarankan orang tua untuk memberikan si kecil mainan dengan tipe cukup maskulin, cukup feminin, dan netral.

“Mainan yang netral atau cukup maskulin/feminin dinilai paling mungkin untuk mengembangkan keterampilan fisik, kognitif, artistik anak. Sementara, mainan dengan tipe gender yang kuat kurang mendukung perkembangan optimal si kecil,” ujarnya.

Artikel Lainnya: Latih Kecerdasan Otak Anak dengan Permainan Puzzle

2 dari 2

Apa Kategorisasi Mainan Berpengaruh pada Tumbuh Kembang Anak?

Sayangnya, dikotomi semacam ini masih lazim ditemui. Misalnya, Barbie untuk anak perempuan, dan Hot Wheels untuk anak laki-laki. Padahal, poin terpentingnya adalah anak-anak suka bermain.

“Bermain adalah bagian penting di masa kanak-kanak. Aktivitas ini bagai jendela di dalam jiwa mereka,” kata Katie Hurley, psikoterapis anak dan remaja, serta penulis The Happy Kid Handbook.

Dia menambahkan, boneka, mobil, atau apa pun mainan yang Anda berikan bisa menjadi apa saja di dalam imajinasi mereka. Bahkan, truk bisa kehausan dan harus segera minum menurut anak-anak.

“Mainan hanyalah kendaraan anak untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan, serta belajar tentang dunia. Saat Anda mengotak-kotakkannya, bisa jadi Anda turut membatasi imajinasi anak,” kata Hurley.

Artikel Lainnya: 5 Alasan Mengapa Bunda Perlu Mengajak Anak Bermain di Luar

Psikolog Ikhsan menambahkan, diferensiasi mainan anak ini bisa jadi juga berpengaruh kepada tumbuh kembang anak.

“Misalnya, anak bisa jadi kurang menumbuhkan pemahaman tentang peran lawan jenis. Karena anak hanya memahami dari sisi mainan maskulin saja, atau sebaliknya hanya dari sisi feminism,” kata dia.

Dampak lainnya, Ikhsan menjelaskan, pemisahan mainan menurut gender ini bisa membuat stereotipe pada anak kalau perempuan itu lemah dan laki-laki itu kuat.

“Pengotak-otakan semacam ini juga bisa membatasi anak dalam mengeksplorasi ide-ide baru alias berpengaruh pada kreativitasnya kelak,” tutur Ikhsan.

Jangan lewatkan informasi seputar tumbuh kembang anak dan kebutuhan nutrisinya hanya di aplikasi Klikdokter.

(AYU/ARM)

Mainan Anak