Sukses

Kecerdasan Kinestetik Anak dan Cara Mengembangkannya

Anak dengan kecerdasan kinestetik tentu membutuhkan metode belajar yang ‘aktif’ seperti dirinya. Simak lebih lanjut di sini.

Setiap anak memiliki gaya belajar yang unik. Mereka memiliki metode yang berbeda-beda dalam mempelajari sesuatu, tergantung pada bagaimana cara mereka menyerap dan menyatukan berbagai informasi. Salah satu caranya adalah melalui gerak tubuh atau kinestetik atau biasa disebut mover

Umumnya, anak dengan kecerdasan kinestetik yang tinggi lebih mahir dalam bidang olahraga dan seni yang menggunakan gerak tubuh seperti menari atau berakting. Ia juga mahir menggunakan instrumen/objek sehingga cocok bila menjadi seorang mekanik, ahli bedah, atau dokter gigi. Jadi bagaimana cara mengembangkan kecerdasan kinestetik pada anak?  

Prinsip belajar: hands-on/active learning

Anak dengan kecerdasan kinestetik membutuhkan proses belajar melalui sentuhan, tindakan, gerakan dan aktivitas yang bersifat hands-on. Proses belajar yang pasif seperti duduk tenang mendengarkan atau mengamati membuat mereka cepat bosan. Mereka belajar melalui: (1) manipulasi objek dan benda-benda, (2) melakukan eksperimen dan tugas-tugas yang bersifat fisik, dan (3) menguasai suatu keterampilan melalui pengulangan (repetisi).

Beberapa contoh praktis

Berikut adalah beberapa cara untuk mengembangkan kecerdasan kinestetik pada anak:

  • Ajak anak untuk beraktivitas fisik. Minta anak meniru gerakan Anda. Aktivitas dapat berupa melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, membersihkan tempat tidur, atau olahraga. Setelah selesai, minta anak menceritakan yang dirasakan dan menjelaskan prosesnya.
  • Berikan ruang dan waktu untuk bergerak. Perdengarkan musik yang disukai anak dan mintalah untuk mengikuti irama musik tersebut. Letakkan barang-barang yang mudah rusak atau pecah di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan anak. Usahakan agar tidak banyak memberikan larangan.
  • Ajarkan konsep-konsep atau pengenalan objek melalui gerakan. Misalnya menjelaskan anggota tubuh dengan menunjuk atau memegangnya. Atau menjelaskan konsep ‘panjang’ dan ‘pendek’ dengan gerakan.
  • Bawa ke lingkungan atau tempat yang baru serta luas. Ketika liburan atau ada waktu luang, Anda dapat mengajak anak ke tempat yang memungkinkannya untuk bereksplorasi melalui gerakan atau memegang objek-objek di tempat tersebut, seperti di taman bermain, tempat olahraga, atau arena seni.
  • Rangsang anak melalui permainan yang membuatnya membangun atau memperbaiki sesuatu, misalnya membuat istana dari pasir atau lilin, bermain balok, melipat kertas, atau menambal barang yang rusak. Ini memungkinkan anak belajar lebih intensif dibanding sekadar melakukan atau menirukan sesuatu.
  • Bantu anak mengeksplorasi hobinya, seperti mendorongnya berpartisipasi dalam kompetisi olahraga atau seni pertunjukkan.

Sekarang, apakah Ayah dan Bunda siap untuk mempraktikkannya pada anak? Selamat mencoba!

[RS]

Baca Juga:

0 Komentar

Belum ada komentar