Menu
KlikDokter
Icon Search
Icon LocationTambah Lokasi KamuIcon Arrow
HomeIbu Dan anakKesehatan AnakAnak Picky Eater Berisiko Gangguan Mental, Kok Bisa?
Kesehatan Anak

Anak Picky Eater Berisiko Gangguan Mental, Kok Bisa?

Iswan Saputro, M.Psi., Psikolog, 05 Feb 2023

Ditinjau oleh Iswan Saputro, M.Psi., Psikolog

Icon ShareBagikan
Icon Like

Picky eater tidak cuma membuat anak kurang nutrisi. Si kecil juga berisiko mengalami gangguan mental di kemudian hari. Bagaimana Bisa Terjadi?

Anak Picky Eater Berisiko Gangguan Mental, Kok Bisa?

Dalam mendukung tumbuh kembang anak, orang tua perlu mencukupi asupan nutrisinya. Sayang, tidak semua anak mau makan dengan lahap. Ia bisa sangat selektif dengan menu makanannya. Bahkan, si kecil bisa tantrum jika diberikan makanan yang tidak disukainya.

Kebiasan pilih-pilih makanan atau picky eater sendiri merupakan kondisi anak yang sering menolak atau enggan mencicipi makanan yang belum pernah dicoba atau tidak disukainya. Kondisi ini erat kaitannya dengan malnutrisi (kelebihan atau kekurangan gizi).

Anak dengan kondisi ini ditandai dengan membenci rasa tertentu dari makanan, lebih suka minum ketimbang makan, dan memuntahkan makanan. Ia cenderung memilih warna atau bentuk makanan tertentu dan enggan mengonsumsi makanan dengan tekstur tertentu.

Selain malnutrisi, anak yang picky eater juga berisiko mengalami gangguan mental di kemudian hari. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Picky Eater Pengaruhi Mental Anak

Akibat anak suka pilih-pilih makanan yang paling kentara adalah perubahan berat badan dan nafsu makan. Di samping itu, risiko gangguan mental juga dapat meningkat.

Anak picky eater yang tidak mendapat perhatian khusus dari orang tuanya, akan terpengaruh kontrol emosinya. Ketika ia tidak mendapatkan sesuatu yang disukai, ia bisa tantrum. Penolakan ini dapat membuat anak mudah marah.

Anak yang terus tantrum saat makan akan kesulitan mengendalikan diri ketika dihadapkan dengan penolakan atau pengabaian. Perilaku tantrum yang tidak terkendali berpotensi membuat anak perilaku membantah, membangkang, atau merusak.

Seiring bertambahnya usia, anak akan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Sayangnya, akibat kebiasan pilih-pilih makanan, anak akan kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. 

Anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi bisa mengalami kecemasan sosial. Di samping gangguan kecemasan, ia juga gampang stres dan berisiko mengalami depresi karena merasa kesulitan mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Apa yang Harus Orang Tua Lakukan?

Semua orang tua pasti memiliki harapan agar buah hatinya selalu sehat. Untuk itu, Mama dan Papa perlu menghadapi kondisi picky eater pada anak.

Memang dampak pilih-pilih makanan pada anak ini tidak selalu pasti terjadi. Risikonya bisa menurun jika anak mendapatkan perhatian khusus dan latihan bersama orangtuanya.

Kondisi picky eater dapat Mama dan Papa dimaknai sebagai cara anak dalam memilah mana yang disukai dan tidak disukai. Namun, bukan berarti anak tidak diberikan stimulasi yang beragam, terutama soal makanan.

Picky eater dapat menjadi penyebab gangguan mental pada anak, jika orang tua tidak memberikan stimulasi, meliputi rasa, tekstur, warna, dan aroma makanan.

Berikut ini tips menghadapi anak yang pilih-pilih makanan yang perlu orang tua lakukan.

1. Membuat Variasi Makanan

Memberikan variasi makanan secara perlahan dapat membantu anak beradaptasi dengan makanan baru. 

Mama dan Papa bisa menyajikan makanan beraneka bentuk, peralatan makan yang lucu, dan mengizinkan makan dengan tangannya sendiri.

2. Membangun Situasi yang Nyaman Saat Makan

Orangtua juga perlu memperhatikan tumbuh kembang psikologis anak dalam memberikan beragam stimulasi makanan. 

Membuat waktu makan menjadi menyenangkan pada anak usia prasekolah dapat meningkatkan nafsu makannya. Mama dan Papa bisa mengajak si kecil bercerita atau mengobrol di waktu makan. 

3. Jangan Memaksa

Proses adaptasi anak terhadap makanan akan lebih mudah ketika lingkungan memberikan rasa aman dan menyenangkan. Jika anak menolak terhadap makanan tertentu, jangan langsung memaksanya.

Paksaan orangtua agar anak makan makanan tertentu akan menguatkan penolakan dari anak. Jadi, Mama dan Papa perlu bersabar.

4. Mengajak Temannya Makan Bersama

Terakhir, Mama dan Papa bisa mencoba mengajak teman si kecil untuk makan bersama.  

Tindakan ini membantu anak meyakini bahwa makanan yang tidak disukainya bukanlah makanan yang buruk, karena temannya bisa memakannya tanpa gangguan. Cara ini juga bisa membuat waktu makan jadi lebih menyenangkan untuk si kecil.

Itulah benang merah antara kebiasaan picky eater pada anak dengan kesehatan mentalnya. Jika Mama dan Papa masih kesulitan menghadapi hal ini, jangan ragu untuk konsultasikan ke dokter anak atau psikolog anak.

Manfaatkan fitur Tanya Dokter di aplikasi KlikDokter untuk konsultasi lebih mudah. Sekaligus, dapatkan berbagai informasi seputar #JagaSehatmu dan tips parenting di aplikasi KlikDokter!

(APR/JKT)

Gangguan MentalTumbuh Kembang AnakDepresi

Konsultasi Dokter Terkait

Tanya Dokter