Sukses

Tanda dan Gejala Alergi yang Sering Salah Dipersepsikan

Beberapa pandangan masyarakat tentang alergi masih banyak yang keliru dan perlu diluruskan. Apa saja?

KlikDokter.com - Tidak semua bintik-bintik, ruam merah, atau gatal-gatal disebabkan oleh alergi. Sebaliknya, gejala alergi tidak hanya terjadi pada kulit, namun juga mempengaruhi sistem organ lainnya seperti pencernaan dan pernapasan. Berikut akan dikupas mengenai beberapa tanda dan gejala alergi yang sering membuat masyarakat salah mengerti:

Intoleransi laktosa tidak sama dengan alergi susu sapi

Intoleransi laktosa sering disamaartikan dengan alergi susu sapi. Padahal, kedua hal tersebut merupakan dua penyakit yang berbeda. Intoleransi laktosa adalah keadaan tubuh tidak dapat mencerna laktosa (gula dalam susu) dikarenakan kurang atau tidak adanya enzim laktase. Gejalanya memang mirip dengan alergi susu sapi, yakni perut kembung, mual, nyeri, dan diare.

Orang yang memiliki intoleransi laktosa masih dapat meminum susu sapi, namun harus memilih yang rendah atau bebas laktosa, tergantung derajat keparahan intoleransi laktosanya.

Sementara itu, alergi susu sapi adalah keadaan sistem kekebalan tubuh seseorang bereaksi negatif terhadap protein yang terdapat dalam susu sapi, di mana tubuh akan mengeluarkan antibodi untuk menyerang protein tersebut. Hal tersebutlah yang menimbulkan berbagai macam gejala alergi.

Alergi susu sapi melibatkan sistem kekebalan tubuh, sehingga dapat menyerang berbagai macam organ. Sementara itu, intoleransi laktosa hanya merupakan proses lokal di dalam sistem pencernaan. Gejala alergi susu sapi dapat terlihat pada kulit, pernapasan, dan pencernaan.

Ruam merah di pipi bayi karena terkena ASI

Orang-orang pada umumnya berpendapat bahwa ruam merah di pipi bayi terjadi karena ASI yang menempel dan lama tidak dikeringkan. Sebenarnya hal tersebut tidak semata-mata demikian. Di balik ruam merah tersebut, ada kemungkinan bahwa Si Kecil memiliki alergi terhadap makanan yang Anda konsumsi.

Misalkan Anda mengonsumsi keju sebelum menyusui Si Kecil. Esktrak keju tersebut akan dikeluarkan melalui ASI dan turut dikonsumsi oleh bayi Anda. Jika ia alergi susu sapi , maka akan timbul reaksi alergi susu sapi yang bermanifestasi – salah satunya terlihat di pipinya dalam bentuk ruam merah yang umumnya gatal.

Tidak hanya pada kulit, alergi susu sapi juga dapat menyebabkan gejala pencernaan seperti perut kembung, kolik, muntah, diare, dan lain-lain. Hanya saja, manifestasi pada setiap anak dapat berbeda-beda.

Miliaria bukan alergi

Miliria, atau disebut juga biang keringat, bukan disebabkan oleh reaksi alergi. Memang bentuknya yang berbintil-bintil, banyak, dan kadang kemerahan ini dapat menyerupai reaksi alergi. Namun sebenarnya, miliaria disebabkan oleh karena penyumbatan kelenjar keringat. Hal ini umumnya terjadi di daerah tropis, di mana kelembapan dan suhunya cukup tinggi.  

Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah hal ini adalah usahakan untuk membuat anak tetap dalam keadaan sejuk dan kering. Jika memungkinkan, Anda dapat memasang penyejuk ruangan. Penting untuk selalu mengeringkan keringat Si Kecil dan mengganti bajunya jika diperlukan.

Konstipasi dan muntah

Konstipasi dan muntah tidak hanya merupakan gejala infeksi saluran pencernaan, salah makan, atau kurang makan sayur dan buah. Kedua gejala tersebut – terutama jika sering dialami oleh si Kecil – bisa menjadi pertanda alergi susu sapi.

Jika segala cara dan pengobatan yang adekuat oleh dokter telah dilakukan, namun anak masih mengalami konstipasi dan muntah, Anda perlu curiga hal tersebut disebabkan oleh alergi susu sapi.

Cobalah memantang Si Kecil dari konsumsi susu dan segala produk turunannya. Jika Anda masih menyusui, Anda pun harus melakukan hal yang sama selama satu minggu. Jika gejala konstipasi dan muntah menghilang, cobalah untuk kembali memberikan susu. Jika gejala tersebut timbul kembali, berarti anak Anda benar memiliki alergi susu sapi.

0 Komentar

Belum ada komentar