Sukses

Intoleransi Laktosa Bisa Sembuh?

Intoleransi laktosa membuat Si Kecil sulit mengonsumsi susu. Lalu, apakah bisa disembuhkan dan Si Kecil tetap bisa mendapat manfaat susu?

Klikdokter.com, Jakarta Pernahkah Anda mendengar istilah intoleransi laktosa? Intoleransi laktosa merupakan kondisi tubuh yang kekurangan enzim laktase, yaitu enzim yang sangat penting dalam proses pencernaan susu. Lantas, apa penyebabnya? Lalu, apakah bisa disembuhkan? Simak ulasannya berikut ini.

Intolerasi laktosa dapat dijumpai pada Si Kecil maupun orang dewasa. Namun, kasus penyakit ini jauh lebih sering terjadi pada Si Kecil karena biasanya lebih rutin dalam mengonsumsi susu dibanding orang dewasa. Tak mengherankan jika intoleransi laktosa kemudian menjadi salah satu masalah krusial dalam kesehatan Si Kecil.

Intoleransi laktosa dan gejalanya

Laktosa adalah salah satu jenis gula dimer yang terbentuk dari glukosa dan galaktosa, serta merupakan komposisi karbohidrat yang paling banyak terdapat susu. Itulah mengapa laktosa merupakan salah satu nutrien yang sangat penting untuk Si Kecil, karena susu merupakan sumber utama nutrisi pada bayi.

Untuk memecah laktosa agar dapat diserap dan digunakan sebagai energi, tubuh memerlukan enzim laktase. Enzim ini terutama terdapat pada ujung vili-vili usus.

Jika tubuh kekurangan enzim laktase, maka laktosa yang masuk ke tubuh akan mengalami fermentasi dan pembusukan oleh bakteri-bakteri usus. Proses fermentasi tersebut menghasilkan gas dalam saluran cerna yang bersifat asam.

Alhasil, kemudian muncullah beberapa gejala intoleransi laktosa yang berupa:

  • Kembung
  • Nyeri perut
  • Sering buang angin
  • Diare berbau asam
  • Muncul kemerahan di sekitar anus
1 dari 3 halaman

Jenis-jenis intoleransi laktosa

Intoleransi laktosa sendiri terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:

  1. Intoleransi lakotsa primer

Intoleransi laktosa primer biasanya terjadi setelah Si Kecil beranjak besar dan jarang mengonsumsi susu. Saat tidak sering mengonsumsi susu, enzim laktase di dalam usus akan berkurang secara perlahan.

Setelah enzim tersebut berkurang, usus tidak akan mampu mencerna laktosa lagi, sehingga terjadilah intoleransi laktosa. Kasus intoleransi laktosa primer sendiri lebih sering terjadi di Asia dibandingkan Eropa, karena penduduk Asia lebih sedikit mengonsumsi susu dibandingkan penduduk Eropa.

  1. Intoleransi laktosa sekunder

Intoleransi laktosa sekunder terjadi setelah Si Kecil mengalami masalah pada usus. Misalnya, Si Kecil yang baru selesai mengalami diare akut akibat infeksi virus, setelah operasi usus, infeksi saluran cerna, gizi buruk, dan penyakit lainnya.

Kondisi-kondisi tersebut dapat menyebabkan vili-vili usus rusak atau memendek, sehingga enzim laktase berkurang dan menyebabkan intoleransi laktosa yang bersifat sementara.

  1. Intoleransi laktosa bawaan

Intoleransi laktosa bawaan terjadi karena adanya kelainan genetik yang menyebabkan tubuh Si Kecil tidak atau hanya sedikit sekali memproduksi enzim laktase.

Hal tersebut menyebabkan Si Kecil mengalami intoleransi laktosa sejak bayi. Biasanya, Si Kecil yang mengalami intoleransi laktosa memiliki keluarga lain yang juga mengalami hal serupa.

2 dari 3 halaman

Apakah intoleransi laktosa bisa sembuh?

Sebagian jenis intoleransi laktosa bisa sembuh, terutama intoleransi laktosa sekunder. Penyembuhannya sendiri adalah dengan cara memperbaiki kondisi penyebab dasar penurunan kadar enzim laktase di usus. Misalnya penggunaan zink pada Si Kecil dengan diare akut akan memperbaiki vili usus, sehingga enzim laktase dapat diproduksi kembali.

Memperbaiki kondisi gizi buruk secara bertahap juga dapat meningkatkan vili usus dan memperbaiki kondisi intoleransi laktosa. Begitu pula proses penyembuhan operasi saluran cerna pada Si Kecil yang akan memperbaiki vili usus secara bertahap, sehingga intoleransi laktosa pun akan membaik secara bertahap.

Sementara itu, intoleransi laktosa primer lebih sulit disembuhkan karena memang merupakan kelainan bawaan. Namun, intoleransi laktosa primer dapat dikurangi dengan membiasakan kembali konsumsi susu secara bertahap dan rutin, sehingga tubuh bisa kembali memproduksi enzim laktase.

Susu yang dapat dikonsumsi Si Kecil dengan intoleransi laktosa

Pada Si Kecil yang mengalami intoleransi laktosa, pilihan susu yang bisa dikonsumsinya adalah susu rendah atau bebas laktosa. Jika yang diderita adalah intoleransi laktosa sekunder, pemberian susu bebas laktosa dapat diberikan sementara dan Si Kecil dapat minum susu biasa lagi setelah perbaikan kondisi tubuh.

Akan tetapi, pada Si Kecil yang mengalami intoleransi laktosa bawaan, pemberian susu bebas laktosa harus dilakukan sejak lahir hingga seterusnya. Namun, Bunda tak perlu khawatir jika hal tersebut akan mengganggu tambahan asupan nutrisi untuk Si Kecil. Susu kedelai yang bebas laktosa pun tetap memiliki berbagai kandungan yang sangat bermanfaat untuk pertumbuhan Si Kecil.

Contohnya adalah Morinaga Chil Kid dan Chil School Soya MoriCare+ Prodiges yang memiliki kualitas protein setara susu sapi. Di dalamnya terdapat nutrisi kolin, asam lemak esensial, AAL & AL (Alfa-Linolenat & Linoleat), dan zat besi untuk kecerdasan multi talenta; probiotik dan prebiotik FOS untuk pertahanan tubuh ganda; serta kombinasi vitamin D dan kalsium untuk tumbuh kembang optimal Si Kecil.

Susu pertumbuhan Morinaga Chil Kid dan Chil School Soya juga mengandung Probiotik Bifidobacterium Ganda (Bifidobacterium longum dan Bifidobacterium breve). Keduanya dapat membantu mengurangi gejala alergi yang muncul serta meningkatkan penyerapan nutrisi yang lebih baik.

Bifidobacterium longum, selain meningkatkan penyerapan nutrisi, juga membantu mencegah infeksi saluran napas. Adapun, Bifidobacterium breve bermanfaat untuk mencegah diare dan infeksi saluran cerna. Dengan Probiotik Bifidobacterium Ganda, saluran pencernaan Si Kecil dapat terjaga dengan baik.

Mulai sekarang, Bunda tak perlu khawatir lagi jika Si Kecil mengalami intoleransi laktosa. Dengan penanganan yang tepat, gangguan ini masih bisa diatasi. Selain itu, Si Kecil juga tetap bisa meraih manfaat maksimal susu dengan mengonsumsi susu bebas laktosa seperti susu kedelai.

[MS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar